08 Juli 2019

Pesan Arafah



Saudara kita yang berkesempatan melaksanakan Ibadah Haji akan melaksanakan puncak Ibadah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu pelaksanaan wukuf di ‘Arafah. Wukuf di Arafah merupakan puncak dari Ibadah Haji, bahkan Rasulullah menyatakan bahwa haji itulah wukuf di Arafah “Alhajju ‘Arafah”. “Haji adalah  (wukuf) di Arafah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga Saudara kita yang melaksanakan Ibadah Haji tahun ini menjadi Haji Mabrur. Wukuf di Arafah sebagai miniatur padang mahsyar memberikan pesan penting bagi kita dalam menjalankan kehidupan di dunia fana ini.


Dalam kajian fiqih, wukuf didenisikan berhenti di Arafah (nama tempat yang letaknya kurang lebih 20 km dari kota Mekkah) pada tanggal 9 Dzulhijah mulai tergelincir matahari hingga terbit fajar pada tanggal  10 Dzulhijah. Saat itu, lautan manusia berkumpul bermunajat kepada Allah mengharapkan keampunan dengan membaca amalan-amalan yang disunnatkan sesuai dengan petunjuk syariat. Lautan manusia saat wukuf merupakan miniatur Padang Mahsyar saat manusia menunggu mahkamah rabbul jalil mempertanggungjawabkan amalan mereka di dunia. Wukuf ‘Arafah menjadi cerminan lenyapnya egoisme manusia dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, manusia sama-sama menghadapkan diri pada pencipta Alam semestas yang menguasai jagad raya ini.

Salah satu penyebab rusaknya tatanan kehidupan dalam masyarakat adalah egoisme yang lahir dari berbagai dimensi dengan kelebihan yang dimiliki serta perbedaan yang selalu ditonjolkan, akibatnya ukhuwah (persaudaraan) menjadi renggang. Berkaitan dengan pentingnya persaudaraan Allah sebutkan dalam surat Al-Hujurat ayat 11 “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara mereka itu, dan takutlah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. Oleh karena itu, pelaksanaan wukuf Arafah hendaknya dapat memotivasi kita semua untuk saling menjaga persaudaraan sesama Muslim, bahwa tidak ada perbedaan pejabat dengan rakyat, kaya dan jelata, Arab atau ‘Ajam, yang menjadi perbedaan adalah kualitas ketaqwaan, demikian disebutkan Allah dan surat Al-Hujurat ayat 13. Berkenaan dengan itu pula, Rasulullah berpesan bahwa “”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati kalian” (HR. Muslim).

Dalam kenyataannya, berdasarkan berita dari berbagai media lokal baik cetak ataupun online tentang huru hara (konflik) yang terjadi di bumi Serambi Mekkah, konflik yang menelan korban manusia, bahkan sampai menghilangkan nyawa. Konflik yang terjadi kadang hanya karena persoalan sepele, tidak heran pula kadang yang terlibat adalah bersaudara. Ini menunjukkan bahwa nilai persaudaraan yang terbina dalam masyarakat kian pudar, nilai ukhuwah sebagai pondasi persatuan dan kesatuan telah ditinggalkan. ibarat pepatah ”gaseh ka u blang sayang ka u glee” (kasih-sayang telah hilang). Kita semua berharap bahwa konfilk yang terjadi dengan berbagai latarbelakang penyebabnya dapat segera berakhir, serta jalinan ukhuwah sebagai modal persatuan akan dapat terwujud dalam upaya menciptakan masyarakat Aceh yang tamadun.

Ketika Haji Wada’, Rasulullah menyampaikan khutbah fenomenal yang tercatat dalam sejarah sebagai khutbah ‘Arafah, Rasulullah berpesan “Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi”. Khutbah Rasulullah ini menjadi isyarah untuk menjaga persatuan dengan mengedapkan persaudaraan serta meninggalkan tradisi jahiliyah, yaitu saling dendam. Sebab dendam yang tersemat dalam hati manusia merupakan salah satu usaha syaitan dalam menghacurkan kehidupan manusia. Tidak hanya menjaga persatuan, Rasulullah juga berpesan tentang larangan membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain, kewajiban meninggalkan tradisi Jahiliyah, mewaspadai gangguan syaitan dan kewajiban menjaga Agama, larangan mengharamkan yang dihalalkan begitu sebaliknya, kewajiban memuliakan wanita (Isteri), kewajiban berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, dan menjaga persaudaraan.

Berkenaan dengan amal kebaikan, ketika tiba tanggal 9 Dzulhijjah bagi kita yang tidak berhaji dianjurkan untuk melakukan puasa yang disebut dengan puasa ‘Arafah, demikian diwasiatkan Rasulullah dalam sabdanya “Puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa ‘Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Selain berpuasa, umat Islam digalakkan memperbanyakkan amalan salih seperti solat sunat tahajud, bersedekah, membaca al-Quran dan menyeru kepada makruf dan mencegah kemungkaran. Perlu diinsafi bahawa setiap amalan yang dilakukan pada hari-hari berkenaan akan digandakan ganjaran pahalanya oleh Allah SWT.

Ibnu Abbas pernah menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, ”Tiada suatu hari pun amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Sahabat bertanya, “Adakah itu termasuk juga berjihad pada jalan Allah?” Jawab Baginda, “Tidak termasuk berjihad pada jalan Allah melainkan orang yang keluar dengan seluruh jiwa raganya dan tidak membawa pulang apa-apa pun”. (HR Bukhari) Dalam hadis lain, Rasulullah s.a.w. juga bersabda, “Tiada suatu hari pun dalam setahun yang amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Oleh itu, hendaklah kamu memperbanyakkan zikir, tahlil, takbir dan tahmid”. (HR Ahmad), bahkan dalam tradisi Dayah Aceh dilaksanakan suluk untuk jangka waktu sepuluh hari terhitung mulai tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. 

Sebagai miniatur kiamat, hendaknya wukuf di ‘Arafah dapat memberikan spirit bagi kita semua bahwa pemegang kekuasaan mutlak adalah Allah SWT, jangan pernah melawan sang khaliqul ‘Alam dengan segala kelebihan yang ada pada kita, baik itu berupa intelektual yang cerdas, harta yang melimpah dan jabatan tinggi yang kita sandang. Tetapi bagaimana mengelola kelebihan itu semua untuk menjadi amal kebaikan yang akan mengantarkan kita menjadi manusia kamil sebagai modal meraih tempat layak di sisi-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih