29 Juli 2015

Nafsu Mat Tampok

Memilih dan dipilih adalah hak setiap warga Negara yang dijamin dalam Undang-Undang, siapa pun yang ingin mencalonkan diri untuk dipilih asal memenuhi segala ketentuan yang berlaku dipersilahkan dan tidak ada yang melarang. Tulisan ini bukan untuk melarang siapa pun yang akan mencalonkan diri untuk maju pada pemilihan umum Kepala Daerah Tahun 2017, sebab itu adalah hak. Berkaitan dengan hak, sejatinya kita juga tidak melupakan kewajiban, terutama kewajiban jika nanti terpilih, dalam istilah sehari-hari masyarakat Aceh “asai hek na hak”. Semoga tulisan ini menjadi haba peuingat bagi siapa saja yang berniat mencalonkan diri. Terkhusus, tulisan ini juga menjadi haba peuingat bagi pasangan “ZIKIR” yang saat ini masih menjadi orang nomor wahid di Aceh, semoga hadih maja yang sering kita dengar akan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, hadih maja tersebut adalah “meunyoe na ingat seulamat” (jika berhati-hati akan selamat, Insya Allah).   
Syahdan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh bahwa jumlah penduduk miskin di Aceh pada Maret 2014 adalah 18.05 % (881.260 jiwa), sedangkan pada tahun 2013 sebesar 17.60 % (842.420 jiwa), tentunya ada kenaikan meskipun hanya sedikit. Pertanyaan besar akan muncul “mengapa kemiskinan terus meningkat padahal APBA Aceh lebih dari 13 Trilyun?”. Dalam bidang pendidikan, belum tanpa pula hasil yang menggembirakan yang mampu mengangkat derajat Aceh pada level Nasional, baik kualitas para siswa maupun tenaga pendidiknya.  Hal yang paling memilukan sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia bahwa 82 % Mahasiswa baru tidak bisa membaca Al-Qur’an, demikian disampaikan Rektor UNSYIAH (Selasa, 28/7/2015).
Beberapa fakta di atas menunjukkan ada sesuatu yang masih belum optimal diperankan oleh pemimpin kita, belum berperannya mereka dalam mengupayakan kemakmuran dan kesejahteraan serta peningkatan kualitas hidup bagi rakyat dipimpinnya, tentu akan banyak alasan yang dapat diberikan mengapa peran mereka belum optimal. Namun, kita tinggalkan saja alasan-alasan tersebut. Sebab, jika terus saja kita memburu mencari alasan akan banyak “kambing hitam” yang menjadi korban. Janganlah kita menjadi orang-orang yang disinggung dalam hadih maja “kameng glee pajoh jagong, kameng gampong keunong geulawa” (kambing gunung (liar) makan jagung, kambing kampung (jinak) yang terkena hukumannya). Semoga kita semua tidak saling menyalahkan satu sama lain, semua kita tentu memiliki “saham salah” dalam setiap tindakan yang mengakibatkan kemorosotan di Aceh.
Saya masih ingat bahwa ada 21 janji politik yang disampaikan Tim Kampanye "Zikir" dalam 55 kali kampanye pada 22 Maret 5 April 2012 di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Aceh. 21 janji tersebut adalah mewujudkan pemerintah Aceh yang bermartabat dan amanah, mengimplimentasikan dan menyelesaikan turunan UUPA, komit menjaga perdamain aceh sejalan dengan MoU Helsinki, Menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan isalm di semua sektor kehidupan masyarakat, meyantuni anak yatim dan kaum duafa, mengupayakan penambahan jumlah kuota haji Aceh, pemberangkatan jamaah haji dengan kapal pesiar, naik haji gratis bagi anak Aceh yang sudah akil balig, menginventarisir kekayan dan sumber daya alam Aceh, menata kembali sektor pertambangan di Aceh, menjadikan aceh layaknya Brunei Daeussalam dan Singapura, mewudkan layanan kesehatan garatis yang lebih bagus, mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri, pendidikan gratis dari sd hingga perguruan tinggi, memberikan Rp 1 juta/kk/bulan dari hasil dana migas, menggangkat honorer PNS, meningkatkan kesejateraan rakyat Aceh, membuka lapangan kerja baru, memberantas kemiskinan dan menurunkan angka pengangguran, mengajak kandidat lain untuk bersama-sama membagun Aceh. 
Saya yakin bahwa diantara 21 janji ini ada yang sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh, meskipun tidak sedikit pula yang belum terealisasikan. Mengapa 21 program tersebut harus direalisasikan? Jawabannya tentu karena program ini semua telah masuk dalam “janji”, Islam tidak main-main dengan perkara “janji”, Rasulullah mengingatkan bahwa seseorang akan berbalik namanya dari Muslim menjadi Munafik akibat mengabaikan janjinya (lihat sahih bukhari, hadis ke-33). Janji merupakan salah satu upaya untuk menambat hati, sehingga mengabaikan janji akan berakibat pada retaknya ukhuwah dan hilangnya kepercayaan.
Rasanya belumlah terlambat untuk berusaha merealisasikan janji janji yang telah disampaikan, masih ada waktu kurang lebih sekitar dua tahun lagi. Sisa dua tahun ini disamping menyiapkan perbekalan untuk memenuhi nafsu mat tampok juga diprioritaskan untuk mewujudkan semua program yang telah dijanjikan, setidaknya rakyat akan melihat bahwa “ZIKIR” memang berkomitmen untuk menunaikan janji-janjinya itu. Jika penilaian rakyat telah masuk dalam katagori “percaya” maka saya yakin kesempatan kedua akan terbuka di depan mata, begitu pula sebaliknya jika penilaian rakyat masuk dalam katagori “ingkar” maka kesempatan kedua hanya sebuah ilusi belaka.
Berkaitan dengan mengambil simpati rakyat, petuah hadih maja mengajarkan “meunyoe hate kateupeh bu leubeh han dipeutaba” (jika hati telah tersakiti maka makanan basi pun ogah diberikan). Jika hati rakyat telah tersakiti akibat janji yang tak kunjung ditepati maka apapun akan sulit rasanya menggalang ukhuwah untuk membangun kebersamaan dalam mewujudkan masyarakat yang tamaddun, apalagi pendidikan politik rakyat telah masuk dalam katagori “cerdas” sehingga mereka akan mampu menilai siapa yang layak dan berhak.
Saat saya mengaji alif ba tempo dulu guru ngaji saya berpesan bahwa mengaji itu jangan seperti panglima garot (maju ukeu tuwoe dilikot). Begitu pula hendaknya dengan “ZIKIR”, jangan hanya fokus mempersiapkan pesta 2017 dan melupakan kenyataan hari ini, kenyataan bahwa “ZIKIR” adalah orang nomor wahid yang diberikan tugas untuk menakhodai Aceh menuju dermaga bahagia di pulau impian yang katanya hendak disetarakan dengan Brunai Darussalam yang mampu memberangkat haji semua anak Negeri, konon lagi berangkatnya menggunakan kapal Pesiar.
Tulisan ini adalah goresan kesedihan hati melihat pemimpin Negeri yang kehilangan kendali, kendali dalam mengendalikan diri bahwa mereka diserahkan amanah untuk memakmurkan Negeri ini, bukan memperkaya diri atau memperkaya kelompok sendiri. Tulisan ini pula sebagai wujud kegundahan hati melihat pemimpin Negeri sebagai orang yang dipercayai (rakyat) telah mengabaikan janji, melupakan janji yang telah diutarakan sama artinya menjerumuskan diri dalam kemaksiatan (menjadi orang-orang munafik), dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tempat bagi orang-orang ini adalah di dasar neraka (Q.S An Nisa ayat 145).

Khatimah, kaidah ushul fiqh lisan al hal afsah min lisan al maqal (lisan hal lebih afsah dari lisan maqal), kaidah ini bermakna bahwa memberi bukti dengan kenyataan di lapangan akan lebih konkrit dibandingkan dengan hanya menebar janji. Untuk itu, jika pasangan “ZIKIR” ingin kembali menjadi orang nomor satu di Aceh tahun 2017 maka dari sekaranglah saatnya membuktikan bahwa layak kepemimpinan Aceh dilanjutkan satu periode lagi. Perlu diingat, untuk apa berjuang jika hanya untuk menyakiti rakyat, untuk apa berperang jika tanpa tujuan. Sekali lagi, haba peu ingat ini sejatinya menjadi renungan untuk mengoptimalkan diri dalam rangka menebar kemakmuran di bumi Serambi Mekkah yang kita cintai ini.

                                                                                                                        Banda Aceh, 27 Juli 2015 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih