29 Juli 2015

Komitmen Hidup; Belajar dari Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram merupakan salah satu rukun shalat, awal permulaan memasuki shalat sebagaimana definisi dari shalat itu sendiri, yaitu perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam lengkap dengan syarat dan rukunnya. Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibary dalam Fathul Mu’in menyebutkan bahwa Takbiratul ihram harus dilakukan bersamaan dengan niat (shalat), karena takbir adalah rukun shalat yang awal, maka wajib bersamaan dengan niat. Imam Nawawi dalam Kitab Raudhatut Thalibin menyebutkan bahwa diwajibkan memulai niat dengan hati bersamaan dengan takbir dengan lisan, Al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mahamiliy dalam kitab Al-Lubab fi al-Fiqh asy-Syafi'I menyebutkan bahwa niat bersamaan dengan takbir.

Niat shalat yang dilakukan bersamaan dengan Takbiratul ihram wajib memebuhi unsur – unsur qasad (menyengaja mengerjakan shalat), ta’radh (menyebutkan lafadh fardhu) dan ta’yin (menentukan waktu shalat). Ulama fiqih menjelaskan secara mendalam tentang kaifiyah (tatacara) pelaksanaan takbiratul Ihram, mereka membaginya dalam tiga kategori, pertama muqaranah kamaliyah yaitu saat melakukan Takbiratul ihram membayangkan pelaksanaan keseluruhan rukun-rukun shalat. Kedua, muqaranah bashtiyah dan ketiga muqaranah ‘Urufiyah. Setidaknya unsur qasad, ta’radh dan ta’yin masuk saat takbiratul Ihram.

Takbiratul ihram adalah takbir yang mengharamkan perbuatan selain perbuatan shalat, setelah takbiratul ihram dilaksanakan maka yang boleh dilakukan adalah perbuatan shalat, selain dari itu maka batal shalatnya. Takbiratul ihram memberikan pelajaran penting bagaimana menerapkan komitmen dalam hidup ini, komitmen yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar melakukan sesuatu sesuai dengan aturan yang telah diiqrarkan.

Dua kalimah syahadat telah kita iqrarkan, maka pantang melakukan hal-hal yang merusak komitmen kita sebagai muslim. Sebagai muslim sejati, pantang meninggalkan dunia kecuali mati sebagai muslim sejati, sebab komitmen muslim sejati adalah hidup mulia atau mati syahid. Komitmen hidup merupakan salah satu manivestasi keteguhan hati (istiqamah) dalam menjalani kehidupan, baik itu berbentuk kesenangan atau pun kemalangan. Keteguhan hati tidak akan pernah terwujud kecuali lahir dari pribadi-pribadi yang taqwa, pribadi yang selalu menjalankan perintah Allah serta meninggalkan larangan-Nya baik terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi.  

Setelah takbiratul ihram disunnatkan membaca do’a iftitah. Bacaan iftitah pernyataan komitmen seorang hamba kepada sang Khaliq, yaitu komitmen menghadapkan muka (sebagai salah satu anggota mulia) kepada Allah pencipta tujuh petala langit dan bumi. Jika muka sudah tunduk kepada Allah maka anggota lainnya pun akan tunduk, sebab muka adalah anggota mulia. Mengukur kecantikan dan kegantengan seseorang tentu dilihat pada wajahnya, ekspresi baik dan jahat hati seseorang akan tercermin dari wajahnya. Komitmen dalam menjalankan kehidupan ini perlu dipertahankan hingga ajal datang menjemput.


Kita telah menyatakan komitmen untuk hidup berumah tangga lewat aqad nikah, maka jangan pernah sekalipun mencorengnya dengan melakukan tindakan yang merusak komitmen itu seperti talaq atau dhihar (menyamakan anggota tubuh istri dengan mahram suami). Komitmen itu akan terlihat dari prilaku yang berupaya mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, selalu mencari keridhaan Allah dalam hidup berumah tangga, memposisikan diri sesuai dengan tanggungjawab dan kewajiban baik sebagai istri maupun suami. Salah satu penyebab rusaknya rumah tangga adalah karena masing-masing pihak (suami-istri) tidak mengetahui tugas dan kewajibannya (meubalek chap meutuka cok). Rumah tangga yang telah diamanahkan titipan Allah berupa anak, maka jagalah titipan itu dengan menuntunnya pada tempat yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Kita yang menempati posisi sebagai pimpinan masyarakat, maka komitmen untuk menjadi pengayom masyarakat sejatinya perlu dijaga dan dipertahankan. Menjadi pemimpin sejatinya menjadi pelayan bagi yang dipimpin, mendahulukan kepentingan mereka daripada kepentingan pribadi, berusaha mencari sesuatu yang mampu mendorong tumbuhnya kesejahteraan hidup mereka baik untuk menggapai kesuksesan dunia maupun akhirat. Jangan pernah merusak komitmen sebagai pemimpin dengan mengedepankan egoisme dan keangkuhan pribadi dan golongan pendukung, sebab pemimpin sejati selalu memahami dan mengerti bagaimana mencari solusi agar yang dipimpin selalu dalam lindungan Allah SWT. Sebenarnya, semua kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di mahkamah rabbul jalil tentang komitmen kepemimpinan kita itu. Kita memiliki harta, maka akan ditanya darimana harta itu diperoleh serta kemana dibelanjakannya, kita yang memiliki ilmu pengetahuan dan tenaga pasti akan ditanya kemana pergunakannya. Oleh sebab itu, berhati hati dalam menjalankan kehidupan dengan tetap teguh memegang komitmen adalah sebuah keniscayaan sebab manusia tidak memiliki apapun yang dapat dibanggakan di hadapan pencipta alam.

Dalam Al-Qur’an tepatnya dalam surat Al-Baqarah ayat 28 Allah menyindir manusia dengan firmannya “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudia kepada Allah kamu dikembalikan”. Sindiran Allah agar manusia tidak  kufur dalam menjalankan kehidupan ini, sebab manusia tidak memiliki kekuatan apapun. Oleh sebab itu, komitmen hidup untuk menjadi hamba Allah yang selalu taat akan aturan-aturan yang telah digariskan perlu dipertahankan dan dijaga dengan baik.

Komitmen hidup hanya mencari keridhaan Allah dengan menjalankan aturan-aturan syariat dimulai dari paradigma berpikir yang berorientasi akhirat. Jika paradigma berpikir masih bergantung pada selain Allah, baik berupa harta, tahta dan prestise maka akan menenggelamkan semangat untuk berjuang mencari keridhaan Allah. Dalam hidup ini, cobaan pasti tetap ada, apalagi memperjuangkan kebenaran di jalan Allah, Rasulullah telah menegaskan bahwa cobaan hidup yang paling berat dirasakan oleh para Rasul – Rasul, selanjutnya adalah mereka yang berjuang mengikuti jejak – jejak Rasul.

Sebagai manusia yang mendambakan kebahagiaan dunia-akhirat, komitmen pokok sebagai hamba Allah adalah menghambakan diri (ibadah) kepada sang pencipta, jangan mencoreng penghambaan diri kepada sang pencipta dengan fatamorgana dunia yang kadang berbentuk jabatan/kedudukan, harta kekayaan, dan popularitas. Komitmen sebagai hamba Allah perlu dipertahankan sebagaimana kita mempertahankan pelaksanaan shalat setelah dimulai dengan takbiratul ihram. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih