07 Juni 2014

Menuju Kemandirian Dayah



Dayah adalah lembaga pendidikan Keagamaan yang masih eksis di Aceh, dari tahun ke-tahun Dayah terus mengalami perkembangan dan pertembuhannya, terutama untuk menyikapi berbagai perubahan zaman yang mampu menurunkan eksistensinya sebagai institusi pendidikan pencetak kader Ulama. Pemerintah, pemerhati pendidikan dan kalangan dayah sendiri terus berupaya melakukan berbagai pembenahan dan pengembangan, salah satunya adalah menyediakan program life skill atau pendidikan ketrampilan bagi para santrinya. 

Melihat sejarah dengan mengkaji berbagai manuskrip yang masih bisa dirujuk sampai sekarang, diyakini dayah juga mengajarkan bidang ilmu pengetahuan tertentu sesuai dengan keahlian teungku chik. Di antara mereka ada yang ahli dalam ilmu falak, ilmu hisab, bahkan ahli dalam bidang ilmu tibb (kedokteran). Di samping itu, ada juga teungku chik yang cakap dalam ilmu bangunan, pertanian, irigasi dan lain-lain. Untuk memperdalam vak-vak khusus itu, sebagian teungku di balee belajar kepada teungku chik. Teungku chik pada umumnya, memperoleh keahliannya itu di luar negeri seperti di Mekah, Mesir, Turki, India dan negara-negara lainnya.

Seiring perkembangan zaman, berbagai tudingan miring yang kadang tidak beralasan sering dilontarkan kepada lembaga Pendidikan Dayah, salah satu paradigman yang berkembang adalah bahwa Dayah tidak memiliki prospek masa depan. Seiring perjalanan waktu paradigma ini terus berubah, kini Dayah menjadi institusi yang dilirik oleh orang tua dalam memilih lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Tudingan lain yang menjadi sorotan bagi Dayah adalah penyebutan, “Teungku Proposal”. Laqab ini kian dihembuskan dalam masyarakat, ini disebabkan karena banyaknya proposal yang ditujukan kepada lembaga Pemerintah yang berasal dari Dayah, meskipun instansi lain tidak kurang pula.  

Proposal yang masuk ke Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh pada tahun 2012 berjumlah 1.707 buah, tahun 2013 (periode Januari-Oktober) berjumlah 1.826 buah. Ditambah lagi proposal bantuan intensif guru sebanyak 1.074 buah pada tahun 2012 dan meningkat menjadi 2.129 buah pada tahun 2013, sementera jumlah proposal yang masuk ke Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh pada tahun 2013 berjumlah 60 buah. Banyaknya proposal yang masuk ke BPPD Aceh menunjukkan bahwa Dayah perlu perhatian serius dalam persoalan kemandirian, lemahnya kemandirian Dayah merupakan salah satu ancaman bagi eksistensinya, terutama dalam menjaga image building (citra) dalam masyarakat. Beberapa hal ini seyognya harus menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Aceh dalam mewujudkan kemandirian Dayah, sebab Dayah memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan di Aceh, bahkan Pendidikan di Republik ini cikal bakalnya dari dayah (pesantren), dayah telah mampu melahirkan para Ulama yang memiliki kontribusi dalam perkembangan masyarakat Aceh.

Jika merujuk pada regulasi, Pendidikan Dayah juga dicatumkan dalam UU Pemerintahan Aceh tepatnya pada Pasal 218. Selanjutnya Qanun Nomor 5 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Aceh mempertegas keberadaan pendidikan dayah pada bagian kedelapan Pasal 32. Berdasarkan Qanun tersebut, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban; (1) memberikan layanan dan kemudahan pendidikan, (2) menjamin penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, merata, adil dan islami, (3) menyediakan tenaga pendidik sesuai kebutuhan satuan pendidikan, (4) menjamin tersedianya dana untuk penyelenggaraan pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, (5) menjaga dan memelihara lingkungan yang kondusif, sehingga memberikan dampak positif bagi peningkatan peserta didik. Kontribusi pemerintah Aceh dalam memfasilitasi kemandirian Dayah merupakan amanah regulasi yang harus dijalankan, apalagi diperkuat dengan misi Pemerintahan “Zikir” adalah menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan Nilai-Nilai Dinul Islam di semua sektor kehidupan masyarakat. Tentunya Dayah menjadi salah satu institusi yang akan menebar nilai-nilai Dinul Islam dalam masyarakat.  

Salah satu hal yang harus diperhatikan serius oleh Pemerintah Aceh adalah mengembangkan pemberdayaan ekonomi menuju Dayah mandiri. Kemandirian sebuah lembaga pendidikan terutama dari sisi finansial akan memperkuat eksistensi lembaga tersebut, apalagi lepas dari intervensi pemerintah yang kadang sarat dengan nuansa politis. Dalam konteks pemberdayaan ekonomi Dayah di Aceh, pemerintah harus memberikan perhatian serius dalam mewujudkan kemandirian Dayah, diantaranya adalah dengan menciptakan atau memfasilitasi lahirnya dayah life skill.

Solusi
Pemerintah Aceh telah memberikan perhatian bagi pengembangan Dayah, salah satunya dengan lahirnya Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh (BPPD) yang didirikan pada 2008. Namun, lebih jauh Pemerintah Aceh dituntut untuk dapat menjadikan Dayah sebagai lembaga pendidikan yang lebih mapan dalam berbagai aspek. Salah satu hal yang perlu dilakukan Pemerintah Aceh adalah membantu lahirnya program pengembangan life skill bagi santri di Aceh, kehadiran program life skill di Dayah merupakan ibarat memberikan “pancing”, sebab selama ini Pemerintah Aceh dengan programnya cenderung memberikan “ikan”. Cara ini dipandang akan mengurangi kemandirian Dayah, terutama dalam pengembangan potensi.
Perlu dicatat, bahwa program Dayah life Skill bukanlah mencoba memaksa dayah untuk larut dalam perkara dunia semata, tetapi satu cara dalam meningkatkan eksistensi Dayah dengan pendekatan pengembangan potensi. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah berkenaan dengan potensi lingkungan sekitar Dayah, sebab potensi lingkungan merupakan modal (bahan baku) utama dalam menjamin keberlangsungan program yang akan diterapkan di Dayah. Jika melihat potensi wilayah Aceh, ada dua program life skill yang dapat diterapkan yaitu program “Dayah Bahari” untuk daerah pesisir dan program “Dayah Agribisnis” untuk potensi wilayah daratan tinggi.

Dalam rangka mendorong serta mendukung program life skill Dayah, Pemerintah Aceh dapat melakukannya dengan cara; Pertama; Secara makro, program life skill pada Dayah harus dimasukkan dalam rencana stratejik (renstra) Pendidikan Aceh, agar menjadi acuan dalam pengembangan Pendidikan Aceh, serta dapat menjadi prioritas dalam pengembangan Pendidikan, baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota. Kedua; Melalui program “Orang Tua Asuh” yang bekerjasama dengan dinas terkait, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Dinas Sosial, dan Balai Latihan Kerja, sebab banyak program pada instansi terkait ini yang dapat ditawarkan kepada dayah. Ketiga; Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota menyediakan anggaran untuk program peningkatan kapasitas santri, bantuan tersebut hendaknya diberikan bukan dalam bentuk dana langsung, tetapi berupa program kegiatan yang dikelola oleh lembaga terkait. Keempat; Memberikan pengawasan dan pendampingan bagi Dayah yang mendapat program pengembangan life skill, sebab berdasarkan pengalaman masa rehab-rekon Aceh pasca tsunami bahwa banyak program yang dilaksanakan untuk pengembangan Dayah berakhir tanpa jejak, bahkan lenyap seiring perjalanan waktu.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah mencari Grand Desain  Dayah Life Skill Di Aceh, lembaga terkait seperti Badan Pembinaan Pendidikan Aceh, Dinas Pendidikan serta Kanwil Kementerian Agama Aceh diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mencari model Dayah life skill di Aceh. Format ini sangat dibutuhkan sebagai model pengembangan pendidikan ketrampilan bagi Dayah. Tidak hanya itu, regulasi yang mampu mendukung program ini pun perlu mendapat perhatian dari anggota legeslatif, dan ini menjadi PR yang harus dipikirkan. Disamping itu, komitmen dayah sebagai pihak yang terlibat langsung sangat dibutuhkan, apalagi dalam menjami keberlangsungan dan konsistensi.


Pemerintah Aceh dituntut untuk konsisten dalam mengawasi program-program tersebut sehingga benar-benar dimamfaatkan dan terealisasi tepat sasaran, sinergisitas antar instansi pemerintah serta pro-aktif pihak Dayah menjadi kunci keberhasilan penerapan program ini. Kita semua berharap semoga Dayah menjadi mandiri, sebagaimana kemandirian yang telah diajarkan kepada para santrinya, semoga kemandirian dayah akan mampu meningkatkan eksistensinya menuju peningkatan eksistensinya dimasa yang akan datang

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih