07 Juni 2014

Kitab Ta’lim Al-Muta’allim; Pesan Bagi Penuntut Ilmu




Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak diberikan kepada orang-orang yang maksiat. Demikian lantunan syair Imam As-Syafii ra, begitulah gambaran fungsi ilmu bagi manusia, ilmu bagai lentera yang menerangi jalan gelap kehidupan manusia. Namun, dalam kenyataan banyak orang yang berilmu, tetapi sepertinya awam buta, ini terlihat dari cara berbicara, berpikir dan bertindak. Dimana letak kesalahannya, sehingga ilmu tidak memberikan mamfaat bagi kehidupan. Mengenai persoalan ini, Kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq at-Ta’allum merupakan referensi pokok yang harus kita kaji kembali dalam upaya merevitalisasi cara-cara kita belajar dan menuntut ilmu sehingga ilmu bermamfaat bagi kita. Kitab ini tentu tidak asing lagi bagi kalangan Dayah, sebab menjadi referensi utama bagi santri dalam menuntut Ilmu.  
Az-Zarnuji adalah pengarang kitab ini, nama lengkapnya adalah Burhanuddin Al-Islam Az- Zarnuji, mengenai tempat dan tanggal lahirnya tidak ada keterangan pasti. Namun dilihat dari nisbahnya (zarnuji) maka sebagian peneliti berkesimpulan bahwa beliau berasal dari zarnuji, suatu daerah yang kini dikenal dengan nama Afghanistan. Mengenai tanggal wafatnya, terdapat dua pendapat, ada yang mengatakan beliau wafat pada tahun 591 H/1195 M, ada pula yang mengatakan beliau wafat pada tahun 840 H/1243 M. Beliau hidup semasa dengan Ridha Al-Din Al-Naisari, antara tahun 500-600 H.
Az Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan samarkand, dua kota yang menjadi pusat keilmuan dan pengajaran. Mesjid-mesjid di kedua kota tersebut dijadikan sebagai lembaga pendidikan dan ta’lim, yang diasuh antara lain oleh Burhanuddin Al-Marginani, Syamsuddin Abd Al-Wajdi Muhammad bin Muhammad bin Abd dan Al-Sattar Al-Amidi. Selain itu, Az Zarnuji juga belajar pada Rukn Al-Din Al-Firqinani, seorang ahli Fiqh, satrawan dan penyair (w. 594 H/1196 M), Hammad bin Ibrahim, seorang ahli ilmu kalam, sastrawan dan penyair (w. 564 H/1170 M) dan Rukn Al-Islam Muhammad bin Abi Bakar yang dikenal dengan nama Khawahir Zada, seorang mufti Bukhara dan ahli dalam bidang fiqh, sastra dan syair (w. 573 H/1177 M).
Ta’lim al-Muta’allim merupakan kitab fenomenal meski ia ditulis pada periode awal abad pertengahan Islam (945-1250), bahkan ilmuwan seperti Khalil A. Totah dan Mehdi Nakosteen menyebutkan bahwa kitab ini adalah kitab paling terkenal dalam bidang pendidikan, demikian disebutkan keduanya dalam buku “The Contribution of the Arabs to Education” dan “History Of Islamic Origins of Western Education”. Sementara itu, Abdul Muidh Khan dalam “The Muslim Theories of Education during the Middle Age” menyebutkan bahwa semenjak Ta’lim al-Muta’allim dipublikasikan orientalis mulai sadar terhadap nilai prinsip-prinsip pendidikan Islam. Affandi Mukhtar dalam bukunya “Kitab Kuning dan Tradisi Akademik Pesantren” menyatakan bahwa Az-Zarnuji layak dianggap sebagai figur intelektual periode awal abad pertengahan Islam. Banyak ilmuwan barat yang tertarik mengkaji Ta’lim al-Muta’allim, bahkan menurut mereka kitab ini adalah kitab fenomenal yang membahasa tentang metode pendidikan Islam. Carl Brockelmann, G. E. von Grunebaum, Theodore M. Abel, I. O. Oleyede merupakan ilmu yang konsen mengkaji pemikiran Az-Zarnuji dalam kitabnya.

Pesan Ta’lim al-Muta’allim
Az-Zarnuji dalam pengantarnya merisaukan bahwa banyak orang yang menuntut ilmu tetapi tidak memberikan mamfaat dengan ilmu yang mereka tuntut. Menurutnya, hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Untuk itu, kitab Ta’lim al-Muta’allim yang ditulisnya terdiri dari 13 bab merupakan pesan penting yang harus diperhatikan para penuntut ilmu, ketigabelas bab tersebut terdiri dari: 1) Hakikat ilmu dan keutamaannya, 2) Niat belajar 3) Memilih guru, ilmu, teman dan ketabahan dalam belajar 4) Menghormati ilmu dan ulama 5) Sungguh-sungguh, kontinuitas dan minat yang kuat 6)  Permulaan dan intensitas belajar serta tata tertibnya 7)  Tawakkal kepada Allah SWT 8) Saat terbaik untuk belajar 9) Kasih sayang dan memberi nasehat 10) Mengambil pelajaran 11) Wara’ (menjaga diri dari yang syubhat dan haram) pada masa belajar 12) Penyebab hafal dan lupa, dan 13) Masalah rezeki dan umur.
Dalam perkara keutamaan ilmu, Ta’lim al-Muta’allim berpesan bahwa ilmu merupakan jalan yang akan menerangi kehidupan manusia, sehingga manusia tidak salah memilih jalan hidup. Ilmu merupakan petunjuk Allah yang akan menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Orang yang ahli ilmu Agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tetapi bodoh. Pesan penting lain adalah berkaitan dengan niat, para penuntut ilmu hendaknya membetulkan niat mereka hanya untuk mencari keridhaan Allah, bukan mengharap kemegahan, ingin disanjung dan menjadi orang terpandang.
Berkaitan dengan kehidupan kita sekarang, masalah-masalah sosial terus bermunculan dimana-mana seiring lembaga pendidikan tumbuh-berkembang bagai jamur di musim hujan. Sebagai bahan introspeksi, mungkin niat kita belum betul dalam menuntut ilmu, baik sebagai pelajar maupun pengajar. Banyak yang belajar di Universitas hanya bertujuan agar mudah mendapat pekerjaan yang layak, belajar di lembaga pendidikan Agama bertujuan agar menjadi orang yang disegani, terpandang dan dipanggil Teungku atau Abu. Oleh sebab itu, meluruskan kembali niat dalam menuntut ilmu menjadi sebuah keniscayaan agar kehidupan kita tidak lagi morat-marit dan centang-perenang, sebagai gambaran bahwa ilmu yang kita miliki tidak mampu memberikan mamfaat menata kehidupan menjadi lebih baik, baik untuk pribadi, keluarga dan masyarakat.
Pesan penting lain adalah termuat dalam bab empat, yaitu menghormati Ilmu dan Ulama. Salah satu krisis yang sedang kita hadapi dewasa ini adalah krisis menghormati dan menghargai ilmu dan Ulama, bahkan para pelajar merasa tabu dan canggung menghormati guru mereka. Menurut Az-Zarnuji, penghormatan yang dimaksud adalah seorang murid harus memiliki sikap mental yang baik selama mengikuti proses belajar mengajar, bahkan dalam Ta’lim al-Muta’allim Az-Zarnuji menjelaskan detail tentang adab-adab murid terhadap guru. Harus diakui bahwa seiring perkembangan zaman, budaya ta’dhim terhadap guru makin hari makin luntur, sekarang hanya ada dua lembaga pendidikan yang muridnya masih menaruh ta’dhim kepada gurunya, yaitu perguruan silat dan Dayah. Melengkapi pesannya ini, Az-Zarnuji melukiskannya dalam sebuah syair “Keyakinanku tentang hak-hak guru, hak itu paling wajib di pelihara oleh muslim seluruhnya, demi memuliakannya hadiah berhak di haturkan seharga seribu dirham untuk mengajar satu huruf. Memang benar, orang yang mengajarmu satu huruf  ilmu yang diperlukan dalam urusan Agamamu, dia adalah bapak dalam kehidupan Agamamu”.
Dalam perkembangan dunia modern, pengaruh globalisasi dan pergaulan tanpa pandang bulu menjadi salah satu kendala dan penghambat dalam menuntut ilmu, Az-Zarnuji jauh hari telah memberikan solusinya, beliau memandang bahwa memilih teman dalam bergaul merupakan perkara penting yang harus menjadi perhatian sehingga ilmu menjadi bermamfaat. Beliau menganjurkan supaya seseorang memilih teman yang tekun, wara’, bertabiat jujur dan mudah memahami masalah, serta menghindari/menyingkirkan teman pemalas, penganggur, banyak bicara, suka mengacau dan gemar memfitnah.
Berkaitan dengan hal ini, hadih maja Aceh memberikan peutuah “meunyoe tameungoen ngen si paleh, harta habeh tanyoe malee”. Dalam konteks sekarang, salah satu hal yang mungkin dilakukan untuk menjaga pergaulan adalah penerapan sistem asrama (boarding school) pada setiap lembaga pendidikan, dengan sistem ini para pelajar lebih mudah diawasi dan dapat dipantau pergaulannya. Untuk lembaga pendidikan di Aceh, terutama Perguruan Tinggi penulis mengusulkan hendaknya dilakukan kerjasama dengan Dayah-dayah, sehingga para mahasiswa tidak lagi mencari tempat penginapan (kos), tetapi dayah dapat menampung mereka untuk memfasilitasi penginapan sekaligus mendalami pelajaran-pelajaran Agama di Dayah.
Dalam Bab terakhir, pesan Ta’lim al-Muta’allim berkenaan dengan mencari rizki dan menghindari hal-hal yang tidak diperkenankan. Dalam hal ini, Az-Zarnuji berpendapat bahwa antara rizki dan ibadah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, ia menyarankan kepada penuntut ilmu untuk menjalankan berbagai ibadah seperti shalat dhuha dan membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur’an seperti surat Al-Waqi’ah, al-Mulk dan Al-Muzammil, lebih detail Az-Zarnuji juga memberikan pesan-pesan tentang hal-hal yang membawa kebaikan, baik rizki dan berkah umur. Asumsi yang berkembang bahwa lembaga pendidikan Agama prospek masa depannya suram, pesan Az-Zarnuji ini tentu membantah asumsi yang berkembang, bedanya adalah pendekatan prospek masa depan (rizki) yang ditawarkannya adalah dengan pendekatan spiritual.
Kini, hal penting adalah bagaimana mengkaji kembali pesan Ta’lim al-Muta’allim bagi para penuntut ilmu di bumi Serambi Mekkah, sehingga ilmu dapat memberikan mamfaat dalam memperbaiki dan memberikan solusi terhadap permasalah yang dihadapi sekarang ini, terutama persoalan remaja dan dekadensi moral.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih