26 Maret 2014

Identitas Ummat Nabi


“Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading” demikian pepatah yang sering kita dengar dalam kehidupan, pepatah ini bermakna bahwa harimau dikenal dengan belangnya dan gajah dengan gadingnya, dengan kata lain identitas harimau adalah belang dan gajah adalah gading. Inilah identitas yang melekat, identitas tersebut merupakan tanda kenal yang paling memberikan pengaruh terhadap keberadaan pemilik identitas. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Identitas diartikan sebagai jati diri, atau keadaan khusus seseorang. Dalam tulisan singkat ini akan kita singgung tentang identitas ummat Muhammad atau ciri-ciri ummat Muhammad, sebab kita akan tersinggung jika ada yang mengusik dengan mengatakan bukan ummat Muhammad. mengakui umat Muhammad serta berharap syafaat di kemudian hari dari Beliau, namun kita kadang mengabaikan ciri yang harus kita miliki yang menunjukkan bahwa kita benar ummat Muhammad.

Lalu, apa identitas ummat Muhammad? Di akhir surat Al-Fath (surat ke-48, terdiri dari 29 Ayat) Allah menyebutkan ciri-ciri ummat Muhammad, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu melihat mereka ruku’ dan sujud, mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud, demikianlah sifat-sifat mereka ( yang diungkapkan ) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin), Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka akan ampunan dan pahala yang besar”.

5 Identitas Ummat Nabi
Dalam ayat tersebut, ada lima identitas yang harus dimiliki sebagai ummat Muhammad, indentitas tersebut menjadi tanda pengenal bahwa kita adalah benar-benar Muhammad. Pertama, tegas terhadap orang kafir. Sebenarnya ummat yang paling toleransi adalah ummat Islam, ummat Islam mampu hidup berdampingan dengan ummat lain yang beda keyakinan dan keimanannya. Meski demikian, kita harus menjaga batas-batas pergaulan sehingga tidak menyerupai mereka (non muslim) bahkan menghilangkan identitas kita sebagai seorang muslim. Tegas terhadap orang kafir merupakan sebuah komitmen iman yang tidak boleh dilanggar dengan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang dapat merusak komitmen iman kita meskipun dengan dalih toleransi. Menjaga generasi muda dari pergeseran akidah merupakan manivestasi ketegasan kita terhadap tradisi hidup orang-orang kafir, memberikan pengetahuan kepada generasi muda tentang ketauhidan merupakan sebuah kebutuhan dalam kondisi kehidupan yang heterogen sekarang ini.

Kedua adalah berkasih sayang sesama muslim. Saling menyayangi merupakan salah satu sendi dalam memperkuat ukhuwah Islam, sebab dengan ukhuwahlah ummat Islam akan kuat dan berjaya. Masyarakat (muhajirin dan anshar) Madani Kota Madinah  terbentuk oleh ikatan persaudaraan yang tidak mengenal kelompok, suku dan warna kulit, iman dan tauhid telah mempersatukan mereka, serta melenyapkan egoisme kelompok dan suku yang menjadi penghalang persatuan dan kesatuan. Mencermati kehidupan masyarakat Aceh sekarang ini, berkasih sayang sesama telah hilang dan hanya tinggal kenangan, seperti yang disindir dalam syair Aceh “gaseeh ka u blang, sayang ka u glee” Egoisme kelompok dan golongan makin memperkeruh ukhuwah dalam masyarakat, slogan “meunyoe ken ie leuhob, meunyoe ken awak droe gob” telah digunakan untuk eksistensi kelompok serta menjadi pemisah antara satu kelompok dengan kelompok lain, walau sama keyakinan. Padahal slogan ini digunakan dalam konteks perbedaan keyakinan, yaitu antara muslim dan non muslim (awak droe dan awak gob). Untuk itu, berkasih sayang sesama perlu dihidupkan kembali demi untuk mempersatukan masyarakat dalam melanggengkan ukhuwah, sebab dengan ukhuwah kita akan menang dan kuat.

Ketiga; selalu ruku dan sujud, dengan kata lain pengikut Nabi Muhammad adalah mereka yang selalu melaksanakan shalat dimanapun dan kapan pun. Menegakkan shalat lima waktu merupakan komitmen iman yang tidak dapat ditawar dan menjadi bukti penghambaan kita kepada sang khaliq. Membumikan shalat dan menggemarkan berjama’ah merupakan tugas setiap muslim dalam membentuk persatuan dan kesatuan ummat, kita menyadari bahwa ummat Islam sekarang mampu digoyah oleh berbagai isu yang merusak persatuan dan kesatuan, salah satu penyebabnya adalah ummat Islam tidak lagi gemar melaksanakan shalat berjama’ah. Dalam sebuah hadist Rasulullah mengancam orang orang yang meninggalkan shalat berjama’ah dengan anacaman membakar rumah mereka, demikian disebutkan dalam beberapa kitab hadist (Al-Bukhari (644,2420). Muslim (651), Abu Dawud (549), At-Tirmidzi (217), dan An-Nasa’i (2/107); dari Abu Hurairah). Ingat, Jangan pernah meninggalkan shalat, sebab itu adalah komitmen kita sebagai seorang muslim dan bukti bahwa kita benar pengikut Nabi Muhammad.

Keempat, seorang pengikut Nabi adalah hidup untuk mencari karunia dan keridhaan Allah. karunia Allah begitu besar dalam hidup ini, tidak sedetik pun waktu yang terlewati tanpa rahmat dan karunia Allah. Jika kita ingin menghitung berapa banyak nikmat Allah sungguh kita tidak akan pernah sanggup, caranya adalah bersyukur atas  segala limpahan karunia Allah yang telah kita gunakan, dan menempatkannya pada posisi yang dikehendaki oleh pemberi nikmat. Keridhaan Allah merupakan tujuan hidup tertinggi yang harus dimiliki oleh ummat manusia, jika Allah telah ridha maka apa pun akan diberikan (karunia) kepada hamba, sebaliknya jika Allah tidak ridha maka azab Allah akan menanti. Ridha merupakan merupakan wujud dari rasa cinta pada Allah dengan menerima apa saja yang telah dikehendaki oleh-Nya tanpa ada paksaan dalam menjalaninya.

Sejarah telah membuktikan bahwa betapa dermawannya Abu Bakar yang menyumbang seluruh hartanya untuk bekal peperangan, betapa sedihnya kehidupan pribadi Umar bin Abdul Aziz dalam menjalankan Pemerintahan, betapa teguhnya Rabiah Al-Adawiyah dalam mengabdi kepada Allah, serta betapa kerelaan Ismail mempersembahkan leher untuk disembelih oleh Ayah tercinta, semua ini dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah. Lalu, bagaimana sebenarnya mencari keridhaan Allah, keridhaan Allah akan didapat jika pekerjaan kita didasari pada aturan Allah dan rasul serta bermodalkan keikhlasan dalam menjalankannya, serta semata-mata dilakukan sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah.

Kelima, pengikut Nabi dikenal dengan bekas sujud pada muka. Mengenai tanda bekas sujud (atsarussujud) terdapat beragam pendapat tentang tafsirnya, berdasarkan studi beberapa literatur tafsir yang mu’tabar, tidak ada satu pun yang mengaitkannya dengan hitam dahi sebagai bekas sujud. Dalam Tafsir Al-Qurthubi (16/291) Disebutkan bahwa Ibnu Abbas dan Mujahid menafsirkan kata atsarussujud (bekas sujud) sebagai : khusyu’ dan tawadlu’, demikian pula dalam Tafsir Fathul Qadir (5/ 55)  juga memaknai dengan arti yang sama. Ibnu Jarir At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan (26/ 141) dengan menuqilkan  perkataan Muqatil bin Hayyan dan Ali bin Mubarak dari al-Hasan bahwa “min atsari sujud” adalah cahaya yang tampak pada wajah orang-orang beriman pada Hari Kiamat kelak sebagai bekas shalat dan wudhunya. Lebih tegas lagi, Ibnu Jarir juga mengutip perkataan Ibnu Abbas yang menolak penafsiran ayat secara literal dengan kata-kata : “Hal itu bukanlah seperti yang kalian kira, karena maksudnya (dari kalimat min atsari sujud) adalah tanda-tanda ke-islaman (ketundukan dan kepasarahan) serta kekhusyu’an.”

Muhammad Husain Thabathaba’i dalam Tafsir al-Mizan-nya, Juz 18, halaman 326, menafsirkan ayat tersebut dengan penafsiran maknawi bukan dhahiri, Tafsir Al-Nur al-Tsaqalayn, menafsirkan kalimat min atsari sujud pada akhir ayat surat Al-Fath dengan mengutip perkataan al-Shadiq : “huwa al-sahr fi al-shalah” : itu (bekas sujud) adalah banyaknya shalat malam pada waktu sebelum fajar/subuh. Sementara dalam Tafsir Zâdul Mâsir (7/172): Ibnu Jauzi mengatakan, “Apakah tanda-tanda itu (bekas sujud) itu merupakan tanda-tanda di dunia atau di akhirat?”  Dari banyak mufassir yang mengatakan bahwa tanda-tanda itu tampak di dunia ini hanya sedikit saja penafsir yang mengatakan bahwa tanda sujud itu tampak karena adanya bekas turbah (tanah) yang melekat di kening mereka, itu pun penfasiran alternatif bukan satu-satunya penafsiran yang mereka yakini. Lagi pula jika penafsiran seperti itu menjadi argumen mereka, maka hal itu justru akan menjadi muskilah, karena kaum yang sujud di atas tanah pada masa ini hanyalah kalangan  Syi’ah saja, sementara kaum Muslim Sunni tidak lagi sujud di atas tanah, tetapi di atas kain sajadah atau yang semacamnya.

Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dan Turmidzi  yang berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah bersabda : “Tak satu orangpun di antara umatku yang tidak kukenali pada Hari Kiamat. Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana engkau dapat mengetahuinya wahai Rasulullah, sedangkan engkau berada di tengah-tengah banyaknya makhluk? Beliau bersabda: “Apakah kalian dapat mengetahui sekiranya kalian memasuki tumpukan makanan yang di dalamnya terdapat sekumpulan kuda berwarna hitam pekat yang tidak dapat tertutup oleh warna lain, dan di dalamnya terdapat pula kuda putih bersih, dapatkah kalian melihatnya? Mereka berkata: “Tentu!” Beliau bersabda : “Sesungguhnya umatku pada hari itu berwajah putih bersih karena (bekas) sujud dan karena (bekas) wudlu’.

Demikian beberapa referensi yang berkenaan dengan identitas Ummat Nabi yaitu dikenal dengan bekas sujud di wajah, hal penting dalam persoalan ini adalah bahwa kehidupan para pengikut nabi benar-benar terinspirasi oleh sujud dan ibadah kepada Allah, kehidupan yang begitu tertata dengan aturan aturan yang ditetapkan oleh Allah, tidak ada lagi pelanggaran, baik berkaitan dengan pribadi maupun sosial. Intinya, pengikut ummat Nabi bukanlah yang hitam dahinya saja, tetapi kehidupannya benar-benar menjadi muslim sejati, muslim yang sejahtera saudaranya dari lidah dan tangannya, mampu menebar kebaikan dan kasih sayang sesama. Sekarang, kita bertanya kepada pribadi masing-masing, apakah kelima identitas ummat Nabi sudah melekat pada pribadi kita yang mengaku ummat Nabi, apakah peringatan maulid tahun ini mengilhami kita untuk melengkapi diri dengan identitas-identitas ummat Nabi. Jika ummat Islam telah benar-benar menjadi pengikut Nabi Muhammad dengan identitasnya, maka ummat Islam akan kembali kuat dan berjaya, serta terhindar dari pengaruh-pengaruh aliran sesat dan pemurtadan. Ingat, Orang tidak akan takut dengan harimau jika ia telah kehilangan sifat buasnya, sebaliknya pula kambing akan dimusuhi manusia jika ia telah kehilangan sifat jinaknya. Be a good muslim, do it or never! 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih