13 April 2013

Hukuman Ala Goba-Goba


Tersebutlah kisah di sebuah negeri entah bertuah, ada tiga orang anak manusia dengan profesi berbeda, satu orang ahli birokrat, jurnalis dan pakar hukum, ahli birokrat bernama Amjad, sang jurnalis bernama apasyam, dan pakar hukum bernama tepian lulis. Sepakatlah ketiga orang ini untuk mengambil cuti dari kerja mereka sehari-hari dan berencana mengadakan camping pada sebuah hutan belantara, hutan itu bernama hutan goba-goba. 

Keinginan tiga orang ini tidak semata karena liburan, tetapi ada hasrat keingin tahuan mereka tentang goba-goba, sebab masyhur terdengar bahwa dalam belantara ini ada suku primitif yang terkenal dengan hukum ala goba-goba, mereka ingin melihat langsung bagaimana hukum goba-goba, apalagi sang pakar hukum prof terpian lulis. 

Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah ketiga anak manusia ini menuju hutan goba-goba, rasa penasaran mereka kian bertambah seiring berjalannya mereka menapaki hutan yang masih perawan, tiga hari perjalanan mereka tak jua menjumpai suku primitif yang dimaksud, mereka hampir putus asa untuk mencari kitab undang-undang goba-goba. Tiba pada suatu tempat, mereka berteduh pada sebuah pohon kayu yang sangat besar dan rindang, pohon kayu itu ditaksir berumur ratusan tahun. 

Belum sempat mata terpejam, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh gerombolan makhluk primitif, makhluk itu datang mengepung dan meneriaki mereka dengan terikan khas yaitu “ola goba goba, ola goba goba”. Gerombolan itu berjumlah 20 orang lebih, akhirnya mereka ditangkap, anehnya komunikasi makhluk primitif tak dipahami mereka, begitu pula sebaliknya, komunikasi yang laris adalah komunikasi isyarah. 

Rupanya, makhluk primitif tadi adalah makhluk kanibal alias pemakan manusia. Setiap orang yang tertangkap pasti tidak akan kembali, mereka disantap layaknya kari kambing. Tiga bulan sudah berlalu, ketiga orang ini dihadapkan kepada sang raja goba-goba. Mereka dihukum mati, namun dengan hukuman yang dipilih oleh mereka sendiri. Mendengar keputusan sang raja, sang pakar hukum berbisik pada amjad, “hebat benar raja ini, meski primitif tetapi tata hukum mereka telah moderat, sebab memberikan hukuman atas dasar pilihan yang menerima hukuman”. 

Pilihan hukuman yang ditawarkan sang raja adalah, goba-goba, makan-minum sampai mati dan pancung leher. Raja mempersilahkan mereka untuk memilih salah satunya. Mereka bertiga tidak paham bagaimana model hukuman goba-goba, akhirnya sang jurnalis memilih hukuman makan-minum sampai mati, dan sang professor memilih hukuman pancung. Tibalah giliran jurnalis, dia melaksanakan hukumannya namun tidak sampai mati, raja pun memberikan hukuman goba-goba kepada sang jurnalis, yaitu disodomi hingga mati. Sang jurnalis mati, kini tiba giliran sang professor. Sebelum hukuman pancung dilaksanakan, raja goba-goba pun melakukan hal yang sama yaitu sodomi hingga mati. 

Amjad sebagai pakar birokrat yang melihat pemandangan itu bergetar dirasuki rasa takut yang mendalam, sebab tinggal dirinya yang akan menerima hukuman raja goba-goba. Sebelum menerima hukuman, birokrat ulung ini akhirnya lolos dengan kelicikan yang dimilikinya, ia lari tunggang langgang meninggalkan kerajaan yang terkenal dengan hukuman goba-goba. Tiba dikampung halaman, ia menceritakan pengalamannya pada semua orang, karena sering bercerita akhirnya amjad pun digelar dengan julukan “birokrat goba-goba”. Dia sendiri pun bercita-cita kelak ia jadi pejabat akan menerapkan hukuman ala raja goba-goba meski berbeda perlakuan, menurut dirinya hukum goba-goba dalam hukum primitif yang paling moderat yang cocok diterapkan pada zaman moderat.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih