08 November 2012

Belajar Mencari Nama


Apalah arti sebuah nama, demikian kita sering mendengarnya dalam kehidupan. Di samping itu kita juga sering mendengar bahwa nama adalah do’a. Bahkan, jika anak baru lahir orang tuanya malah kalang kabut mencari nama cantik yang akan diberikan kepada anaknya. Nama merupakan identitas yang dimiliki seseorang, semua kita pasti memiliki nama. Namun, kita sering pula mendengar orang mengatakan “jangan mencari nama”.

Mencari nama sama artinya ingin terkenal atau dikenal, tetapi mencari nama nilai rasa dalam penyebutannya masih tergolong halus dibandingkan dengan istilah “mencari muka”, padahal keduanya sama-sama bermakna ingi terkenal. Satu sisi, mencari nama atau ingin dikenal merupakan salah satu kebutuhan manusia yaitu kebutuhan akan eksistensi diri. Kebutuhan ini tentu akan diusahakan oleh setiap manusia dengan menggunakan berbagai macam cara. Lalu, bagaimana kita belajar mencari nama

Mengenai mencari nama alias ingin terkenal Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Nyanyian sunyi seorang bisu memberikan pelajaran bagi kita. Nyanyian sunyi seorang bisu awalnya merupakan catatan harian Pram ketika menjalani masa hukuman penjara tanpa pengadilan di Pulau Buru.

“Nama adalah bangunan atas hasil karya, orang tak perlu mencari-carinya” itulah pesan Pram dalam bukunya itu, pesan ini muncul sebagai jawaban atas pernyataan anaknya dalam surat yang dikirim kepadanya di Pulau Buru, “Titiek sangat bangga mempunyai ayah seperti Ayahanda, Ayahanda adalah seorang yang ternama Titiek ingin mencari nama seperti Ayahanda”, ujar anaknya dalam surat tersebut.

Dalam surat balasannya yang tidak pernah tersampaikan kepada anaknya karena kondisi Pulau Buru, Pram menegaskan “Nama bukan dicari, dia hanya imbalan. Kalau kau memberikan hasil kerjamu pada seseorang dan orang itu suka, engkau pun akan mendapat nama dari dia. Nama adalah produk sosial, juga dibutuhkan ausdauer (daya tahan) untuk mempertahankannya”. Mencermati surat balasan Pram, nama merupakan kontruksi yang dibangun masyarakat atas apa yang telah dilakukan, baik itu buruk maupun baik.

Nama sebagai imbalan yang diberikan masyarakat tidak dapat diperjual belikan, ia akan sangat tergantung dari apa yang telah dilakukan, baik itu perbuatan baik maupun jahat. Sebagai contoh misalnya, nama Ulama yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang yang alim tentu tidak dapat dibeli, pemberian nama Ulama telah melewati beberapa tahap yang tidak pernah tertulis dalam masyarakat, tetapi seseorang yang telah diberi nama dengan ulama telah melewati tahap itu.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah berpesan bahwa Allah tidak melihat bentuk/postur, ketampanan dan kecantikan tetapi Allah melihat amal kita. Artinya, tidak perlulah kita mencari nama dengan mengumbar sensasi, cukup berkarya memberikan yang terbaik, sebab disanalah kita akan mendapat imbalan, baik di mata manusia maupun dalam pandangan Allah. Pepatah arab mengatakan “al-khaalif yu’raf”, ingin terkenal lakukan hal-hal yang sensasional, hal sensasional itu hendaknya kita maknai dengan karya nyata yang kita lakukan.

Ada karya sejarah akan mencatatnya, sebut saja Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali yang selalu disebut-sebut orang hingga sekarang, beliau telah meninggalkan karya besar yaitu kitab ihya al-ulum ad-din, Tengku Chik Pante Kulu yang selalu namanya disebut-sebut oleh kawan dan ditakuti lawan karena mahakarya hikayat prang sabi yang mampu menggugah semangat jihad, serta masih banyak contoh-contoh orang terkenal lainnya karena karya mereka. Untuk itu, jangan terlalu banyak cerita, mencari nama bukan dengan banyak bicara, mencari nama dengan berkarya. Selamat berkarya. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih