08 November 2012

BELAJAR DARI KELUARGA IBRAHIM


Bulan Dzulhijjah atau bulan haji merupakan bulan ke-12 dalam penanggalan tahun Hijriah, pada bulan ini terjadi peristiwa besar yang telah tercatat dalam sejarah, peristiwa itu adalah penyembelihan (qurban) Nabi Ismail, disamping peristiwa lain yang menjadi bahagian dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya, napak tilas kehidupan beliau kini menjadi bahagian dari rukun dan wajib haji. Perintah menyembelih anak yang sedang disayang bukanlah perintah ringan, apalagi anak semata wayang. Namun, perintah itulah yang diterima Nabi Ibrahim melalui mimpi, bahkan mimpi itu terjadi tiga hari berturut-turut. Mimpi fenomenal ini disampaikan Ibrahim kepada anaknya, dan terjadilah dialog menegangkan antara ayah dan anak yang dikisahkan kembali oleh Allah dalam surat As-Shaf ayat 99-105. Ibrahim dan keluarganya diuji oleh Allah dengan kesiapan mereka berkorban demi mendekatkan diri kepada Allah, ujian itu datang melalui perintah penyembelihan Ismail.
Kehidupan yang dijalani Nabi Ibrahim dan keluarganya mengandung banyak pelajaran yang dapat diambil oleh kita dan keluarga kita, terutama dalam menjalani kehidupan pada masa-masa sekarang. Pelajaran tersebut hendaknya dapat diterjemahkan dalam kehidupan, sehingga akan terbentuk keluarga yang semisal atau setidaknya mengikuti jejak-jejak keluarga Ibrahim.

Pelajaran yang perlu diteladani
Pertama, Mendidik anak yang saleh. Nabi Ibrahim menginginkan keturunannya menjadi keturunan yang saleh, beliau selalu berdoa untuk dikaruniai anak yang saleh, Rabbi habli minasshalihin, demikian doa yang selalu dibaca Nabi Ibrahim. Dalam kehidupan kita sekarang, sering kita mengabaikan do’a, sering mengabaikan bermunajat kepada Allah, sebagai sang Pemberi segalanya, termasuk juga berdoa mendapatkan anak yang saleh, bahkan lebih jauh kita mengabaikan pendidikan untuk membentuk anak-anak yang saleh. Bagi calon pengantin, perkawinan hendaknya tidak hanya melepaskan keinginan hawa nafsu semata, tetapi hendaknya perlu niat yang kuat untuk mencari keturunan yang saleh, mencari anak-anak yang saleh, anak yang siap mengabdikan diri kepada Allah serta taat kepada orangtuanya, sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Ismail.
Kedua, bermusyawarah. Tiba hari 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim mengutarakan mimpi yang selama ini dipendamnya, mimpi tiga malam berturut-turut. “Anakku, Allah perintahkan Ayahmu ini untuk menyembelih dirimu, bagaimana pendapatmu?”, demikian kalimat yang diutarakan Nabi Ibrahim kepada Ismail. Satu sisi, Nabi Ibrahim yakin bahwa penyembelihan Ismail adalah merupakan perintah Allah yang harus dilaksanakannya, sisi lain Nabi Ibrahim meminta pendapat anaknya tentang perintah tersebut. Intinya, Nabi Ibrahim mengajarkan bermusyawarah.
Dalam kehidupan dewasa ini, azas musyawarah telah banyak diabaikan, sehingga banyak terjadi pertentangan dan pertikaian jika terjadi sesuatu masalah, padahal Allah memerintahkan untuk selalu melakukan musyawarah pada setiap pekerjaan, musyawarah tentu menjadi landasan kuat dalam melaksanakan setiap kegiatan, kekuatan dan kebersamaan akan timbul dengan bermusyawarah, kita tidak akan pernah rendah jika menerima pendapat orang, juga tidak pernah akan papa jika memberikan nasehat/pendapat kepada orang lain. Musyawarah adalah indikator kehidupan sosial yang masih langgeng, jika musyawarah terus diabaikan maka kelanggengan kehidupan bermasyarakat akan terancam, hadih maja mengajarkan “meunyoe tatem duek-pakat, lampoh jeurat jadeh tapeugala”, demikian kekuatan musyawarah.  
Ketiga,  kerelaan berkorban di jalan Allah. Ibrahim dan keluarganya sepakat merelakan anak tersayang untuk disembelih demi menunaikan perintah Allah. Demi mendekatkan diri kepada Allah, Ismail rela mempersembahkan nyawanya dan mempersilahkan ayahnya menyembelih dirinya, ini merupakan ketaatannya kepada Allah dan kepatuhannya kepada sang Ayah, sungguh keluarga luar biasa. Rela berkorban demi mengharap ridha Allah merupakan barang langka di tengah kehidupan masyarakat yang materialistis, semua dilakukan mengharap pamrih, semua dihitung dengan materi, semua diukur dengan nilai nominal. Padahal pengorbanan merupakan kewajiban untuk mencapai sebuah perjuangan, bahkan pengorbanan akan selalu berbanding lurus dengan tujuan dari perjuangan.
Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh, kesiapannya dalam menerima perintah Allah terbukti lewat jawaban yang diutarakannya kepada Ayahnya, “Wahai Ayah, silahkan Engkau kerjakan apa yang telah diperintahkan Allah, insyaallah Ayah akan mendapati saya menjadi bahagian dari orang-orang yang sabar”. Sungguh jawaban luar biasa, padahal kala itu yang dipertaruhkan Ismail adalah nyawa. Bahkan dikisahkan dalam durratun nasihin dan qishashul al-anbiya bahwa pada saat penyembelihan tiba, Ismail memberikan pesan yang mendorong semangat Ibrahim dalam melakukan tugas beratnya, serta pesan keteguhan kepada Ibundanya, demikian pelajaran berharga yang perlu diteladani dari keluarga Ibrahim. Pelajaran terpenting adalah bagaimana kesiapan dan kerelaan kita mempertaruhkan segala yang dimiliki demi mengharap keridhaan Allah.
Luar biasa sikap rela berkorban di jalan Allah yang ditunjukkan Ibrahim dan keluarganya, sehingga Ibrahim digelar oleh Allah dengan khalilullah yaitu orang yang menyayangi dan disayangi Allah, serta anak cucunya tumbuh menjadi permata hati yang menyejukkan jiwa. Keengganan berkorban di jalan Allah merupakan penyakit yang diderita oleh kaum muslim sekarang, dan inilah salah satu faktor yang menyebabkan ummat Islam mundur, demikian analisa Amir Syakib Arsalan dalam limaza taakhara al-muslimun wataqaddama ghairuhum (mengapa orang-orang Islam mundur, dan orang-orang non islam maju). Analisa beliau ini meski ditulis pada tahun 1930-an, tetapi masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat sekarang, masyarakat yang semakin materialistis, masyarakat yang seolah-olah mengabaikan peran Allah dalam setiap kehidupan mereka. Revitalisasi semangat berkorban dalam menjalankan perintah Allah menjadi sebuah keniscayaan menuju keluarga yang mendapat keridhaan Allah, seperti keluarga Ibrahim.
Dalam catatan sejarah, spirit pengorbanan demi mendekatkan diri kepada Allah telah membuahkan hasil gemilang dan kemenangan luar biasa. Sebagai contoh, Abu Bakar As-Siddiq rela menyerahkan seluruh hartanya untuk modal perang, Ali bin Abi Thalib siap tidur pada tempat tidurnya Rasulullah saat peristiwa hijrah terjadi, Rabiah Al-Adawiyah rela tidak menikah, dan shalat sunnat ratusan rakaat demi mencari keridhaan Allah, serta masih banyak lagi contoh-contoh mereka yang sukses dengan modal pengorbanan demi mencari keridhaan Allah.
Selamat hari raya Idul Adha 1433 H, semoga perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi pelajaran penting bagi kita dan keluarga kita dalam mengarungi kehidupan ini, demi meraih keridhaan Allah dunia-akhirat. Rasulullah berpesan dalam sebuah hadist, bahwa halawatul iman (manisnya iman) akan dirasakan oleh mereka yang mencintai Allah dan Rasul di atas segalanya, salah satu bukti cinta adalah rela berkorban demi yang dicintai. Terakhir, selamat menempuh perjalanan mencari cinta Ilahi. Wallahu a’lam bisshawab. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih