03 Januari 2012

HAB Ke-66, Dewasa atau Tua-tua Keladi?


Dewasa, merupakan tingkat tertinggi dalam kehidupan manusia dimulai dari balita, anak-anak, remaja dan dewasa. Pada saat dewasa tentu kehidupan akan jauh berbeda dengan saat balita, anak-anak, dan remaja, “kesempurnaan” dan “kematangan” akan diraih pada usia dewasa, serta kontribusi positif akan banyak diharapkan pada usia ini, demikian harapan ideal saat seseorang telah mencapai usia dewasa.
Namun, dalam kenyataan bahwa tidak sedikit orang dewasa malah seperti anak-anak, bahkan ada yang menyebutnya dengan “tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi”. Dewasa hanya sebatas usia dan kematangan hanya asa, tidak ada kontribusi positif menuju ke arah pengembangan yang lebih baik, tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. 

Hari ini, Kementerian Agama merayakan HAB yang ke-66, dan tema yang diangkat dalam HAB kali ini adalah berkomitmen dalam memberantas korupsi, berkomitmen untuk membersihkan jajaran kementerian Agama dari Korupsi. Sungguh harapan yang luar biasa. Harapan itu tentunya menjadi harapan semua kita, harapan agar orang dalam lingkungan kementerian Agama bersih sesuai dengan ajaran Agama. Di lain pihak, bukti menyodorkan fakta yang bertolakbelakang dengan asa, tahun 2011 berdasarkan survey KPK bahwa Kementerian Agama menempati peringkat kementerian terjelek dalam hal pelayanan publik, dan masih banyak fakta-fakta lain yang belum terungkap. 

66 Tahun, bukanlah usia muda, bahkan usia ini jika diibaratkan dengan manusia sudah bisa dibilang “bau tanah”, artinya hampir mengakhiri kehidupan di dunia yang fana ini. Idealnya, orang yang hampir meninggal hendaknya benar-benar bertaubat dan mencari keridhaan Allah, tidak membual dan ugal-ugalan, dalam usia yang hampir masuk kubur, tentunya menebar kebaikan perlu digemarkan. 

Dalam hal laporan keuangan, tahun 2010 kementerian Agama memperoleh penilaian WDP (wajar dengan pengecualian), ini berarti bahwa laporan keuangan Kementerian Agama sudah baik, namun masih bermasalah. Untuk tahun 2011, bertekad meraih WTP (Wajar tanpa pengecualian) dengan harapan mendapat remunirasi untuk memperbaiki kesejahteraan jajarannya. Namun, saya yakin bahwa WTP hanya akan menjadi impian belaka jika jajaran kementerian Agama masih menganut motto beramal seikhlasnya dan mengenyampingkan pelayanan prima, serta dalam tubuh internal jajaran masih menganut filosofi “hukum pisau”.

Sebagai refleksi HAB tahun 2012 ini, muncul pertanyaan besar apakah kementerian Agama akan benar-benar dewasa dalam usia senja? Atau kedewasaan hanya menjadi simbul seiring berjalannya waktu tanpa memberi makna? Apakah kementerian Agama akan mendapat julukan kementerian tertua dengan prediket “tua-tua keladi”?. Pertanyaan ini semua hanya mampu dijawab oleh jajaran kementerian Agama sendiri dengan member bukti bukan janji. Do it or never!





0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih