10 Januari 2012

BIJAK dan TIDAK MENGINJAK

Tulisan ini bukan untuk menggurui siapa pun, tulisan ini hanyalah nasehat kepada kita bersama, nasehat-menasehati sebagai salah satu pilar menuju kehidupan yang tidak pernah merugi.


Roda selalu berputar, demikian filosofi kehidupan yang sering didengungkan oleh banyak orang, bahkan Rhoma Irama mendendangkannya dalam musik dangdut. Perputaran kehidupan tentu ada senang dan susah, keduanya itu merupakan fenomena hid
up yang harus dijalani oleh ummat manusia. Kita tidak bisa menebak apa yang bakal terjadi dalam kehidupan kita, namun kita dianjurkan untuk membuat perencanaan dan persiapan dalam menghadapi kehidupan ini. Perputaran roda tentunya juga terjadi dalam dunia birokrasi, ada pejabat yang jabatannya dinaikkan dan diturunkan, dua hal ini dalam dunia birokrasi merupakan hal yang lumrah terjadi. 

Naik-turun jabatan tentunya harus diterima dengan lapang dada, meskipun lumrahnya manusia jika sudah “naik” pasti “tidak mau turun”, kecuali orang panjat kelapa. Dalam menempati jabatan, tentu ada ketentuan tertentu, mereka yang dipilih pun memiliki kriteria tertentu, bahkan dalam kalangan professional mereka mengenalnya dengan fit and proper test. Mereka yang lulus dalam test dan uji kelayakan menjadi pejabat dipandang layak menduduki posisi tersebut, namun sebaliknya yang tidak lulus dipandang belum layak. Faktor kemampuan (capability) menjadi pertimbangan, disamping itu juga mempertimbangkan prestasi kerja. 

Idealita kadang bertolakbelakang dengan realita, bahkan boleh ditamsilkan bagai siang dan malam, namun itulah kenyataan yang terjadi. Mereka yang dekat dan melakukan pendekatan dipandang layak meski kemampuan masih diragukan, sebalikanya mereka yang mampu namun tanpa melakukan pendekatan tentu “dipandang” tidak layak. Layak-tidak layak pendekatan dan kedekatan yang akan menjadi ukuran. Dalam satu hadist, Nabi berpesan bahwa urusan yang diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. 

Kemashlahatan  merupakan harapan jika menyerahkan urusan kepada seseorang, orang yang dipercayakan tersebut diharapkan mampu memberikan kebaikan dan kemashlahatan bagi semua, terutama kebaikan dan kemashlahatan ummat. Namun, jika urusan itu ditangani oleh tangan-tangan jail, tidak bertanggungjawab dan bermental korup maka akan lain kejadiannya, sama seperti pungguk merindukan bulan. 

Terus terang saya tidak habis pikir, ada sebahagian orang jika mendapat rahmat senangnya minta ampun, dan susahnya minta ampun jika mendapat kesukaran. Padahal kesenangan dan kesukaran adalah ujian dari Allah Swt. Nabi Sulaiman diberikan kerajaan yang luas serta kemampuan memahami bahasa binatang, beliau masih berkata “ini semua adalah rahmat Allah untuk menguji saya, apakah saya bersyukur atau tidak”. Anehnya, kebanyakan kita hanya memahami bahwa ujian Allah hanya dalam hal yang menyakiti, termasuk juga turun jabatan, sedangkan ketika naik jabatan kita malah menilainya dengan rahmat. Diakui atau tidak, banyak kita yang tergiur dengan kesenangan, tergiur dengan jabatan meski kita paham bahwa kita tak layak untuk posisi tersebut. 

Memang menjadi pribabdi yang bijak sangatlah sulit, namun demikian berusaha untuk menjadi pribadi bijak merupakan usaha mulia, sebab sebagai orang Muslim kita memiliki motto “hidup mulia dan mati syahid”. Untuk hidup mulia, tentu banyak aral melintang, banyak tantangan dan cobaan yang harus dijalani, untuk meraih mati syahid pun demikian. Kenalilah kita, siapa kita, kemana tujuan hidup kita, serta bagaimana akhir dari hidup kita ini. Saya teringat cerita saat Rabi’ah Al-Adawiyah hendak dilamar oleh seorang ulama besar, Rabiah mengajukan pertanyaan jika dapat dijawab, beliau akan setuju dan menerima lamaran. Pertanyaan Rabiah Al-Adawiyah sangat sederhana yaitu “JIka saya meninggal, husnul khatimah atau suul khatimah”. 

Tentunya pertanyaan besar ini akan sangat sulit untuk kita jawab, semua kita berharap husnul khatimah. Namun, apakah usaha kita selarah dengan maksud dan tujuan kita, apakah usaha kita berbanding lurus dengan sikap dan tindakan kita, atau malah berbanding terbalik.  Rasulullah menawarkan konsep bahwa zuhudlah di dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, zuhudlah dengan manusia niscaya kamu akan dicintai mereka. Jangan serakah dengan hak orang, jangan mengambil yang bukan milik kita, suatu saat pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya. 

“Ujub sum’ah riya teukabo, di sinan yang lee ureung binasa”(hadih maja Aceh)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih