04 Oktober 2011

Waktu Mengubah Kampung ku


Aku adalah anak kampung yang telah merantau selama sepuluh tahun lamanya, seperti lazimnya orang, jika tiba lebaran semua pulang kampung, berlebaran bersama keluarga di kampung, diriku pun tak mau ketinggalan untuk mudik ke kampung halamanku yang telah kutinggalkan selama satu dasawarsa.

Setiba di kampung perasaan ku mulai bergejolak, membisikan bahwa sesuatu telah menimpa kampung halaman tercinta, namun perasaan ku pun tidak membisikkan sebenarnya apa yang terjadi di sini. Kampungku yang dulu hijau ranau kini berubah gersang bagai negeri tak bertuan, penduduk yang dulunya ramah kini telah berubah menjadi beringas.

27 Ramadhan adalah hari pertama aku menginjakkan kaki kembali di kampung halaman, setelah shalat subuh aku berjalan mengitari kampungku, meski udaranya tak lagi sejuk seperti dulu, namun suasana pagi tetap indah ku rasa. Tiba-tiba aku ditegur oleh seorang kakek tua, kakek ini memakai kain sarung putih, dipadu dengan baju koko warna cream, serta peci hitam yang sedikit sudah kusam. Kakek bertanya “kapan pulang nak?”, “kemarin pagi kek”, jawab ku. Sambil berjalan menikmati udara pagi, kakek ini bercerita banyak perihal kampungku yang tak seramah dulu, dari ceritanya aku baru sadar bahwa sepuluh tahun telah mengubah kehidupan warga kampungku, sepuluh tahun telah membalikkan keadaan kampungku, sepuluh tahun telah mengubah watak anak-anak.
Setelah setengah jam bercerita panjang lebar perihal kampung, kakek akhirnya pamit pulang ke rumahnya. Setelah tiba di rumah, sambil duduk di teras rumah, aku teringat akan temanku dulu, teman saat kami pergi mengaji, teman saat kami tadarus Al-Qur’an bila ramadhan tiba, teman saat bersekolah sambil bersepeda. Aku mencari tahu tentang kawan ku itu, ternyata sepuluh tahun sudah ia lumpuh berbaring lemas di rumahnya. Aku segera membesuk kawan ku, rumahnya kira-kira 50 meter dari rumahku. Saat aku bertemu dengannya, tak terasa air mata kami jatuh berderai, kawan ku itu menangis terharu, begitupun diriku. Kami bercerita panjang lebar, terutama perihal kampungku yang kini telah berubah.  Ada satu ungkapan menarik kawan ku itu, katanya “dulu, kita masih mau menjaga meunasah, meunasah tempat sakral, setiap tiba shalat lima waktu selalu ramai, tapi kini meunasah telah berubah jadi lapangan bola, meunasah telah menjadi arena berdakwa-dakwi, meunasah telah menjadi kawasan upat caci”

Aku berpamitan pada teman ku, saat aku menuju rumah, kembali aku teringat akan rangkang tempat kami mengaji dulu yang terletak di samping meunasah tua yang kini hanya tinggal nama. Aku segera melangkahkan kaki ku kesana, tiba di sana hatiku bagai tersayat sembilu, pilu melihat pemandangan rangkang yang dulu menjadi tempat idola kami anak-anak kampung. Kini, rangkang telah menjadi bangunan tua nan lapuk, tidak ada lagi terdengar suara beut aleh-ba, tidak lagi terdengar suara anak-anak mengaji. Air mataku bercucuran membasahi pipiku, segala kenangan manis tempo dulu, terasa diputar kembali dalam ingatan ku, mengenang kenangan itu air mataku terus deras mengalir. Aku segera meninggalkan rangkangku, rangkang yang telah banyak mengajari arti hidup bagi diriku, mengajari banyak hal sebagai bekal aku merantau di negeri orang, tapi sekarang rangkangku hanya tinggal puing-puing, lapuk terkikis hujan dan zaman.
Ada satu hal yang masih sangat ku rindukan di kediamanku, takbir bersama. Dulu saat aku masih kecil malam lebaran begitu meriah, lorong-lorong kampung penuh dengan gema takbir, suasana malam pecah oleh kalam ilahi yang yang dikumandangkan. Namun, kali ini aku kembali kecewa, rinduku tak terbalas, malam lebaran benar-benar sunyi, tak ada lagi takbir yang menggema, yang ada hanya suara petasan yang memecah keheningan, menambah kebisingan. Tersisa hanya lantunan takbir di surau tua, itupun dilantukan oleh mereka yang sudah tua, kampungku benar-benar beda. 

Hatiku kembali teriris, kampungku nan indah benar-benar telah runyam, Sesampai di rumah, hatiku makin bergejolak, aku rasanya ingin terbang dari kampungku, kampung tak lagi nyaman buat diriku, semua telah berubah, berubah dalam sekejap, tak lama hanya satu dasawarsa, semua telah berubah. Ya Allah, padamu aku bermohon hidayah untuk ketentraman kampungku, jangan jadikan kampungku negeri tak bersyariat, yang masyarakatnya sesat dengan gemerlapnya dunia.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih