04 Oktober 2011

Kisah Bocah Hebat

Saya sungguh terharu saat beberapa kali membaca berita tentang Muhammad Aditya, bocah tangguh asal Kelurahan Ganung Kidul Kecamatan/Kabupaten Nganjuk, Jatim, bahkan tanpa terasa air mata saya pun keluar membasahi pipit, membayangkan ketangguhannya. Bagi Nyonya Sunarti, Aditya adalah semangat yang memperpanjang harapan hidupnya, meski lumpuh ia masih bisa tersenyum menyaksikan buah hatinya yang rela mengorbankan masa kecilnya demi mengurus dirinya. Aditya, anak yang luar biasa, ia tampil menjadi pengasuh ibunya saat dirinya masih memerlukan asuhan, ia masih bisa tersenyum meski menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan menangis.

Aditya telah memberikan teladan bagi semua di Negeri ini, teladan bagaimana menghargai seorang ibu yang telah mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan anaknya. Ibu adalah manusia mulia yang harus dihormati dan dilayani, sebab usaha dalam hidupnya menjadi anugerah bagi kita. Jangan lupa, siapa pun kita, tetap anak ibu.
Disisi lain, aditya adalah anak yang masih membutuhkan pendidikan untuk masa depan hidupnya, di sisi lain ia pun harus berjuang merawat ibunya, berjuang memberikan harapan dan semangat bagi ibunya, dua sisi ini sungguh sangat dilematis. Info terakhir (detik com) bahwa pemerintah Kabupaten Nganjuk telah menempatkan Muhammad Aditya di Panti Asuhan, untuk diawasi dan dibina selama ibunya masih dirawat di rumah sakit (24/4/2011). Namun, apakah Sang Super boy ini sanggup jauh dari ibunya, sanggup merelakan tradisinya yang telah dijalani beberapa tahun silam sebagai perawat ibunya, kita pun belum bisa menjawab. Tapi, ini merupakan satu langkah konkrit pemerintah dalam menangani anak-anak yang masih butuh pendidikan.  

Aditya, meski pun bocah tetapi tetap gagah dalam merawat ibunya, ia biarkan ibunya tersenyum manis meskipun ia menangis mengorbankan masa kecilnya, aditya seakan-akan berkata “Mak, jangan takut mak, anak mu ini masih tegar dan kuat merawatmu Mak, Mak jangan pernah gundah, anak mu ini tetap gagah di samping mu Mak. Mak, senyum mu adalah anugerah dalam hidupku”. Aditya memang bocah, namun langkah yang dilakukannya melebihi tindakan kita yang dewasa, harus kita akui bahwa kadang masih banyak diantara kita yang membiarkan ibu kita merana, meski kita bergelimang harta. Ibu dianggap tidak penting saat hari tuanya tiba, padahal mudanya ibu kita telah memberikan harapan dan masa depan bagi kita. Aditya juga seolah-olah berkata, “Bapak, Ibu, dan Kakak semua, perhatikanlah ibu kita, jangan biarkan ia menderita sebab kita, lihat dan contoh Aditya, yang rela tak bersekolah demi merawat ibunda”

Bagi Pemerintah Kabupaten Nganjuk, patut diberikan apresiasi dalam menyikapi kebutuhan warganya, aditya butuh sekolah, lantas ditempatkan di panti asuhan untuk disekolahkan, ibunya butuh perawatan, hendaknya pula dijamin pengobatannya. Kalau boleh berandai-andai, andai semua anak di Negeri ini seperti Aditya, dan Pemerintah Kabupaten/Kota seperti Pemerintah Kabupaten Nganjuk, maka sungguh indah kehidupan di Negeri ini. Setiap ada kemalangan akan selalu ada kontribusi untuk meringankan/mengatasi kemalangan tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih