23 Oktober 2011

"Jangan Mengandalkan Bantuan"


Perjalanan monitoring menuju Gayo Lues, meninggalkan kesan mendalam, baik perjalanannya maupun kesan saat meninjau pesantren. Perjalanan yang cukup melelahkan, sembari menikmati indahnya alam ciptaan tuhan. Perjalanan dari Banda Aceh menuju Gayo Lues ditempuh selama 14 Jam, berangkat jam 17.00 wib pada hari minggu, tiba di Gayo Lues pada hari senin pukul 07.00 wib. Setelah sarapan pagi, saya segera menuju penginapan di hotel Sarah Juli.

Selasa, 18 Oktober 2011. Saya ditemani Kasi Pekapontren-Penamas Gayo Lues, kami mengunjungi Pesantren Al-Hasyimiyah Al-Munawarah Kampung Lempuh Kecamatan Blangkejeren yang terletak kurang lebih 3 kilometer dari kota Blang Keujeren. Tiba  di pesantren, terlihat sebuah bangunan dengan kontruksi papan sederhana dua lantai, serta satu unit bangunan permanen dan tempat wudhu yang amat sederhana, diperindah dengan suasana alam pengunungan yang asri. Kami disambut oleh seorang kakek yang sedang membersihkan tempat wudhu, serta beberapa orang santri yang hanya menyaksikan kami di lantai dua bangunan berkontruksi kayu. Pak ibrahim dan kakek  terlibat perbincangan dengan bahasa alas, saya pun tidak paham apa yang mereka perbincangkan.
Dipersilahkan masuk, kami segera menuju lantai dua bangunan yang berkontruksi kayu. Meski tempat sederhana, namun para santri tetap semangat, wajah cerah dan senyum merekah terlihat di raut wajah mereka, terutama saat Pak Ibrahim menyapa mereka dengan bahasa ibu, mereka hanya tersenyum, tak terlihat menderita meski mereka tinggal di pesantren yang amat sederhana, senyum simpul selalu cerah di wajah mereka, meski diantara mereka ada yang tidak menamatkan sekolah Dasar.
Saya sangat tercengang melihat lokasi pesantren yang begitu luas, serta ditanami dengan tanaman palawija. Pikiran saya mulai menerawang, membayangkan potensi pertanian pesantren ini, tentu luar biasa jika dikembangkan, pesantren tentu akan menjadi mata ie perkembangan ekonomi. Pesantren akan mandiri dengan pengembangan potensinya itu, mungkin bantuan yang selama ini diharapkan tidak akan menjadi prioritas. Namun, saya pun balik bertanya dalam hati sendiri, bagaimana memberi modal untuk memulai pengembangan ini, apa harus mengandalkan dari pemerintah atau harus ada orang tua asuh yang memberikan bantuan untuk modal pengembangan.
Memang, tudingan miring dialamatkan ke Pesantren di Aceh, pesantren hanya mengandalkan bantuan, katanya hidup dengan bantuan. Namun, tudingan itu tidak selamanya benar, buktinya masih ada pesantren yang mampu mengembangkan potensi yang akan menjadi aset pesantren, bahkan ada pesantren yang menolak bantuan dari pihak luar. Persoalan sekarang, bagaimana potensi wilayah mampu dikembangkan menjadi potensi pesantren, pesantren yang berada di wilayah pesisir hendaknya mampu menjadikan potensi daerahnya untuk pengembangan pesantren, begitu pula daerah subur di dataran tinggi mampu mengembangkan kesuburannya menjadi “alat penyubur” pesantren, pesantren diharapkan juga subur sebagaimana suburnya wilayah.
 Khatimah, berharap bahwa pesantren tidak lagi menjadi institusi yang dituding mengandalkan bantuan, pemerintah tidak lagi membeli ikan, tetapi membeli pancing atau menyediakan tambak ikan. Semoga!

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih