01 Oktober 2011

Do'a Untuk Korupsi

Pagi nan indah, langit cerah secerah harapan ummat manusia untuk menatap kebaikan hidup. Tersebut kisah di sebuah kecamatan pedalaman Pidie. Pagi itu, tepatnya hari sabtu, saya dikirim sms oleh teman saya “zar, tubiet tajep kupi (zar, keluar kita ngopi”, tanpa menunggu lama saya langsung membalas sms kawan saya “oke, nyoe segera meluncur (oke, ini segera meluncur”). Segera saja saya bersiap-siap untuk berangkat ke warung kopi yang jaraknya kira-kira 500 meter dari rumah saya, 5 menit bersepeda motor saya tiba di warung kopi. Saya segera mencari tempat duduk yang strategis, lima menit kemudian, 5 orang kawan saya datang bersamaan, termasuk kawan yang mengirimkan sms ke saya.
Kami segera memesan kopi telur, sambil menunggu pesanan datang, kami bercerita panjang lebar, sebab sudah sebulan kami tidak ngopi bareng. Tanpa sengaja pembicaraan kami beralih kepada pelisiran Anggota Dewan. “Anggota dewan gadoh peu abeh peng rakyat (Anggota dewan asyik menghamburkan uang rakyat)”, ketus Sayuti, Sayuti memang kawan saya yang sedikit agak kritis. Menanggapi sayuti, Nasril Adly menyambung “memang Indonesia ka lale ngen korupsi (memang Negeri Indonesia telah lalai dengan korupsi?”) demikian pernyataan Nasril Adly yang juga salah seorang Anggota Wilayatul Hisbah (WH) Kabupaten Pidie.
Tiba-tiba pesanan pun datang, kami kemudian menikmati kopi telur yang rasanya maknyos. Sambil menikmati kopi, saya mencoba menyambung diskusi kami yang sempat terputus tadi, saya melempar wacana ada tidak cara biar Negeri ini aman dari Korupsi. Secara spontan Ahyar langsung menjawab “sang hana cara, gawat that ka korupsi lam nanggroe tanyoe (tidak ada cara lagi, kronis sekali korupsi di Negeri ini). Tengku Helmi yang tadi diam sambil menikmati kue sebagai pelengkap kopi, sambil menarik nafas panjang meletakkan peci hitam yang dipakainya. Sambil tersenyum penuh makna beliau berkata “ta meudoa uroe-malam, beugadoeh korupsi ngat get nanggroe, tapi hoe trep maken meutamah, huffh.. (kita berdoa siang malam semoga negeri ini aman dari korupsi, tapi nyatanya semakin hari korupsi semakin menjadi-jadi”).
Terlihat keputusasaan dalam raut wajah Tengku Helmi memikirkan korupsi di Negeri ini, beliau terlihat pasrah. Sejenak kami semua tercengang, seiring dengan helaan nafas panjang Tengku Helmi, helaan nafas putus asa. “Malaikat tapuduek ke pejabat, nyan baro hana korupsi lee (malaikat kita tempatkan sebagai pejabat, baru korupsi hilang di Negeri ini)”, demikian pernyataan mukhlis, dia paling muda diantara kami. Sayuti yang tadi asyik dengan hp, langsung menyambung pernyataan mukhlis, dia mengatakan bahwa korupsi tidak hanya pejabat, semua kita korupsi termasuk guru, pegawai rendahan di kantor, bahkan kepala desa (Aceh; Geuchik).  
Saya sebenarnya dari tadi bingun dan penasaran, pertanyaan saya tadi tentang cara penanganan korupsi tidak ada jawabannya, yang ada hanya pernyataan dalam keputusasaan, pikiran saya terus saja bermain, apa memang benar di Negeri ini korupsi tidak bisa diberantas lagi. Tiba-tiba, sayuti mengajungkan tangan, dia tersenyum penuh tanda tanya pula, “bak lon na cara, tameudoa awak yang korupsi beuditak lee geulanteu, nyan baroe hana awak korupsi lee (saya puny ide, kita berdo’a semoga para koruptor mati disambar petir)”, idenya ini disambut oleh ketawa lepas kami semua, semua kami tertawa lepas seolah-olah tak ada beban berat dalam diskusi kami.
Tanpa terasa kami sudah setengah jam di warung kopi, namun waktu terasa sangat singkat, apalagi saya yang masih penasaran dengan renspon kawan-kawan tentang penanganan korupsi di Negeri ini. Tiba-tiba Nasril Adly memberi pendapat, menurutnya bahwa koruptor adalah pencuri dan pencuri hukumannya adalah potong tangan, andai hukum potong tangan diberlakukan untuk para koruptor mungkin negeri ini akan sedikit terobati oleh virus korupsi, demikian pendapatnya. Namun, dengan sigap pula Sayuti membantah, “untuk tapeugoet qanun koh jaroe koruptor peureseh lagee tapheet bate (untuk menghasilkan peraturan potong tangan untuk para koruptor, persis seperti memahat batu)”.
Saya mencoba menyela dengan memberi pendapat  biarlah korupsi yang terjadi dibiarkan saja, tetapi sekarang dimulai dengan menata kembali, terutama anak-anak dan generasi muda agar tidak terkontaminasi dengan korupsi. Pendapat saya ini langsung dibantah oleh Ahyar, “mangat that awak korupsi, hana payah hukom lee (enak sekali para koruptor, mereka tidak mendapat hukuman lagi)”. Bang Ridwan yang dari tadi duduk termenung ikut nimbrung, menurutnya salah satu cara adalah memasukkan kurikulum pendidikan korupsi sejak dini, baik untuk tingkat dasar, menengah dan atas, atau posisi basah dan pejabat diisi oleh orang yang baik perangai dan kuat imannya, namun ia juga tidak menjamin akan ada banyak orang di negeri ini yang model ini.
Diskusi kami ending-nya tanpa kesimpulan, rasa penasaran pun mendera pikiran saya, bagaimana formula anti korupsi di negeri ini. Saya pun heran, entah mengapa pikiran saya ngotot mencoba mencari ide pendekatan anti korupsi, saya pun tidak habis pikir. Kami pun pulang ke rumah masing-masing, diskusi kami hanya menyisakan pernyataan dalam keputus-asaan anak negeri dalam mengamati korupsi di Negeri ini.
Setibanya di rumah, saya segera mengobrak abrik buku-buku di atas meja belajar saya, saya mendapatkan satu buku dengan judul HAM dalam perspektif Islam, saya membukanya, saya temukan halaman yang membahas tentang korupsi, di situ disebutkan bahwa salah satu pendekatan anti korupsi adalah dengan pendekatan tasawuf, sebab dengan tasawuf manusia akan memiliki sifat qana’ah i(menerima apa adanya), tidak serakah dan sifat-sifat baik lainnya.
Buku ini pun membuat saya makin penasaran, pikiran saya terus berbicara bahwa buku ini terlalu normative, namun saya pingin ide konkrit yang langsung menyetuh pokok masalah yang dihadapi, yaitu penanganan korupsi baik tingkat bawah maupun tingkat atas. Singkatnya, hari itu saya terus dibuat penasaran oleh pikiran saya sendiri, pikiran ngotot menemukan konsep konkrit pemberatasan korupsi. Malamnya, menjelang tidur, pikiran saya pun kembali wara-wiri, memikirkan mengapa di negeri ini banyak terjadi korupsi, dan kolusi, dan mengapa pula di negeri ini yang korupsi malah mendapat perlindungan. Namun, sisi lain pikiran saya juga berkata, persetan dengan korupsi, yang penting kita tidak terlibat dalamya. Malam penuh penasaran.
Dalam tidur saya bermimpi, mimpi pun bukan kepalang tanggung, saya melihat banyak orang berkumpul di sebuah lapangan sepak bola, ada juga orang yang berdiri sambil diikat kedua tangannya dan ditutup mata, saya menghitung jumlah mereka Sembilan puluh Sembilan orang. Tiba-tiba semua mereka ini ditembak oleh serdadu yang sedari tadi siaga dengan senapan mesin, mirip ekstradisi yang dilakukan hitler di kamp penampungan pengungsi yahudi tempo dulu. Setelah itu,  majulah seorang pria, pria ini lengkap dengan baju kebesarannya sebagai seorang Raja Negeri, dia berpidato “Wahai Rakyatku sekalian, hari ini kita telah membuat sejarah baru, tukang-tukang korupsi telah kita eksekusi mati, di Negeri ini tidak ada lagi yang namanya korupsi, lihat mereka hari ini, dulu boleh mereka berbangga diri, hidup dalam kemewahan hasil menjarah dengan korupsi, hari ini mereka telah mati. Kepada anak-anak kami pewaris negeri ini, jangan terkontaminasi oleh warisan orang tua kalian, jangan pernah ikut jejak mereka menjadi manusia koruptor, rajin-rajinlah belajar dan mengaji, semoga negeri ini aman di tangan kalian nanti, dan lenyap korupsi”. Akhir pidato Raja Negeri, saya pun terbangun dari mimpi.
Saya mengambil hp yang diletakkan di samping saya, rupanya saya bermimpi jam 2 dinihari. Menurut orang tua, jika mimpi sepertiga malam atau dinihari biasa mimpi akan menjadi kenyataan. Pikiran saya pun tidak lagi tenang, batin saya terus bertanya mungkinkah mimpi saya akan jadi kenyataan, para koruptor dieksekusi seperti di Cina. Saya pun tidak mampu menjawab dengan pasti, tetapi yang pasti mungkin harapan semua orang di Negeri ini seperti itu, hilang para koruptor ahli mencuri di negeri ini.
Hari senin, saya kembali masuk kantor melaksanakan aktivitas sebagai Pegawai Negeri Sipil, hari itu saya masih teringat mimpi satu hari yang lalu, sambil duduk di meja kerja, saya terus saja menarawang mencari tafsir mimpi, mimpi yang penuh misteri, mungkinkan mimpi saya menjadi kenyataan, inilah pertanyaan yang selalu mengusik batin dan pikiran saya, jika terjadi tentu negeri ini akan mendapat penghargaan tinggi, satu-satunya negeri yang berhasil menghukum mati para koruptor dengan jumlah yang tidak sedikit. Namun, jika ini hanya mimpi, mungkinkah negeri ini akan terus menjadi-jadi, negeri ini bakal berganti nama menjadi Negeri Korupsi, 90 persen rakyatnya hidup dengan mencuri dan menipu negeri.
Tetapi hanya satu yang pasti, bahwa korupsi adalah perbuatan keji, ia akan kalah oleh kebenaran dan doa’ anak negeri yang benci kepada koruptor dan pencuri, suatu hari akan datang kekuatan yang akan mengalahkan mereka yang sesumbar dengan kekejian, sesumbar dengan harta menipu negeri, sewenang-wenang dengan kekayaan yang dihasilkan dari korupsi, itu pasti, semoga datangnya membawa berkah dan damai di Negeri ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih