15 April 2011

Belajar dari SMS (1)


Beberapa hari yang lalu, seorang perempuan rekan satu ruang kerja dengan saya, umur beliau 40-an tahun, saya pun memanggil beliau dengan sebutan kakak. Beliau sengaja mengirimkan sms kepada saya, isi sms beliau adalah 

“Hidup adalah belajar. Belajar bersyukur, meski tak cukup, belajar ikhlas mesti tak rela, belajar taat meski agak berat, belajar memahami meski tak sehati, belajar sabar meski tertindas dan terbebani, belajar member meski sedikit, belajar mengasihani meski disakiti, belajar tenang, meski gelisah dan gundah, belajar percaya meski dikhianati, belajar bangkit meski jatuh bangun dan putus asa…!”

Saya tidak tahu apa maksud sms beliau ini dikirimkan kepada saya, tapi saya ambil hikmah bahwa beliau sebagai orang yang lebih tua mengajarkan saya tentang hidup ini lewat smsnya. Saya membaca sms beliau berulang kali, memahami setiap kata yang penuh makna dan tanda Tanya. Batin saya berbisik, jika kita harus belajar terus, kapan bisanya? Namun, batin saya juga berbisik bahwa hidup ini kadang tidak seperti keinginan kita, kita pingin A yang didapat malah C. batin dan pikiran saya terus bergejolak menganalisa sms beliau. 

Jika dicermati dengan seksama, hidup memang harus disyukuri meski tidak cukup, bersyukur bahwa yang Maha Pengasih dan Penyayang masih memberikan rahmat-Nya kepada kita, walau kadang rahmat itu kita merasa belum cukup. Susah memang menjadi hamba yang bersyukur, bersyukur dalam segala ihwal kehidupan, tidak hanya sekedar mengucap Alhamdulillah sebagai syukur, tetapi syukur yang sebenarnya adalah menempatkan nikmat itu pada kehendak pemberi nikmat. Demikian salah satu definisi yang pernah saya dapatkan saat nyantri di Pesantren. 

Harus diakui bahwa hidup kita penuh dengan nikmat, andai satu detik saja nikmat udara yang kita hirup dihentikan maka kitapun akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini. Banyak sudah nikmat yang sudah kita konsumsi, namun apakah sesuai dengan syukur kita kepada pemberi nikmat. Saya teringat sebuah kisah saat suatu malam Ainsyah terbangun dari tidurnya, dan mendapati Rasulullah tidak lagi berbaring di sampingnya, beliau melihat Rasulullah sedang melaksanakan shalat. Usai shalat, Ainsyah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau rajin beribadat, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa engkau, dan memelihara mu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab “Alaisa an akuna a’bdan syakura (apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur)” kurang lebih begitulah kisahnya. 

Bercermin dari kisah ini, Rasulullah merupakan habibullah, orang yang dijamin masuk surga, ibadatnya luar biasa sebagai manivestasi syukurnya kepada Allah SWT. Namun, bagaimana dengan kita, apakah juga demikian, bagaimana kuantitas dan kualitas ibadat kita? Pertanyaan ini hanya pribadi kita masing-masing yang mampu menjawabnya, yang pasti kita harus bersyukur, sebab syukur itu adalah sebuah ukuran yang akan menakar iman dan ketakwaan kita kepada Allah. Ya Rabb, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur. 

Kembali ke sms kakak yang sekantor dengan saya, salah satu kalimat sms beliau adalah belajar ikhlas meski tak rela. Saya tidak mampu melukiskan keikhlasan itu bagaimana, bagaimana wujudnya, dan bagaimana pula mengukur bahwa seseorang itu ikhlas, sebab kata Tengku saya bahwa ikhlas itu adalah persoalan hati, hanya kita dan Alllah yang tahu. Jika mulut kita mengatakan “saya ikhlas” tetapi hati kita masih pamrih dan riya maka itu belumlah dinamakan ikhlas, atau mungkin juga mulut kita mengatakan “saya tidak ikhlas” tetapi hati kita tulus karena Allah, itu sudah dihukumkan ikhlas. Sukar untuk memvonis bahwa orang itu ikhlas. 

Ikhlas adalah hal yang memang mudah dilafalkan namun susah diterjemahkan dalam kehidupan, saat iblis dikutuk oleh Allah SWT, iblis berjanji akan menggoda anak Adam sebagai temanya dalam neraka, Allah memepersilahkan iblis menggoda hamba-Nya kecuali hamb-hamba yang ikhlas, demikian kisah ini disebutkan dalam Al-Qur’an, tapi saya tidak hafal tepatnya dimana ayat tersebut. Kita berharap semoga tutur kita ikhlas, perbuatan ikhlas, dan bahkan kemalangan yang ditimpakan oleh Allah kita pun ikhlas untuk menerimaanya. Kalau di kaitkan, syukur kita kepada Allah akan berbanding lurus dengan tingkat keikhlasan kita kepada Allah SWT. Jika syukur kita berkualitas maka akan mempengaruhi kualitas ikhlas kita (wallahu a’lam bisshawab).

Selanjutnya sms beliau itu belajar taat meski agak berat. Memang jalan kebaikan selalu ada rintangannya, jalan keburukan selalu indah dan mulus jalannya, seperti dilagukan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama. Sebenarnya, ketaatan harus kita tradisikan dalam kehidupan, taat mematuhi perintah Allah, taat menjunjung tinggi amaran Rasulullah, itu berat memang tapi harus kita tradisikan dalam kehidupan ini. Jika ketaatan telah menjadi tradisi maka berat tidak akan terasa lagi. Perlu kita catat, bahwa jangan sampai kita taat kepada makhluk yang menyebabkan maksiat kepada khaliq, bahkan dalam Agama diajarkan bahwa seorang anak diperintahkan untuk tidak taat kepada orang tua yang mengajak kepada kekufuran. Namun  demikian, agama memerintahkan wasahibhuma fiddunya ma’rufa (dan bergaulah dengan keduanya (orangtua) di dunia dengan cara yang makruf).

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih