02 Februari 2011

Pemimpin Negeri, Sejati atau Imitasi?


Tercatat dalam sejarah, Aceh tempo dulu dipimpin oleh orang-orang yang arif, kepemipinan mereka membawa kedamaian dan kesejahteraan, baik di kota maupun di desa. Indahnya kehidupan ini dilukiskan dalam syair Aceh, Iskandar Muda raya yang adee, duson dengan glee aman sentosa (Iskandar Muda adalah pemimpin yang adil, kota dan desa aman sentosa). Banyak pemimpin Aceh yang namanya disebut-sebut dalam literatul sejarah, jasanya dikenang oleh setiap kalangan, bahkan metode kepemimpinannya selalu menjadi harapan. Namun, lambat laun, pemimpin adil sulit dicari, diperparah lagi dengan kesemrautan Negeri. Mencari pemimpin arif dan adil bagai mencari mutiara, namun jika didapat berharganya pun luar biasa, demikian kira-kira tamsilan susahnya mencari figur pemimpin sejati. 

Sebenarnya, Rasulullah dan para sahabatnya telah memberikan teladan bagaimana memimpin. Umar bin khattab dan Umar bin Abdul Aziz telah mempraktikkan bagaimana memangku jabatan tertinggi dalam sebuah Negara, bagaimana menempatkan kepentingan umum, dan kepentingan pribadi. Dua Umar ini telah memberikan tauladan bagi para pemimpin sekarang, bagaimana menjadi pemimpi adil dan arif. 

Sekarang, tauladan dua orang Umar mungkin hanya menjadi romantisme sejarah yang indah saat dikenang, sulit rasanya mencari figur Umar di zaman modern sekarang, kendatipun dicari di bumi yang bersyariat. Kenapa demikian? Jawaban singkatnya, tentu orientasi yang berbeda, dulu orientasinya mengharap ridha Ilahi melalui memimpin Negeri, sekarang mengharap rezeki dengan jalan memimpin Negeri, meski ilahi tak merestui. Perbedaan orientasi inilah yang mungkin menyebabkan perbedaan cara memimpin, jika orientasi mengharap keridhaan Ilahi, tentu konsep yang digunakan mesti mendapat ridha Ilahi, namun jika orientasi materi tentu konsepnya bagaimana memperkaya diri.

Abdullah Syafi’i adalah Panglima Gerakan Aceh Merdeka yang fenomenal, wasiatnya perlu dikenang dan dibukukan dalam catatan sejarah gemilang, apa wasiat beliau “Meunyo bak saboh uroe ka tadeungo lé gata nyang bahwa lôn ka syahid, bèk tapeuseudéh dan putôh asa. Lantaran jeueb-jeueb watee lôn meulakee bak Po teuh Allah Beuneubri lôn syahid watèë Nanggroë geutanyoë ka toë bak mardéhka, meuseubab hana peurelèë sipeuë jabatan pih meunyo Nanggroë ka mardeka, nyang lon peureulee pemimpin beuamanah rakyat beuseujahtra” (“Jika suatu hari nanti kau dengar aku telah tiada, jangan bersedih dan putus asa, sebab setiap waktu aku berdoa semoga Allah memanggilku saat negeri ini belum merdeka. Aku tak butuh jabatan saat negeri ini merdeka, yang kubutuhkan, para pemimpin menjaga amanah agar rakyat sejahtera”)[1]. Subhanallah, Jelas terlihat, Abdullah Syafi’i berjuang dengan orientasi ridha Ilahi, sehingga tak ada jabatan yang diharap dalam negeri ini, setiap waktu hanya syahid yang diharapkan.

Kini, Aceh akan berpesta lagi, memilih calon pemimpin Negeri, memilih nahkoda kapal yang berjuluk Serambi Mekkah. Realita sekarang, semua ingin menjadi pemimpin Negeri, semua ingin menjadi orang nomor satu. Singkatnya, semua bernafsu, bernafsu menjadi pemimpin bumi bersyariat, bernafsu ingin menjadi Imam. Anehnya, yang bernafsu kadang tidak tahu malu, tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, tidak mengerti bahwa dirinya belum layak menjadi pemipin Negeri.

Kita sebagai rakyat, jangan salah pilih, jangan karena pertimbangan family, pertimbangan materi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang merusak kemurnian hati nurani. Jika ingin memilih, pilihlah mereka yang punya hati nurani, mereka yang tahu diri dan tahu bagaimana memimpin Negeri, jangan salah pilih, sekali salah lima tahun lamanya kita meratapi kesalahan ini. Jangan terpengaruh oleh hebatnya orasi mereka saat berkampanye, jangan tergiur oleh aksi-aksi mereka yang menarik simpati, jangan percaya dengan janji yang mereka sampaikan. Ingat, aspirasi kita menentukan nasib bangsa, aspirasi kita tidak seharga kotak Indomie, suara kita jangan dihargai dengan sekarung beras, dan sehelai kain sarung tidak cukup untuk membeli aspirasi kita.

Selamat, bagi mereka yang ingin mencalonkan diri menjadi pemimpin Negeri, menjadi pemimpin berat tanggung jawabnya. Harapan masyarakat ada di tangan anda, jika nanti mendapat tahta. Ingat, salah mempergunakan tahta di dunia, merana dan menderita di akhirat nanti. Jangan membeli neraka dengan memimpin Negeri.


[1] J. Kamal Farza, Serambi Indonesia, 22 Januari 2011

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih