08 Februari 2011

Menjarah di Negeri Bedebah

Lolongan anjing menggema, menembus kegelapan malam yang ditemani desiran angin yang menusuk hingga ke tulang belulang. Malam sunyi penuh bintang, ditemani redup malam yang menutupi gagahnya sinar rembulan, malam gelap gulita. sebuah Gampong, di tengah jalan lengang lalu lalang dua anak manusia, mereka mengembara entah kemana, mengembara mencari rezeki dengan membuat orang menderita. Sebelum berangkat, dua anak manusia ini menadahkan tangan, memohon kemurahan sang Pencipta alam. Mereka meratap " Ya Rabb, malam ini niat hati kami nak menjarah di Negeri kaum bedebah, lapangkan jalan kami, jangan ada halang rintang. Kami nak mengambil harta mereka yang dijarah di Negeri lain"
Dua penjarah ini berjalan penuh waspada di tengah malam gulita, mereka bercakap penuh hikmat dalam perjalanan mereka, "kawan, berhasil tidak malam ini kita menjarah, apa Tuhan mendengar pinta kita? Tanya penjarah junior, "tak mungkin Tuhan abaikan rezeki hamba-Nya, pastilah didengar permohonan kita" jawab penjarah senior. "Kawan, jika Tuhan dengar permintaan kita, mengapa sampai saat ini belum ada rumah bedebah yang akan kita jarah" bantah penjarah junior. Dalam perjalanan menelusuri lorong gampong bedebah, penjarah menatap kehidupan malam Negeri Kaum bedebah, di pojok lorong ada kios tempat anak muda tertawa, mereka lagi bercerita dunia, cerita bagaimana menjadi bedebah, bercerita bagaimana menjarah. Herannya, turut serta bersama mereka paras orang tua, bahkan mereka tambah cerita mendukung kaum muda menjadi bedebah.
Mata penjarah terus saja menatap rumah mewah Negeri bedebah, mereka mendekat sambil berbisik, setelah mendekat ternyata rumah mewah ini ada pesta, pesta besar bagai acara kawin anak Raja, pesta besar harga 100 milyar, demikian kata orang Negeri Indonesia. Penjarah menatap hiruk pikuk pesta meriah di rumah mewah ini. Penjarah senior bilang, "kawan, tak mungkin kita menjarah di rumah mewah ini, di sini ada pengawalnya, mereka dibayar mahal menjaga rumah mewah ini, biar tidak dijarah lagi" Penjarah senior bertanya, "mengapa mereka mau menjaga rumah bedebah, padahal mereka tahu rumah ini hasil menjarah". penjarah senior melanjutkan "kawan, ini masalah uang, uang bikin bedebah kecil gelap mata, ini kebanggaan kawan, biar ini rumah bedebah hasil menjarah"
Penjarah terus saja melangkah, melangkah mendekati gubuk reot yang hampir menyentuh tanah, di gubuk ini masih ada lentera menyala, membuat rumah menjadi merah. Penjarah mendekat, mereka mengira mungkin ada harta yang bisa dijarah. Hati mereka tercengang, nafas hilang dan langkah tertahan, mereka kasihan melihat keluarga yang menangis, mereka kelaparan tiada makanan. Penjarah junior bertanya pada seniornya "Kawan, memang Negeri ini bedebah, di sana pesta pora menghambur harta, di sini mereka menderita, padahal mereka bertetangga" Penjarah senior memberikan arahan "kawan, inilah Negeri bedebah, di Negeri ini yang kaya terus kaya, yang menderita teruslah menderita, tak ada yang namanya saudara, malah mereka senang jika saudaranya menderita, bedebah, bedebah, bedebah" Nampaknya, dua penjarah ini angkat salut melihat hidup rakyat Negeri bedebah, mereka akhirnya bali arah tak jadi menjarah.
Penjarah ini akhirnya pulang dengan tangan hampa, ternyata Tuhan tidak mendengar pinta mereka, di jalan mereka berhenti dan menegadahkan tangan untuk kembali berdoa "Ya Rabb, kami berjanji takkan menjarah lagi, cukup sudah kami melihat Negeri yang bedebah ini, Tuhan! jauhkan kami dari mereka para bedebah ini, Ya Rabb! Pada-Mu kami menyerahkan mereka yang berdebah ini, kami tak sanggup menghentikan mereka, kami pun tak sanggup menyadarkan mereka, sebab bedebah telah menjarah hati-hati mereka. Ya Rabb pada-Mu kami serahkan ini semua, kami berharap Negeri ini tak lagi bedebah, Negeri ini berubah hilang para bedebah"

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih