29 Januari 2011

Kiprah santri di ajang PORSENI


Porseni, adalah even olah raga dan seni antar Madrasah yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Dalam ajang ini dipertandingkan beberapa cabang olah raga dari beberbagai jenjang pendidikan, baik ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliiyah. Tidak ketinggalan turut juga diperlombakan beberapa cabang seni, mulai dari MTQ, Syarhil QUr’an, Busana Muslim, rebana, cerdas cermat, bahkan lomba Qiraatul Kutub.  Apresiasi pantas diberikan bagi panitia penyelenggara dan pelaksana, sebab PORSENI ke-12 yang diselenggarakan di Meulaboh sejak tanggal 10-15 Januari 2011 telah terselenggara dengan sukses, tidak hanya panitia, semua pihak yang telah menyukseskan terselenggaranya PORSENI Ke-12 juga patut diberikan apresiasi seraya menghaturkan ribuan terima kasih atas partisipasi dan dukungannya. 

PORSENI adalah even Madrasah, sebab semua yang terlibat dalam pertandingan dan perlombaan adalah siswa Madrasah. Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa peran Pesantren juga terlihat dalam even PORSENI, sinergisitas antara Pesantren dan Madrasah terlihat kentara, kendati dengung Pesantren-Madrasah baru dibunyikan. Kontribusi Pesantren terlihat dalam perlombaan Qiraat Kutub, siswa Madrasah yang menjadi Peserta Qiraat Kutub ternyata juga santri Pondok Pesantren, sebab membaca Fathul Muin sebagai kita yang dilombakan dalam PORSENI hanya diajarkan di Pesantren. Singkatnya, siswa merangkap santri. 

Jika merujuk dalam sejarah, memang kemunculan Madrasah dan Pesantren memiliki alur sejarah yang berbeda. Goerge Makdisi, berpendapat bahwa madrasah khususnya yang didirikan oleh Khalifah Nizam al-Mulk di Bahgdad, adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk mengajar fiqh dengan mengenyampingkan ilmu-ilmu agama lainnya, demikian pendapat Makdisi dalam artikelnya "Lembaga-lembaga Pendidikan Muslim pada abad 12 di Bagdad”. Anthony Reid dalam bukunya The Rope Of God, telah berkisah tentang Asal Mula Pesantren dan perkembangan pada masa abad ke-19 M dan pertengahan abad ke 20 M.

Kita tinggalkan sejenak romantisme sejarah Pesantren dan Madrasah, karena memang keduanya punya catatan sejarah yang berbeda. kembali kita ke even PORSENI ke-12. Dalam Konteks Qiraat Kutub dalam even PORSENI, secara tidak langsung terlihat kompetensi antar Pondok Pesantren, kompetensi yang menguji santri Pesantren mana yang unggul dalam membaca kitab gundul. Kompetensi santri Pesantren mana yang telah mampu melakukan interpretasi teks arab gundul menjadi bahan pengetahuan yang dibungkus dengan ilmu nahwu, saraf dan bayan. Menurut para penonton yang menyaksikan kepiawaian mereka dalam membaca arab gundul, mereka amat sangat tenang menjawab pertanyaan para dewan hakim, baik pertanyaan itu berkenaan dengan syakal, ma’na dan tarjamah. Semua dapat dijawab meski ada plus-minusnya.  

Dalam kompetisi Qiraat Kutub, untuk kategori Putera, Bireun yang diwakili oleh Husni Mubaraq keluar sebagai juara pertama, disusul Muazzin yang berasal dari Pidie menempati juara kedua, kemudian Banda Aceh menempati juara ketiga dengan perwakilan Putra Mardhatillah. Kategori Puteri, Banda Aceh keluar sebagai juara pertama dengan peserta Gustiaraini, kemudian Sajidah yang mewakili Aceh Besar sebagai jura kedua, kemudian pada posisi juara ketiga diperoleh oleh Maisuriati utusan dari Aceh Selatan. Para siswa ini, yang juga santri Pondok Pesantren telah memberikan kontribusi dalam penyelenggaraan PORSENI ke-12, kiprah mereka telah memberikan hasil terbaik bagi daerah masing-masing. Diharapkan mereka ini pun dapat memberikan kontribusi dalam penyelenggaraan seleksi persiapan Musabaqah Qiraat Kutub Nasional (MQKN) yang akan diselenggarakan pada bulan juni mendatang di NTB. 

Sekali lagi, Santri merangkap siswa sebagai bukti peran dua institusi pendidikan yang telah terbina sinergisitasnya, kontribusi dua lembaga pendidikan ini diharapkan dapat memberikan problem solving dari permasalahan dekadensi moral remaja yang sedang melanda bumi serambi Mekkah, hidup Pesantren, hidup Madrasah!

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih