25 Desember 2010

Kesadaran Berlalu Lintas, Awal Kesadaran Bersyari’at

Oleh : Zarkasyi Yusuf

Beribadatlah kamu seolah-olah kamu melihat Allah,
Jika kamu tidak dapat melihat Allah, yakinlah Allah
Melihat mu (Al-Hadist)

Itulah pesan Rasulullah kepada ummatnya, Rasulullah mengharapkan ummatnya melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan. Pesan Rasul ini dipakai ulama untuk mendefinisikan pengertian ihsan, ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah melihat Allah, dan jika kita tidak dapat melihat Allah maka pastilah Allah melihat kita. Sifat ihsan akan menumbuhkan kesadaran tinggi dalam pribadi seseorang, sehingga ia akan bertutur, bekerja dengan ikhlas karena Allah dan tidak riya, ia akan melaksanakan sesuatu dengan tekun walau tanpa pengawasan.
Mendengar, membaca bahkan melihat berbagai kecelakaan lalu lintas (laka lantas) terjadi dimana-mana tentu sangat memprihatikan dan menyedihkan, setiap hari ada korban di jalan raya, korban oleh kecerobohan dan keteledoran sebahagian kita dalam berlalu lintas. Banyaknya laka lantas mengindikasikan bahwa kesadaran berlalu lintas sangat memprihatikan, pemandangan ini dapat dijumpai di jalan raya terutama di Banda Aceh, banyak pengguna jalan raya yang kesadaran berlalu lntasnya masih memprihatikan, sebagai contoh misalnya, pelanggaran terhadap lampu merah, ketika lampu merah menyala dan di depan kosong atau sedikit lengang dan tidak ada polisi lalu lintas yang mengawasi maka ada saja orang yang menerobos dan melanggar aturan lampu merah, pemandangan ini dapat kita lihat di beberapa traffic light yang ada di kota Banda Aceh.
Dalam kasus ini ada beberapa factor yang mendorong orang melanggar lalu lintas, pertama karena suasana jalan sepi dan sedikit lengang, tindakan ini telah mengabaikan azas mamfaat, bayangkan saja, jika tiba-tiba ada kenderaan yang melintas saat kita menerobos lampu merah apa yang akan terjadi? Dan kalau ini sering dilakukan maka akan membentuk sebuah tradisi yang akan sulit diperbaiki dan dihilangkan. Faktor kedua karena tidak ada polisi lalu lintas yang mengawasi, tindakan ini jelas mengindikasikan bahwa kesadaran dari pengguna jalan sangat lemah, padahal ada ataupun tidak polisi lalu lintas lampu merah merupakan perintah untuk berhenti dan ini harus ditaati, jika tidak kita juga melanggar azas mamfaat dan bahkan nyawa melayang gara-gara kecorobohan ini. Dari analisis dua faktor tersebut, penulis sampai pada kesimpulam bahwa kesadaran berlalu lintas adalah awal kesadaran bersyariat.

Kesadaran Bersyari’at
Sebagai seorang muslim kita meyakini bahwa Allah memiliki sifat bashar (melihat), Allah mampu melihat setiap tindak tanduk manusia di dunia, dan tindakan manusia tersebut akan diminta pertanggung jawabannya nanti di yaumil mahsyar, termasuk melanggar lampu merah. Dalam penerapan syari’at Islam, kesadaran melaksanakan syari’at merupakan salah satu faktor yang menjadi penentu keberhasilan implementasi syari’at Islam, betapa tidak, syari’at merupakan kebutuhan hidup manusia, jika manusia mengabaikan kebutuhan hidupnya tentu akan menimbulkan ketimpangan-ketimpangan baru dan bermasalah dengan dirinya.
Sebagai contoh kecil, berpakaian muslimah merupakan kewajiban bagi perempuan, dan bahkan perisai bagi mereka dari gangguan orang-orang nakal, tetapi realita banyak perempuan terutama mahasiswi yang banyak melanggar aturan berpakaian, apalagi tidak ada razia wilayatul hisbah tentang penertiban pakaian, ini sungguh sangat ironis jika direnungkan, berpakaian muslimah kewajiban yang harus dipatuhi oleh perempuan baik di razia atau pun tidak, jika kesadaran ini kurang maka kita akan selalu melihat pemandangan yang merangsang kaum laki-laki.
Dalam kasus ini pula ada dua faktor yang menjadi penyebab terjadinya tindakan ini, yaitu karena tidak ada pengawasan dari wilatul hisbah dan rendahnya kesadaran, penulis tidak mau mendekte perempuan dalam melakukan setiap tindakannya terutama cara berpakaian, dan penulis juga tidak mau terkesan mendeskriminasikan perempuan, dalam tulisan ini penulis hanya mengingatkan kembali bahwa kesadaran merupakan kunci sukses setiap pekerjaan termasuk penerapan syari’at Islam, jika kesadaran masih perlu dipertanyakan maka pelaksanaan syariat masih diragukan kesuksesannya.
Mari menjaga ketertiban lalu lintas dan menumbuhkan kesadaran beralu lintas, ini nantinya akan menjadi penndorong bagi kita untuk sadar melaksanakan hukum dan peraturan yang diturunkan sang penguasa di atas segalanya, jangan kita terjebak oleh kecerobohan yang berakibat fatal pada diri sendiri, baik berlalu lintas dan juga enggan bersyari’at.