31 Desember 2010

Menghargai Persahabatan


Salah satu hal yang menyenangkan dalam hidup ini adalah bersahabat, apalagi sahabat yang bisa diajak untuk mengerti pentingnya menghargai, menghormati dan menolong dalam kehidupan, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, jika demikian sungguh indah hidup ini. Jika kita telah menyatu dalam persahabatan, tentu keberatan dalam membantu akan menjadi ringan, beban dalam bekerjasama tentu akan hilang, pastinya yang berat akan terasa ringan, yang rumit tidak akan terasa sulit, yang susah akan terasa mudah dan indah.
Bersama dengan segala perbedaan modal kuat dalam meniti kukuhnya sebuah persahabatan, menghargai dalam kegembiraan, menangis dalam kedukaan, bahkan tawa dalam kesenangan akan manis dilakukan. Kebersamaan, adalah keindahan, apalagi ditemani dengan ceria yang bermakna.
Kesibukan dan kepentingan hidup akan jadi persoalan, merenggangkan keakraban yang telah dirapatkan. Kepentingan dalam bersabahat tentu akan menjadi racun, racun yang dirasa pengkhiatan oleh kawan yang ikhlas dalam memberikan segalanya, memang kadang kita tak sengaja, tapi ihwal kita membuat orang lain menderita, pahit memang merasakan ketulusan yang dilakoni dalam kepentingan, getir memang menelan canda yang dibungkus dengan egoisme dan hal lain yang berbau nilai “aku”.
Kadang kita harus memberikan penghormatan, kadang memberikan sanjungan, harus berkorban, itupun demi teman. Namun, jika nilai pengorbanan, dihargai dengan kepentingan yang sesaat, tentu makna manis akan menjadi mimpi, mimpi pahit akan hadir jadi nyata walau dalam canda dan tawa. Sulit menelan pil pahit yang suguhkan kawan, rasanya tak ada tisu untuk menyapu air mata yang terluka, hancur hati bagai dihujam sembilu.
Yang kita rasakan sekarang, mungkin telah dulu orang rasakan, tapi mengapa mereka diam, tapi mengapa mereka tak bersuara, dan mengapa mereka membisu dalam makna kata. Jawabannya, demi kawan dan kekompakan tentunya, ada memang sahabat yang perlu ditegur dengan senyum, dengan kata-kata, bahkan disapa dengan kata-kata nista, mengapa, demi kawan tentunya, berubah, biar terarah dan kekompakan tidak dinilai salah kaprah, serta persahabatan bakal langgeng walau berpisah.
Kutulis ini dengan ditemani airmata bahagia, terutama buat mereka yang mengerti makna sebuah kesetiaan dalam persabatan, jemari ini bergerak sebagai “tabik” hormat bagi mereka yang mengerti makna cinta dalam berteman, mengerti makna kasih sayang.