23 Desember 2010

Menggagas Gampong Bersyariat

Negeri bersyariat, demikian peyebutan nama yang lazim terdengar untuk Nanggroe kita, Aceh. Namun, syariat Islam yang telah satu windu lebih dikumandangkan pelaksanaanya, penerapannya masih belum kaffah sebagaimana harapan. Belum kaffahnya penerapan syariat Islam dipengaruhi oleh banyak faktor yang mungkin kita telah faham. Jika diibaratkan bahwa penerapan syariat Islam bagaikan orang makan bubur, makan hanya dipinggir-pinggir piring menunggu bubur yang di tengah piring dingin. Begitu pula penerapan syariat Islam, masih hanya menyentuh “hal-hal pinggir”. Namun, Kita tinggalkan saling menyalahkan tentang lemahnya penerapan syariat Islam di Nanggroe kita ini. Ingat bahwa Nanggroe yang baik merupakan kumpulan gampong-gampong yang baik pula. Oleh karena itu, mari mengerahkan segenap kemampuan kita masing-masing untuk benar-benar menerapkan syariat islam pada gampong-gampong dalam wilayah Nanggroe kita ini.

Gampong terbentuk dari hasil kumpulan beberapa keluarga, keluarga yang baik merupakan awal mula gampong yang baik. Pembinaan keluarga yang baik akan sangat menentukan lahirnya penerapan syariat Islam yang baik, keteladanan orang tua dalam mengaplikasikan ajaran Islam merupakan modal terwujudnya keluarga-keluarga yang baik. Kenyataan sekarang, banyak keluarga yang tidak memberikan keteladanan bagi anak-anak mereka, contoh kecil saja dalam hal berbusana. Gaya fashion sang ibu tidak lagi sesuai dengan tuntunan Islam, bagaimana halnya dengan sang anak. Padahal pepatah telah mengingatkan kita bahwa kiban u meunan minyeuk, kiban ma meunan aneuk (minyak kelapa itu tergantung dari kelapa itu sendiri, anak itu sangat tergantung bagaimana ibunya). Pemilihan busana sang ibu merupakan hal kecil yang sering terabaikan oleh kita, apalagi masyarakat kita kadang terserang penyakit schok culture (keterkejutan budaya). Revitalisasi keteladanan keluarga mutlak diperlukan demi peningkatan kualitas keluarga dalam gampong.

Dulu, gampong di Aceh memiliki lembaga pendidikan non formal yang eksis membina pembentukan aqidah-akhlak warga masyarakat, yaitu Meunasah. Menurut sahibul hikayat ahli sejarah, Meunasah merupakan pelesetan dari Madrasah. Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang telah terbukti eksistensinya, serta tercatat dalam sejarah, sebagaimana eksistensi yang telah diperankan oleh Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Meunasah tidak hanya menjadi simbul gampong, tetapi meunasah juga menjadi sekolah bagi masyarakat. Saban malam, meunasah menggelar pengajian yang dipimpin oleh Tengku Imum, baik dari alif-ba (dasar) hingga kitab. Eksistensi meunasah tempo dulu telah terbukti manjur, shalat berjamaah tiap waktu shalat, tadarus menggema di bulan Ramadhan, dan berbagai aktivitas lain yang mencerminkan tegaknya implementasi syariat Islam. Namun, meunasah sekarang telah hilang peran dan fungsinya, meunasah sekarang hanya menjadi tempat ceremonial belaka, aktivitas pendidikan telah terabaikan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Keberhasilan Meunasah memainkan peran dan fungsinya disebabkan oleh peran ureung tuha gampong, jajaran tuha gampong tempo dulu diisi oleh figur yang memiliki pengetahuan dan peduli terhadap agama, ureung tuha gampong berhasil menjadi starter penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan, ureung tuha mampu menjadi panutan bagi seluruh masyarakat dalam menjalani kehidupan. Langkanya figur kharismatik pada jajaran ureung tuha gampong membuat gairah kehidupan dan kepedulian terhadap implementasi syiar islam dalam gampong menjadi tabeu (hambar), bahkan pada sebahagian gampong jarang kita jumpai pelaksanaan shalat berjamaah lima waktu, Masyaallah!

Tidak hanya ureung tuha, gairah syariat Islam terlihat pada aktivitas pemuda (pegeu gampong), pemuda bersatu padu dalam menyemarakkan syiar Islam, contoh kecil adalah lantunan dalail khairat yang diikuti oleh seluruh pemuda gampong pada setiap malam Jum’at, mereka begitu antusias, bahkan pada sebahagian tempat diberikan sanksi adat bagi pemuda yang tidak mengikuti kegiatan ini. Pemuda sekarang, kurang gairah mereka dalam menghidupkan syiar Islam, mereka larut dalam gelamornya pengaruh sabu-sabu, ganja dan minuman keras. Mereka lebih senang berinternet ria, menghabiskan waktu untuk mendapatkan chip pada game pokker. Akibatnya, pemuda yang diharapkan menjadi tulang punggu penggerak aktivitas keagamaan menjadi tumpul, bahkan hilang ditelah kemajuan.

Oleh karena itu, jika kita ingin mengulang sukses tempo dulu dalam menerapkan syariat Islam pada tingkat gampong maka revitalisasi keteladanan keluarga perlu dilakukan, refungsi meunasah perlu ditegakkan, serta gairah pemuda dalam menjalankan amaran syara’ perlu dikembalikan. Mengembalikan ini semua, geuchik gampong, tengku imum, ureung tuha dan masyarakat perlu memberikan kontribusi tanpa pamrih. Gampong bersyariat, Nanggroe mendapat rahmat. Do it or never!