25 Desember 2010

Matee Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat Pat Tamita

By Zarkasyi Yusuf

Tsunami datang, kedatangan tsunami terkesan tanpa diundang, namun realita menunjukkan bahwa kedatangan tsunami di Serambi Mekkah bukan tamu tanpa diundang melaikan tamu yang sudah lama ingin datang dan selalu dinantikan, betapa tidak, tatanan hidup yang begitu kokoh dan mapan dibangun oleh endatu-endatu tempo dulu di atas pondasi syariat dan adat telah hancur berantankan, hidup bagaikan tanpa pandangan dan pijakan, bahkan terlebih pada hal-hal yang dianggap kecil seperti penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan, pada hal endatu telah mengingatkan kita bersama dengan pesan “Bek meubalek cap meutuka cok” yang bermakna bahwa jangan salah langkah dan salah jalan, demikian bijak pesan endatu.
Bahasa terkadang dipandang sebahagian orang merupakan hal yang remeh dan hal-hal yang biasa tidak terlalu urgen dalam kehidupan mereka, namun kita harus mengakui bahwa menjaga bahasa juga menjaga adat dan bahkan menjaga budaya yang menunjukkan gambaran kehidupan sebuah komunitas masyarakat, menjaga bahasa juga menjaga budaya, orang dapat dinilai budayanya melalui bahasa yang digunakannya, saya sangat sependapat dengan saudara Muhammad Thalal bahwa apabila bahasa Aceh tidak dijaga maka kita akan menanti kepunahannya, jika bahasa telah punah berarti budaya yang kita banggakan akan ikut terimbas punah, salah satu penyebab kepunahan bahasa adalah karena malu berbahasa (serambi Indonesia, 11-11-2007).
Namun tidak hanya bahasa yang perlu dijaga sebagai bahagian dari adat dan budaya yang telah dibangun endatu jameun, namun juga hal-hal lain, termasuk kebersamaan, tradisi teut apam (tradisi yang berlaku pada saat tiba bulan Rajab) merupakn sebuah tradisi yang turun temurun dalam masyarakat, tradisi ini menunjukkan hubungan kekerabatan yang akrab antar sesama anggota masyarakat, bayangkan, sebuah rumah yang melaksanakan teut apam (serabi Aceh) seluruh warga masyarakat dalam gampong tersebut dapat mencicipinya dengan cara diantar oleh yang empunya khanduri ke rumah-rumah warga lain, ini merupakan sebuah solidaritas yang tinggi yang telah dibangun menjadi adat dan tradisi yang tak terpisahkan dalam masyarakat, namun sekarang fenomena ini telah sangat jauh berubah, gessel salf yang dulunya ditunjukkan masyarakat dan menjadi identitas dari kultur Aceh sekarang berubah menjadi gemmel salf yang lebih bmenonjolkan sifat individualisme dalam masyarakat, kebersamaan tidak lagi dapat dipertahankan.
Sebuah tradisi tempo dulu di sebahagian masyarakat Aceh terutama daerah Pidie, Aceh Utara dan Aceh Besar ada istilah Ceumeulho Pade (merontokkan padi) ceumeulhoe pade yang dimaksud dalam tradisi dulu bukanlah dengan menggunakan mesin perontok seperti sekarang ini, tetapi menggunakan kaki sebagai pengganti mesin perontok, ini dilakukan warga secara gotong royong tanpa meminta imbalan apapun dari saudaranya yang dibantu tersebut, itulah sebuah fakta terdahulu yang telah pudar dalam masyarakat Aceh sekarang, sebuah fakta yang harus kita akui bersama.
Melihat fakta ini, sebuah pertanyaan besar timbul dari lubuk hati kita, apakah adat Aceh bisa dipertahankan kembali seiring terjadinya berbagai dilema yang merusak nilai-nilai adat serta kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan adat ? Pertanyaan besar ini akan terjawab jika kita mampu serta mau melakukan kembali revitalisasi peran fungsi adat dalam kehidupan kita. Untuk mendukung itu semua masyarakat Aceh diharapkan mampu menjaga nilai-nilai budaya adat (indetitas keacehannya), baik dalam konsep nilai primer dan juga nilai sekunder. Kluck Khonn mengatakan bahwa “Nilai merupakan “a conception of desirable” yang memiliki beberapa tingkatan, yaitu nilai primer dan juga nilai sekunder, nilai primer merupakan pandangan hidup bagi suatu masyarakat, misalnya kejujuran, keadilan, keluhuran budi dan lain-lain. Sedangkan nilai sekunder adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kegunaan, misalnya dasar-dasar menerima keluarga berencana atau untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Nilai sekunder muncul dari penyaringan nilai primer. Kemajuan yang dicapai oleh maayarakat jepang disebabkan karena masyarakat jepang mempertahankan nilai-nilai primernya, tetapi mengubah nilai sekundernya.
Kemajuan yang ingin dicapai hendaknya jangan memudarkan nilai adat yang telah diperjuangkan oleh endatu terdahulu, bagaimana dulunya para endatu kita mampu menyelesaikan sengketa tanpa harus ke meja hijau. Bagaimana endatu kita sanggup se-ia dan sekata, sehingga lahir semboyan lam baten sama rata? Bagaimana pula endatu kita sanggup melakukan kerja, bergotong royong walau tanpa di bayar sepeser pun. Hal-hal inilah yang mungkin perlu kita gali dan tumbuhkan kembali, sehingga persoalan yang terjadi dapat terselesaikan dengan penuh rasa damai, dimana pun dan bagaimana pun bentuknya.
Menumbuhkan kembali semangat lam bateen sama rata, merupakan hal yang sangat diperlukan dalam konteks dunia sekarang, ditambah lagi dengan sifat individualis yang selalu ditonjolkan sehingga menambah jurang pemisah antara seseorang dengan seseorang bahkan dengan keluarganya sekalipun. Lewat tulisan singkat ini penulis megajak kita untuk mengingat kembali pesan para ureung tuha terdahulu bahwa matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita. Marilah sama-sama kita mempertahankan kembali tradisi dan adat Aceh sebagai sebuah way of live yang didukung oleh penguatan syari’at Islam, mudah-mudahan kejayaan tempo dulu dapat digapai kembali walau dalam konteks dunia maju dan modern. Amin.
Banda Aceh, Februari 2008