24 Desember 2010

Happy New Year?

Oleh Zarkasyi Yusuf

Setiap pergantian tahun disambut dengan sangat meriah, berbagai acara pun digelar, dari yang kecih hingga besar dan mewah, baik di kampung maupun di kota, semua larut dalam kegembiraan, bahkan jalanan macet, hiruk pikuk malam dibisingkan dengan suara terompet yang saling sahut menyahut. Fenomenan ini juga terjadi di Nanggroe kita, Aceh, para pemuda Aceh larut dalam kegembiraan menikmati malam tahun baru.

Setiap bangsa di dunia memiliki cara tersendiri untuk memperingati pergantian tahun, apalagi peringatan pergantian tahun menjadi identitas dari bangsa itu sendiri. Bangsa Yahudi tidak merayakan tahun baru pada hari ke-1 bulan ke-1 Kalender Ibrani (bulan Nisan), tetapi pada hari ke-1 bulan ke-7 Kalendar Ibrani (bulan Tishrei). Umat Yahudi menyebut perayaan tahun baru dengan nama Rosh Hashanah, yang berarti “Kepala Tahun”. Bangsa Cina, merayakan tahun baru pada malam bulan baru pada musim dingin (antara akhir Januari hingga awal Februari) atau jika memakai kalender Gregorian tahun baru ini terletak antara 21 Januari hingga 20 Februari. Mereka menyebutnya dengan nama Imlek.

Orang Persia menamakan perayaan tahun baru mereka dengan nama Norouz. Norouz adalah perayaan (hari pertama) musim semi dan awal kalender persia. Orang Persia punya kalender Persia yang didasarkan dari musim dan pergerakan matahari. Kata ”norouz” berasal dari bahasa Avesta yang berarti “hari baru”. Oleh bangsa Persia, hari ini dirayakan pada tanggal 21 Maret, jika memakai kalender Gregorian. Bangsa Romawi kuno merayakan tahun baru pada Januarius, orang Romawi merayakan tahun baru dengan cara saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Dewa Janus, Mereka juga mempersembahkan hadiah kepada kaisar.

Umat Kristen menggunakan Kalender yang dinamakan Kalender Masehi untuk merayakan tahun baru mereka, Mereka menggunakan penghitungan tahun dan bulan Kalender Julian, namun menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1 Masehi), walaupun sejarah menempatkan kelahiran Yesus pada waktu antara tahun 6 dan 4 SM. Setelah abad pertengahan, pada tahun 1582 M kalender Julian diganti dengan kalender Gregorian. Dinamakan Gregorian karena Dekrit rekomendasinya dikeluarkan oleh Paus Gregorius XIII. Dekrit ini disahkan pada tanggal 24 Februari 1582 M. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian, sehingga setelah tanggal 4 Oktober 1582 kalender Julian, esoknya adalah tanggal 15 Oktober 1582 kalender Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah Kalender Gregorian. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.

Pada mulanya kaum Protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini. Baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti Kalender Julian sehingga perayaan Natal dan Tahun Baru mereka berbeda dengan gereja Katolik Roma. Pada tahun 1582 M Paus Gregorius XIII juga mengubah perayaan tahun baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Hingga kini, Umat Kristen di seluruh dunia merayakan Tahun Baru mereka pada tanggal 1 Januari.

Mengikuti budaya Romawi dan Kristen, di Era Sekuler Negara-negara Barat merayakan Tahun Baru tanggal 1 Januari. Tahun 1752 Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan kalender Gregorian. Di Inggris, Untuk merayakan Tahun Baru para suami memberi uang kepada para istri untuk membeli bros sederhana (pin), sedangkan orang-orang koloni di New England, Amerika, merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan berteriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.

Di Amerika serikat, tahun baru dijadikan sebagai hari libur umum Nasional untuk semua warga Amerika. Perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru. Pada tanggal 31 Desember orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, dimana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. Esok harinya, tanggal 1 Januari, orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi yang berisi Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba-lomba futbol Amerika dilangsungkan di berbagai kota di Amerika.

Namun, Islam tidak merayakan tahun baru. Rasulullah bahkan melarang meniru (tasyabbuh) budaya bangsa dan umat sebelum datangnya Islam seperti Umat Yahudi, Bangsa Romawi, Bangsa Persia, dan Umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka. Rasulullah saw bersabda siapa saja yang menyerupai suatu kaum/ bangsa maka dia termasuk salah seorang dari mereka. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi). Khusus tentang hari raya, Rasulullah saw membatasi hari raya umat Islam hanya pada Idul Adhha dan Idul Fithri, pembatasan ini didasarkan Rasulullah saw bersabda: Setiap ummat punya hari raya. Dan inilah hari raya kita: Idul Adhha dan Idul Fithri.

Ketika Rasulullah saw masih hidup (570 – 632 M), Umat Islam menggunakan sistem penanggalan Arab pra-Islam. Sistem kalender ini berbasis campuran antara bulan (qomariyah) dan matahari (syamsiyah). Setelah Khilafah Islam berhasil menaklukkan Kekaisaran Persia untuk selamanya dan membebaskan Wilayah Syam dari Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 17 H atau ekivalen dengan 638 M, di masa pemerintahan Amirul Mu`minin ‘Umar bin Khaththab diresmikanlah penggunaan Kalender Hijriyah.

Dinamakan Kalender Hijriyah karena ‘Umar menetapkan awal patokan penanggalan Islam ini adalah tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M. Hijrahnya Rasulullah saw tersebut adalah pertolongan Allah yang membuat perubahan besar pada perkembangan Islam. Sejak hijrah ke Madinah mulailah terbentuk Negara Islam dan Umat Islam.

Kalender Hijriyah dihitung dengan pergerakan bulan. Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtima’). Setahun terdiri dari 12 bulan: Muharram, Safar, Rabiul awal, Rabiul akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah. Satu minggu terdiri dari 7 hari: al-Ahad, al-Itsnayn, ats-Tsalaatsa’ , al-Arba’aa/ar-Raabi’, al-Kamsatun, al-Jumu’ah (Jumat), dan as-Sabat. Ketika melakukan perjalanan ke Syam, Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab sempat membandingkan kalendar Hijriyah dengan kalendar-kalendar Persia dan Romawi. Umar berkesimpulan bahwa kalendar Hijriyah lebih baik.

Walaupun Kalender Hijriyah telah dipakai resmi di masa pemerintahan Amirul Mu`minin Umar bin Khaththab, namun para sahabat di masa itu tidak berpikir untuk merayakan 1 Muharram (awal tahun Hijriyah) sebagai Perayaan tahun baru Islam. Mereka berkonsentrasi penuh untuk mengokohkan penegakkan syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Tidak pernah berpikir oleh mereka untuk mengadakan perayaan yang tidak disyariatkan oleh Islam dan tidak dilakukan oleh Rasululah saw. Tradisi ini berlanjut pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dan sebagian besar masa Kekhilafahan Bani Abbasiyah, bahkan hingga masa negara Buwaihiyah, negara syi’ah yang memisahkan diri dari daulah Islamiyah Abbasiyah, negara syi’ah ini pun tidak pernah berpikir untuk menambah-nambah perayaan yang tidak diteladankan Rasulullah saw.

Pada abad ke-4 H kaum Syiah kelompok al-‘Ubadiyyun dari sekte Ismailiyah yang lebih dikenal dengan kaum Fathimiyun membuat hari raya tahun baru hijriyah. Kelompok ini mendirikan negara di Mesir yang terpisah dari Khilafah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Mereka ingin meniru apa yang ada pada umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka. Sejak saat itu, Tahun Baru Hijriyah dalam kalender Hijriyah dirayakan setiap tanggal 1 Muharam. Umat Islam di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Sunni, juga ikut-ikutan merayakan Tahun Baru Hijriyah yang sponsori oleh kaum Syiah Ismailiyah.

Beberapa model perayaan tahun baru yang diceritakan tadi, diharapakan menjadi perbandingan bagi kita dalam melaksanakan perayaan yang sama. Anehnya, seluruh masyarakat Aceh sekarang telah menderita penyakit rabun, yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam melakukan sesuatu, terutama terkait perayan pergantian Tahun. Ada pertanyaan besar yang harus kita jawab sebelum melaksanakan perayaan tahun baru yang sebentar lagi akan tiba, apakah tindakan yang akan kita lakukan ini sudah benar? Bertentangan tidak dengan nilai-nilai Islam dan kultur Aceh?

Meubalek chap, meutuka cok, mungkin inilah penyakit kronis yang sedang melanda msayarakat Aceh, kita tidak lagi mampu membedakan mana milik sendiri dan mana milik orang, rendahnya perhatian kita telah membuat kita samar dalam memilih. Ambillah tradisi kita sendiri, tinggalkan yang bukan pakaian kita, pasti identitas kita sebagai muslim akan terangkat. Aneh, perayaan Masehi meriahnya luar biasa, sedangkan perayaan tahun hijri, hanya pawai anak TK dan SD, itupun dilaksanakan dengan se-sederhana mungkin.

Wallahu a’lam bisshawab!