25 Desember 2010

Ada Apa Dengan Sungai Musi ?

Rahmat dalam hidup ternyata telah mengantarkan peristiwa bersejarah yang tercatat dalam buku harian yang usang dan murahan, namun penuh makna serta menyimpan kenangan hidupku. Kenangan yang telah mengantarkan hatiku menemukan cinta yang telah dianugerahkan tuhan kepada hambaNya. Kenangan ini sungguh sangat indah dan tak mungkin aku melupakannya begitu saja. Kenangan ini pula mengingatkan aku pada permintaan maaf Maria kepada Fahri dalam film Ayat Ayat Cinta, yaitu antara cinta dan keinginan untuk memiliki.

Kenangan saat aku menjadi mahasiswa Pascasarjana kampus kenamaan Aceh IAIN Ar-Raniry, kampus yang berdiri megah di kawasan Darussalam dipinggir jalan menuju kawasan Tungkop. Kampus yang telah menoreh kenangan terindah dalam hidupku, namun sayang kenangan itu tak bisa aku gapai. Saat aku belajar di kampus ini, ada beberapa orang mahasiswi yang seangkatan dengan aku datang dari berbagai daerah di Aceh bahkan juga di luar Aceh, salah satunya adalah temanku yang datang dari Palembang. Temanku ini datang dari Palembang untuk melihat indahya seulanga Aceh yang katanya harum sambil menuntut ilmu di daerah bersyariat, inilah yang dikatakan temanku itu saat kami berkenalan pertama, saat itu hari pertama kami mulai kuliah.

Temanku itu adalah seorang mahasiswi IAIN Palembang dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat, ia selalu bernampilan sopan, Humaira namanya, nama Islami, nama yang pernah dilaqabkan Rasulullah kepada isteri tercinta Siti Ainsyah. Humaira tinggal di kawasan Darussalam tepatnya di wisma kompas Rukoh Darussalam. Wisma milik Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) yang disewakan untuk mahasiswa. Aku sendiri juga tinggal di kawasan Rukoh Darussalam. Setiap hari Aku ke kampus berjalan kaki, maklum saja karena aku tidak memiliki sepeda motor seperti halanya teman-temanku yang lain, tidak hanya aku yang berjalan kaki, Humaira ternyata juga tiap hari berjalan kaki menuju kampus.

Dalam ruang kelas, bahkan ketika jam istirahat aku tidak pernah ngobrol dengan Humaira, padahal di kelas aku terkenal paling suka ngomong, tetapi terus terang dengan Humaira aku agak segan, terlebih lagi aku melihat Humaira adalah gadis sungai Musi yang teduh tampak ombak alias pendiam. Faktor inilah yang membuat kami tidak pernah ngobrol, walaupun kami telah belajar bersama selama dua bulan lamanya. Pada suatu hari, kebetulan hari itu hujan, Aku dan teman-temanku termasuk juga Humaira harus menunggu hujan reda, sambil menunggu hujan reda aku dan Humaira terlibat perbincangan, ia menyapaku dengan menanyakan tugas resensi buku yang diberikan beberapa hari yang lalu. “Belum” itulah jawaban yang keluar dari mulutku, sebenarnya aku lupa bahwa ada tugas resensi buku yang diberikan dosen. “Kok Bisa belum?” tandas Humaira dengan nada tersentak, ia heran mengapa aku lalai, terlihat dari sorot matanya ada keprihatinan terhadap diriku. Ia menawarkan bantuan kepadaku jika aku nantinya butuh bantuan, terutama dalam mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Dalam kesempatan itu juga kami bertukar nomor hand phone.

Setelah menunggu setengah jam, akhirnya hujan reda. Aku pulang dengan sepeda motor teman kos ku sedangkan Humaira pulang jalan kaki, Humaira cukup kuat berjalan kaki sehari dua kali, kulitnya yang putih bagai tak merasakan terik mentari yang menyengat, padahal jarak wisma kompas dengan kampus Pascasarjana IAIN kurang lebih 1,5 kilometer, memang Humaira begitu tegar dalam menuntut ilmu pengetahuan, padahal dia berangkat dari keluarga yang cukup mampu. Keesokan harinya, Humaira dan aku sudah mulai bertegur sapa, dalam perbincangan dengannya di sela-sela istirahat, aku memperlihatkan buku yang aku beli bulan yang lalu, buku tentang memendam rindu yang judul aslinya Raudhatul Muhibbin karya Imam Ali Al-Jauzy. Humaira ternyata tertarik dengan buku yang aku perlihatkan itu, ia pinjam buku tersebut. Rupanya Humaira adalah pengagum perempuan sufi kenamaan Rabiah Al-Adawiyah, ia tertarik dengan konsep mahabbah Rabiah Al-Adawiyah.

Jam sepuluh malam, ketika aku sedang membaca, tiba-tiba handphone ku berdering, aku membuka sambil terkejut, ternyata sms dari Humaira “sudah tidur Fauzan? Ternyata buku yang kamu pinjamkan bagus sekali”. Aku segera membalas smsnya “belum, ni sedang membaca, suka juga ya?, tanpa menunggu berapa lama, Humaira membalas sms ku, “ ya, bagus sekali isinya, saya jadi tambah tau tentang cinta”. Aku tidak membalas lagi sms Humaira, malam itu adalah malam minggu. Pagi harinya setelah shalat subuh aku berpakaian olah raga dengan maksud jogging di lapangan tugu, ternyata hari itu Humaira juga jogging, di jalan depan kampus pascasarjana kami bertemu, dia langsung menyapaku, Ngak ke jembatan Lamnyong zan? tanya Humaira, “ya, rencana mau ke sana, mau bareng? Aku menawarkan! “Boleh! Jawab maria sambil tersenyum. Aku segera berhenti lari-lari kecil dan jalan bersama Humaira.

Humaira agak malu berjalan bersama ku, tampak sekali ia tidak pernah jalan bersama laki-laki. Dalam perjalanan menuju jembatan Lamnyong Humaira bercerita banyak tentang keluarganya di Palembang. Aku baru tahu bahwa Humaira adalah anak seorang pengusaha besar di Palembang, kendati demikian Humaira tampak sederhana dan biasa-biasa saja. Ketika sampai di jembatan Lamnyong aku segera bergubung dengan teman-temanku, Humaira pun bergabung bersama teman-teman di wismanya yang telah lebih dahulu tiba. Teman-teman kampusku mulai mengganggu aku, mereka mengatakan bahwa aku sudah mulai lain dengan Humaira, maklum aja, Humaira adalah mahasiswi favorit dalam kelas karena disamping cantik ia juga sopan dan smart. Sebenarnya aku agak risih dengan guyonan teman-temanku itu, aku kuatir Humaira menilai bahwa kedekatan ku dengannya ada maksud lain.

Setelah selesai berolah raga, aku pulang bersama teman-temanku sambil bercanda ria, rasanya tak ada masalah yang sedang aku hadapi, padahal aku sedang bingung. Bingung karena mungkin semester depan harus non aktif karena tidak sanggup melunasi SPP, betapa tidak, aku ambil S2 karena nekat. Orang tuaku di Aceh Timur tidak mengirimkan uang, bahkan sering aku kirim uang dari Banda Aceh kepada orang tuaku. Latar belakang keluargaku adalah keluarga kurang mampu, ditambah lagi ibuku tercinta sering sakit-sakitan, sedangkan ayahanda tercinta telah berpulang ke rahmatullah beberapa tahun silam.

Sore harinya ba’da ashar, aku bersama dengan Afif ke Tungkop, Afif adalah teman akrabku, disamping satu kos ia juga berasal dari Aceh Timur. Kami berdua ke tungkop mengunjungi adikku yang juga tinggal di tungkop, adikku bekerja di sebuah toko pakaian di Tungkop. Di tungkop aku, adikku dan Afif makan mie di warkop MIE DUN, MIE DUN adalah warung kopi yang terkenal dengan mie Acehnya, warkop terkenal di tungkop bahkan di kota Banda Aceh. Sambil menunggu mie siap dihidangkan Afif bertanya kepadaku tentang Humaira, dan dia menyuruhku untuk menawarkan mie kepada Humaira. Afif tahu dari beberapa teman kami bahwa Humaira tidak sembarang membalas sms yang masuk, Afif memberitahukan aku tentang hal itu, makanya ia menyuruh aku sms Humaira. Hatiku berkata, “mengapa sms aku cepat sekali dibalas Humaira?”

Beberapa saat mie sudah dihidangkan, sambil menikmati mie warkop MIE DUN, aku segera mengetik sms “ngapain ni? Ana ama Afif lagi di tungkop makan mie dun, Humaira mau ngak? Tanpa menunggu lama, Humaira membalas sms “lagi nyantai ma teman2 di wisma, enak dong makan mie dun, ana juga pernah makan sekali kemaren tu ma kawan2, boleh kalau mau dibeliin”, sambil menikmati mie, aku kembali membalas sms Humaira, Afif yang duduk disampingku tersenyum sipu, ia berkata. “Lancar that lagoe (lancar sekali)”, aku membalas sms Humaira “benar ni? Tunggu ya? Tanpa menunggu lama, handphone ku kembali berdering, sms Humaira masuk lagi “Oke, ana tunggu tu, tapi kalau merepotkan Fauzan ngak usah aja ya!. Aku segera memesan dua bungkus mie untuk Humaira.

Setelah selesai makan kami berdua pulang ke Darussalam dan adikku kembali ke tokonya, dalam perjalanan pulang aku meminta Afif mengantarkan mie untuk Humaira karena aku malu lagipula Humaira sedang duduk bersama teman-temanya. Ketika sampai di wisma kompas kami segera masuk, aku melihat Humaira sedang duduk bersama teman temannya, aku hanya menunggu di kereta, Afif yang memberikan mie kepada Humaira. Setelah itu kami segera pulang ke kos, matahari pun sudah berada di ufuk barat mau, magrib pun hampir tiba. Tiba di kos HP ku kembali berdering, rupanya Humaira mengirim sms, ia mengucapkan terima kasih.

Setelah hari itu, tanpa terasa kami semakin akrab dan saling sms-an, namun ketika di kampus kami seolah tak saling kenal, kendati demikian teman-teman ku mulai menebar gossip bahwa kami memiliki hubungan asmara. Setelah berkenalan dekat dengan Humaira, hidupku rasanya berubah, setiap hari tepanya jam 10 pagi aku selalu dikirimi sms untuk mengingatkan aku shalat dhuha, tidak terkecuali ketika hari-hari belajar di kampus, setiap malam aku selalu dibanguni untuk shalat tahajjud. Aku merasakan bahwa ada getaran cinta yang kini mulai merasuki jantungku, aku mulai jatuh cinta kepada Humaira. Terkadang aku berpikir mungkinkah aku menggapai Musi yang begitu tenang dan begitu jauh, teduh tanpa ombak sedangkan aku hanya seorang mahasiswa dari keluarga miskin, amburadul dan selalu diterpa ombak.

Ya Allah izinkan Aku menggapai Musi

Banda Aceh, Maret 2008

By Zarkasyi