23 Oktober 2009

Memahami Propaganda

Memahami Propaganda

Oleh Zarkasyi Yusuf

Kata-kata propaganda tentu tidak asing lagi terdengar oleh telinga kita, bahkan dalam situasi tertentu kata propaganda amat sering digunakan. Masyarakat kita mengartikan propaganda sebagai sesuatu yang diada-adakan dengan tujuan dan maksud tertentu, dalam hal ini tujuan yang tidak baik. Demikian yang umum berlaku dalam masyarakat tentang makna dari propaganda itu sendiri, bahkan kadang orang akan merasa marah jika dituding melakukan propaganda, dengan alasan tudingan itu bermakna tidak baik.

Propaganda, kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu propagare yang artinya menyebarkan dan meluaskan, sebagai contoh misalnya, Gubernur Aceh telah melakukan propaganda, ini berarti bahwa Gubernur Aceh telah menyiarkan ide-idenya seperti Aceh Green Vision. Menurut sejarah, kata propaganda tersiar setelah tahun 1622 M, saat itu Paus Gregorus XV mendirikan sebuah perkumpulan untuk meluaskan ajaran Kitab Injil, perhimpunan tersebut di beri nama SACRA CONGREGATIO DE PROPAGANDA FIDE atau Himpunan suci untuk penyiaran agama. Karena panjangnya, sehari-hari disingkat dengan De Propaganda, dimaksud untuk menyebut nama perkumpulan tersebut.

Dalam bahasa Arab kata-kata propaganda diartikan dengan kata di’ayah, dengan dasar ini ada yang berpendapat bahwa kata-kata propaganda sama dengan kata dakwah dalam Islam karena asal mulanya baik dan suci, yaitu untuk menyiarkan agama Tuhan. Pendapat ini dibantah orang dengan memeberikan predikat kurang tepat penggunaan istilah ini untuk dakwah walaupun digunakan untuk perhimpunan menyebarkan agama, alasannya karena propaganda merupakan istilah khusus saja (baca: Islam dan Dakwah, Toha Yahya Umar). Jadi, propaganda adalah kata umum yang bisa saja digunakan untuk maksud baik dan maksud jahat, sebagaimana makna dasar dari istilah propaganda.

Namun, harus diakui bahwa propaganda adalah salah satu alat/media untuk menyampaikan maksud, dengan dasar itulah manusia berfikir dengan cepat bagaimana memamfaatkan propaganda dalam berbagai lapangan kehidupan, baik untuk kepentingan pribadi, lembaga bahkan negara sekalipun asalkan maksud tercapai. Berbagai macam cara pun dilakukan manusia untuk menyusun teori-teori propaganda yang sesuai dengan kapasitas dirinya, keadaaan dan zaman. Teori-teori itu antara lain yang diungkapkan oleh Dorothy Mulgrave, ia membagi propaganda kepada tujuh macam.

Pertama, Name calling Device namanya. Propaganda jenis ini dilakukan dengan memberikan perlambangan buruk kepada pihak yang diserang, ini biasanya kita temui dalam kancah kampanye pemilu. Kadang secara tidak sadar antara satu jurkam partai dengan partai lain saling menuding dengan memberikan perlambangan buruk. Ini kita harapkan tidak terjadi dalam kampanye pemilu di Nanggroe Aceh Darussalam, apalagi pemilu damai telah menjadi komitmen partai baik Parnas maupun Parlok, terlebih lagi bahwa setiap event yang terjadi di Aceh merupakan pilot project bagi daerah lain. Dalam kampanye mendatang, mengantisipasi hal buruk dari propaganda jenis ini peran panwaslu sangat menentukan, terutama mengawasi partai politik peserta pemilu yang nakal dan melanggar aturan.

Kedua, Gellitering generalities device namanya. Propaganda jenis ini dilakukan dengan memberikan perlambangan indah yang digemari orang kepada sesuatu yang disenangi. Dalam istilah kita orang Aceh dapat diartikan dengan sebutan cet langeet. Cuma bedanya, Istilah cet langeet merupakan istilah yang negatif yang dipergunakan untuk menyebut suatu ide, program atau proyek yang diragukan keberhasilannya. Sedangkan propaganda jenis ini dapat dipahami positif ataupun negatif tergantung dari cara orang menempatkan dan menggunakannya. Ketiga, Transfer device namanya. Yaitu memindahkan atau mempertalikan sesuatu perkara yang digemarinya dengan sesuatu yang disukai oleh orang banyak.

Keempat, Testimonial device. Propaganda ini dengan menggunakan ucapan orang terkemuka di dalam mengeluarkan pendapatnya agar pendapatnya itu langsung diterima orang tanpa menguji kebenarannya. Propaganda jenis ini sering terjadi di kalangan mereka para pembuat kebijakan, mereka sering menggunakan dan menjual ucapan demi mendukung keinginannya. Idealnya, seorang pembuat kebijakan atau qanun hendaknya memahami seluk beluk legal drafting agar draf qanun yang dihasilkan bertahan lama dan memuat prinsip-prinsip hukum serta sesuai dengan legistimasi sosiocultur masyarakat.

Dalam hal ini, perhatian partai politik sangat diharapkan untuk memberikan pendidikan legal drafting kepada mereka yang akan diwakilkan untuk menjadi pembuat kebijakan (legal drafter). saya merasa sampai saat ini jarang ada partai politik yang memberikan perhatian serius terhadap hal ini, bahkan kadang tidak ada sama sekali. Akibatnya, ketika mereka menjadi law maker (anggota dewan/pembuat hukum) tidak segan-segan mempergunakan propaganda jenis ini.

Kelima, Plainfloks device, yaitu, bergerak sebagai rakyat banyak atau bersomboyan dengan rakyat agar ia dianggap dari mereka atau pemebela mereka. Inilah persolan klasik yang menjadi senjata handal yang dipegunakan untuk mempengaruhi bahkan menipu rakyat dengan dalih untuk kepentingan rakyat. Saya mencermati bahwa sepanjang tahun 2008 banyak proyek yang menggunakan konsep propaganda ini. Sebut saja proyek pengadaan sapi di Bener Meuriah, kemudian jaring aspirasi rancangan Qanun Wali Nanggroe dengan bertemu Hasan Tiro di Swedia. Dalih program ini agar Qanun Wali Naggroe lebih bagus dengan banyak aspirasi termasuk aspirasi Hasan Tiro, namun apa yang terjadi? Serta banyak lagi proyek-proyek yang selalu mengatas namakan rakyat agar dianggap menjadi pembela rakyat.

Sebentar lagi perhelatan akbar demokrasi akan digelar, semua yang akan bertarung memperebutkan kursi idaman penuh uang akan mempergunakan propaganda jenis ini, jurus lama pun dilancarkan dengan mengajukan visi-misi yang seolah-olah membantu rakyat. Saya yakin bahwa masyarakat telah jenuh dengan obral janji, masyarakat telah memiliki pengetahuan dan pengalaman untuk memilih siapa yang yang berhak diberikan amanah untuk mewakilkan mereka duduk di parlemen. Keenam, Card staking device. Yaitu memutar balikkan persoalan agar dianggap yang bersalah berada di pihak lain. Akibatnya, mencari kambing hitam menjadi salah satu upaya mereka yang berpegang pada konsep ini. Namun yang pasti hukum tidak akan pandang bulu, yang salah tetap bersalah. Namun itu semua tergantung dari aparat penagak hukum, apakah membiarkan mereka yang terjerat menggunakan propaganada ini? Dan yang ketujuh, Band Wagon device. Yaitu menggunakan alat-alat penarik seperti alat musik, slogan-slogan dan sebagainya.

Teori yang disampaikan Mulgrave tidak mutlak demikian, tetapi dari pembagian tersebut kita mendapatkan gambaran bahwa manusia akan menggunakan segala macam cara menyukseskan propagandannya, menghalalkan segala cara demi tujuan dan maksudnya tercapai walaupun jalan yang ditempuh tersebut bertentangan dengan syariat, adat dan norma yang berlaku dalam kehidupan. Propaganda juga merupakan bukti dari kecerdikan manusia memamfaatkan sesuatu demi mewujudkan eksistensi dirinya, lembaga atau negara.

Dalam konteks kehidupan sekarang, bagaimana memamfaatkan propaganda menjadi senjata agar menjadi alat yang akan membawa kebaikan dan kemaslahatan bersama. Jangan propaganda yang diasumsikan oleh masyarakat kita “negatif” menjadi senjata pemusnah kelanggengan perdamaian dan kebersamaan yang susah payah diraih, serta jangan memamfaatkan propaganda untuk memperkeruh suasana, meruncingkan masalah dan menambah persoalan baru. Sikap antisipasi dan pengetahuan untuk menganalisa apa yang bakal terjadi menjadi modal untuk menampik setiap dampak negatif dari propaganda.