23 Oktober 2009

Masih Adakah Tuhan?

Masih Adakah Tuhan?

Kumandangan Azan meraung memecah hiruk pikuk jalanan, gema azan terdengar di Mesjid Tungkop, aku segera beranjak dari tempat dudukku dan mengambil peci hitam yang sudah agak menguning. Niat hati hendak memenuhi panggilan Ilahi, shalat berjamaah di Mesjid, aku ditemani oleh adikku tersayang, adikku itu baru duduk di kelas 3 SD di kampung halamanku Sigli. Ba’da shalat ashar adikku merengek minta jalan jalan, ia berniat ingin melihat mesjid raya, ia ingin melihat indahnya taman sari, maklum adikku itu anak kampung.

Segerasaku mengambil sepeda motor yang telah ku parkir tadi, terlihat senyum ceria di wajah adikku tersayang. Kami berdua berangkat menelusuri jalan menuju mesji raya, dalam perjalanan adikku tidak hentinya bertanya, bertanya sesuatu yang aneh dimatanya, tapi ada satu pertanyaan yang tidak sanggu aku jawab, pertanyaan yang membuat ku tercengang, pertanyaan itu menyadarkan aku memang anak kecil itu lugu. Ia bertanya, Bang! “Orang yang lewat ini, meraka shalat ashar ngak tadi?” “ya adalah” jawab aku, dia hanya, rupanya ia tidak puas dengan jawabanku itu, ia membantah “ kalau mereka shalat, mengapa ketika azan masih banyak orang di jalan, kapan mereka shalatnya? Demikian bantahan adikku, rasanya aku tidak punya cukup argument untuk menjawab bantahannya ini.

Tanpa terasa kami telah sampai di halaman di gerbang belakang mesjid raya, segera saja aku masuk dan memarkir sepeda motor ku di tempat parkir. Adikku dengan senyuman cerah berjalan menikmati keraimaian dan indahnya mesjid kebanggaan masyarakat Aceh, ternyata mata adikku jeli juga, ia sempat memabaca tulisan yang dipajang di pintu gerbang.

Adikku kembali memanaskan mesin tanya yang ia miliki, ia bertanya mengapa orang yang berpakaian ketat pun keluyuran di halaman mesjid, mengapa mereka tidak mengindahkan peraturan. Menjelang magrib, kami pun pulang menuju Tungkob, dalam perjalanan pulang azan magrib pun terdengar mengaung memecah hiruk pikuk kota Banda Aceh, memecah keramaian jalan ditengah kebisingan.

Adikku yang lugu kembali menyodorkan fatwa manisnya, ia bertanya padaku dengan pertanyaan yang sangat aneh, “ Bang! Di Banda Aceh ngak ada Tuhan Ya? Belum sempat aku bertanya ia tambah lagi, bang kok di kampung kita lembu, kambing selalu pulang dan masuk kandang, mengapa di sini orang masih di jalan, ngak pulang, mengapa bang? Kami pun terus berjalan bersama terbenamnya senja di ufuk barat. Adikku masih penasaran, masih adakah Tuhan di negeri ini?

Sigli, 26 Juli 2008

Zarkasyi Yusuf