23 Oktober 2009

Keteladanan Guru Dayah

    A. Latar Belakang
Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan teladan) adalah motto yang sering dipergunakan dalam dunia pendidikann, motto ini menganjurkan bahwa keteladanan merupakan sebuah metode pengajaran yang paling efektif dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan tidak dapat melepaskan diri dengan pendidikan keteladanan, sebab metode ini memberikan pengajaran langsung kepada peserta didik dan langsung diaplikasi lewat afektif dan psikomotorik peserta didik, cara ini dipandang paling memberi bekas dalam pendidikan.
Pendidikan merupakan upaya untuk mengubah sikap dan tingkah seseorang ke arah yang lebih baik, mendewasakan cara berpikir serta mengubah pola hidup menjadi lebih baik,[1] ini merupakan sejumlah tujuan yang ingin dicapai dalam dunia pendidikan, namun realita sekarang menunjukkan sejumlah kejadian yang mengindikasikan bahwa tujuan yang diprioritraskan pendidikan tidak tercapai. Akibat dari penyimpangan dari prioritas tersebut, mungkin akan dipertanyakan mengapa pendidikan gagal? Siapa yang menyebabkan kegagalah ini semua? Mungkin juga secara terang terangan mereka menyalahkan guru tidak dapat memberikan pendidikan dengan baik kepada peserta didiknya,[2] sehingga guru dinilai menjadi penyebab gagalanya prioritas yang ingin dicapai oleh pendidikan.
Dekadensi moral terjadi dalam masyarakat, banyak peserta didik yang melakukan kejahatan, melanggar norma dan hukum bahkan melakukan hal-hal yang dianggap pantang dan aib, ini menunjukkan bahwa pendidikan yang diperoleh tidak mampu mengarahkan mereka ke jalan yang lurus, namun kita mengakui bahwa lingkungan juga ikut mempengaruhi dan membentuk kepribadian mereka. Kegagalan ini akan dinilai orang bahwa pendidikan sekolah tidak dapat menuntun mereka, guru sebagai manusia yang digugu tidak dapat mengarahkan mereka ke jalan yang benar, di sisi lain kita juga harus menagkui bahwa guru belum mampu menjadi manusia panutan yang menjadi teladan bagi peserta didik. Melihat hal ini bahwa seyogyanya kita kembali membenah diri menjadi guru yang menjadi tauladan bagi peserta didik, memberikan pengajaran kepada mereka dengan keteladanan. Dalam hal-hal kecil pun guru hendaknya dapat diteladani oleh muridnya, akhlak serta kepribadian guru hendaknya menjadi model bagi peserta didik.[3] Konsep akan memberikan efektifitas dalam proses pendidikan.
Keteladanan merupakan persolan yang penting dalam dunia pengajaran dan pendidikan, ini merupakan sebuah efektifitas dalam pengajaran, masalah keteladanan juga menjadi faktor penting dalam hal baik buruknya peserta didik. Jika seorang pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk akhlak mulia, keberanian dan sikap menjuhkan diri dari sikap yang bertentangan dengan agama.[4]
1. Ajaran Islam Tentang Keteladanan
Islam sebagai agama rahmat kepada seluruh alam, telah memberikan tuntutan pengajaran yang efektif dan memberi kesan mendalam, pengajaran yang dimaksud adalah pengajaran dengan keteladanan. Allah telah memberikan perintah bahwa pada Rasul ada teladan bagi ummat manusia, rasul merupakan teladan yang perlu diikuti oleh setiap ummatnya dalam kehidupan. Firman Allah



Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik (Q.S. 33:21).
Dari firman Allah tersebut, dipahami bahwa Allah memberikan sinyal bahwa keteladanan merupakan upaya paling efektif untuk meraih kemenangan dengan meneladani Rasul sebagai suri tauladan yang baik, serta merupakan metode yang tepat dalam mengajarkan ummat memperoleh pengajaran dan langsung diterapkan dalam pengamalan, keteladanan merupakan metode praktis.
Dalam hadist lain Rasulullah bersabada :
Artinya : Setiap bayi dilahirkan dalam kedaan suci. Maka orang tuanya yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi (H.R Bukhari dan Muslim)[5]
Dari hadist tersebut terlihat jelas bahwa seorang anak akan tergantung bagaimana orang tua mengarahkan pendidikannya, pendidikan yang lebih menonjol yang akan membentuk mereka adalah pendidikan keteladanan. Dari dalil di atas terlihat jelas bahwa dalam ajaran Islam keteladanan merupakan faktor penting dalam pendidikan dan pengajaran.
Belajar dari sejarah, Rasulullah Saw juga turut bekerja dengan para sahabatnya dalam melaksanakan pembangunan mesjid Quba, beliau berperan aktif dalam kegiatan tersebut, ini menunjukkan bahwa Rasulullah memberikan tauladan kepada para sahabatnya untuk lebih meningkatkan etos kerja.
2. Guru Sebagai Panutan
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, adalah adagium yang mengajarkan pentingnya panutan yang harus diberikan seorang guru kepada peserta didiknya, sebab tingkah muridnya akan mengikuti sikap dan tingkah gurunya. Dalam proses pendidikan, interaksi guru dan peserta didik memberikan pengaruh besar dalam proses pembelajaran dan pemantapan materi pelajaran yang diberikan, terlebih lagi pelajaran yang menekankan pengembangan sikap.
Guru hendaknya terbiasa melakukan kebaikan dan membiasakan dengan hal-hal tersebut, sehingga murid akan juga terbiasa mengikuti sikap dan tingkah guru, sehingga akan menjadi sebuah tradisi bagi murid yang akhirnya melekat pada jiwa mereka, beberapa ancamana dilontarkan kepada guru yang tidak selaras antara perkataan dengan perbuatannya, ini terlihat pada sebait syair yang melontarkan kecamana pedas kepada para pendidik yang tidak memberikan keteladanan serta menyelaraskan perkataan dan perbautannya:
Wahai yang mengajar orang lain
Kenapa engkau tidak juga mengajari dirimu sendiri
Engkau terangkan obat untuk berbagai macam penyakit
Agar yang sakit sembuh semua
Sedang engakau sendiri ditimpa sakit
Obatilah dirimu dahulu
Lalu cegahlah agar tidak menular
Kepada orang lain
Dengan demikian engkau adalah orang yang bijak
Maka apa yang engkau nasehatkan akan mereka terima dan ikuti
Ilmu yang engkau ajarkan akan bermamfaat bagi mereka.[6]
Melihat kondisi yang terjadi sekarang serta terjadinya berbagai dekadensi moral, terutama yang dilakukan remaja dan anak sekolah maka guru harus dapat menjadi teladan dan panutan dalam mengantisipasi segala kemungkinan pelanggaran tersebut, namun tidak hanya peran guru tetapi juga harus didukung oleh keluarga dan masyarakat. Sebagai contoh kecil adalah dalam hal berbusanan, betapa tidak, seorang guru datang ke sekolah dengan busana muslimah namun ketika kembali ke rumah dan masyarakat tidak lagi menggunakan pakaian yang dianjurkan, secara tidak langsung, interaksi antara guru dalam masyarakat akan memberikan contoh kepada peserta didiknya dalam hal berpakaian, sebab peserta mempertanyakan bahwa gurunya bisa berbusana demikian mengapa ia tidak? Ini merupakan fenomena sehari-hari yang terjadi dan menggejala dalam masyarakat, kondisi ini perlu mendapat perhatian dari kita bersama terutama yang berprofesi sebagai pendidik.
Disisi lain, kita harus mengakui bahwa pendidik adalah manusia yang memiliki kekurangan dan keterbatasan, baik dalam bidang pengetahuan dan sikap, namun dalam persoalan ini hendaknya guru harus mampu memposisikan diri menjadi manusia yang figur dan sikapnya selalu menjadi sorotan dan panutan dari para anak didiknya bahkan masyarakat secara luas. Suatu hal yang didapatkan oleh peserta didik pada gurunya, baik ucapan dan juga sikap yang berseberangan dengan apa yang diajarkan di dalam ruang kelas, akan menjadi bahan perbincangan khusus sesama peserta didik, bahkan akan mengurangi citra dari guru sendiri. Kondisi ini akan mempengaruhi dan mengganggu proses penyampaian pengetahuan yang dilakukan dalam proses pembelajaran, faktor yang mempengaruhinya adalah hilangnya simpati peserta didik kepada sang guru.
Kondisi yang dideskripsikan di atas dijumpai penulis dalam observasi yang dilakukan pada siswa Madrasah Tsanawiyah Kembang Tanjung dengan mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru. Salah seorang siswa dari kelas yang diajarakan guru tersebut berkomentar kepada penulis setelah penulis menanyakan mengapa setiap guru tersebut masuk keadaan kelas selalu ricuh? Siswa tersebut dengan nada pesimis menjawab “ saya tidak suka dengan sikap beliau, beliau hanya menyuruh kami berpakaian sopan sedangkan beliau sehari-hari tidak demikian”.[7] Disamping itu ada juga seorang siswi yang mempertanyakan mengapa guru tersebut bersikap demikian?[8]
Dari dua penuturan siswi MTsN Kembang Tanjung tersebut, terlihat jelas bahwa guru sebagai panutan mereka, mereka menginginkan bahwa guru hendaknya dapat mengaplikasikan setiap pelajaran yang diberikan kepada peserta didik dalam kehidupan mereka, singkatnya mereka menginginkan guru menjadi figur yang dapat diteladani mereka yang tercermin dalam sikap dan tindakan.
3. Keteladanan sebagai metode efektif pengajaran akidah akhlak.
Akidah akhlak merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah agama baik tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan bahkan Aliya, pelajaran ini tidak hanya menitik beratkan pada aspek kognitif peserta didik tetapi juga peran psikomotorik dan afektif sangat diutamakan. Keberhasilan pengajaran mata pelajaran ini tidak hanya terlihat dari kemampuan peserta didik menyelesaikan dan menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru, tetapi jauh bagaimana peserta didik mampu dibentuk akhlak dan kepribadiannya melalui proses belajar mengajar yang di dalamnya juga melibatkan beberapa aspek lain.
Salah satu aspek yang sangat berperan dalam proses pengajaran akidah akhlak adalah guru sendiri, guru harus mampu memberikan contoh-contoh yang menjadi tauladan kepada peserta didik dalam mengaplikasikan akhlak dalam masyarakat, walaupun harus diakui bahwa pendidikan akidah akhlak di sekolah memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik, setidaknya secara subtansial mata pelajaran akidah akhlak mampu memotivasi peserta didik mempraktikan nilai-nilai agama dalam kehidupan mereka, terutama akhlakul karimah.
Jika pendidikan akidah akhlak tidak menjadi faktor penentu dalam penbentukan prilaku peserta didik, mengapa guru yang mengajarkan pelajaran tersebut harus memberikan teladan kepada anak didiknya dalam kehidupan sehari-hari? Mungkin ini pertanyaan yang diajukan oleh kita yang mengajar pelajaran tersebut, penulis merasa pertanyaan ini beralasan adanya, betapa tidak, karena guru bukan manusia yang selalu perfect dalam hidup dan kehidupannya. Biarpun demikian dalam upaya memberikan pelajaran akaidah akhlak sikap guru sebagai pendidik sangat menentukan untuk mencapai terwujudnya penerapan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan peserta didik, ini dapat diwujudkan dengan akhlak yang ditunjukkan guru kepada peserta didik, sebab aspek sikap yang didukung oleh keteladanan guru merupakan fungsi utama untuk mata pelajaran akidah akhlak, disamping juga mengkaji tentang masalah-masalah yang berkenaan dengan aspek pengetahuan.[9]
Untuk menguatkan argument di atas ada sebuah contoh yang dapat diberikan, ketika seorang guru mengajarkan kepada peserta didiknya tentang materi kebersihan dan pengamalannya dalam kehidupan, tentu guru harus dapat memberikan cerminan bahwa ia menerapkan ajaran tersebut dalam kehidupannya, dan membiasakan untuk hidup bersih, dengan demikian antara materi dan sikap yang ditunjukan guru akan sejalan, ini akan lebih membantu siswa memahami kebersihan dan menerapakan hidup bersih dalam keseharian mereka.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam mata pelajaran akidah akhlak adalah pendekatan keteladanan yang menempatkan guru serta kompenen lain (madrasah/sekolah) sebagai teladan; sebagai cerminan dari individu yang memiliki keimanan teguh dan berakhlak mulia.
Keteladanan guru merupakan aspek yang sangat menentukan dalam pengajaran akaidah akhlak, terutama materi-materi yang berorientasi pada pengamalan nilai-nilai Islami dan akhlakul karimah. Guru hendaknya tidak hanya mengajarkan aspek kognitif peserta didik tetapi juga membiasakan mereka meresapi nilai-nilai untuk diaplikasikan dalam kehidupan, salah satu cara tersebut guru harus mampu menjadi cerminan dari peserta didik dengan sikap dan keteladanan yang diberikannya.
Lewat tulisan singkat ini, kepada guru hendaknya tidak mengukur keberhasilan peserta didiknya dengan nilai yang didapat mereka dalam ujian, tetapi juga mengupayakan mereka menerapkan nilai-nilai Islam dan akhlakul karimah dalam kehidupan mereka, sehingga peserta didik tidak hanya berkembang kognitifnya tetapi afektif dan psikomotoriknya juga dibangun selaras dengan kognitif.



[1] Pemahaman yang dipahami dalam tujuan pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang sistem pendidikan Nasioanal nomor 20 tahun 2003, tujuan pendidikan yang termuat dalam undang-undang tersebut adalah “Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”.
[2] Berdasarkan hasil sertifikasi Tim Aksesor Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) FKIP Unsyiah bahwa 60 persen guru tak layak mengajar (harian serambi Indonesia, Jum’at 23 November 2007).
[3] Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, Psikologi Kenabian (Menghidupkan Potensi dan Kepribadian Kenabian Dalam Diri), (Yogjakarta: Pustaka Al-Furqan, 2007), hal. 678
[4] Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil-al Islam (Pedoaman Pendidikan anak dalam Islam), jilid 2 (Semarang: As-Syifa’, tt) hal. 2)
[5] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan Dari Allah (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir) jilid I, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999) hal. 803
[6] Abdullah Nashih Ulwan, Ibid, hal. 3
[7] Penuturan seorang siswi kelas II MTsN Kembang Tanjung kepada penulis, observsi ini dilakukan pada bulan Mei 2006.
[8] Penuturan seorang siswi Kelas III MTsN Kembang Tanjung, penuturan ini terungkap saat penulis berbincang-bincang dengan beberapa orang siswi pada jam istirahat(Juni 2006)
[9] Buku Pedoman standar kompetensi kurikulum 2004 Madrasaah Tsanawiyah