01 Agustus 2009

Khalwat

Khalwat, Salah Perempuan?
Oleh : Zarkasyi Yusuf

Aceh adalah negeri bersyariat. Demikian terdengar kabar oleh telingan mereka yang belum pernah menginjakkan kakinya di bumi Serambi Mekkah ini. Rasa penasaran mungkin singgah di pikiran mereka, penasaran ingin melihat langsung bagaimana Syariat Islam di Aceh dijalankan. Kenyataannya, Aceh negeri bersyariat dengan khalwat terjadi dimana-mana. Siapa sebenarnya yang patut dipersalahkan atau diminta pertanggung jawaban, atau siapa yang memiliki andil besar terjadinya pelanggaran syariat berupa khalwat, laki-laki ataukah perempuan?
Jak beutrok kalen beudeuh, bek rugoe meuh hate saket (Lihatlah dengan jelas agar tidak menyesal dan sakit hati di kemudian hari). Demikian pesan orang tua tempo dulu dalam hadih maja. Pesan ini menganjurkan kita untuk meneliti dan mendalami sesuatu dengan seksama agar tidak menimbulkan kesalapahaman dan bias di kemudian hari. Kaitannya dengan tulisan ini adalah bahwa Khalwat yang menurut analisa penulis sudah menjadi sebuah “tradisi” dalam masyarakat yang salah satu dari pelakunya adalah perempuan, tidak ketinggalan kaum adam tentunya. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan perempuan jika khalwat terjadi dimana-mana, tetapi dengan pesan hadih maja di atas penulis mencoba menganalisa secara mendalam dengan pengetahuan yang penulis miliki tentang keterlibatan perempuan dalam khalwat.
Tulisan ini bukan pula mencoba mendramatisir keadaan dengan menganggap khalwat sebagai sebuah tradisi, padahal kita ketahui bahwa khalwat merupakan perbuatan yang mencoreng muka penerapan Syariat Islam khususnya di Aceh. Anggapan bahwa khalwat sekarang menjadi tradisi didasarkan pada kenyataan bahwa setiap hari berita tentang khalwat, mesum dan sejenisnya selalu menghiasi berita koran terbitan Lokal. Jika bukan diubah menjadi tradisi mengapa juga khalwat tidak berhenti terjadi dan selalu menghiasi berita-berita?
Dalam tulisan ini penulis tidak menuduh perempuan menjadi pemain utama dibalik tradisi khalwat, dan mendeskreditkan mereka, khalwat terjadi laki-laki juga ikut andil di dalamya. Artinya, laki-laki dan perempuan sama-sama bertanggung jawab jika melakukan khalwat, namun kecenderungan peran perempuan lebih besar dalam hal pelanggaran berupa khalwat atau perzinaan. Namun untuk memastikan kebenaran siapa yang memiliki andil utama dibalik tradisi khalwat sekarang tentu konsep hadih maja di atas perlu diterapkan agar tidak terjadi salah nilai dan diskriminatif.
Dalam Al-Qur’an tepatnya surat An-Nur ayat 2, menjelaskan tentang hukuman bagi para Penzina. Dalam ayat ini Penzina perempuan (Az-zaniyyah) lebih dulu disebutkan ketimbang penzina laki-laki (Az-zani). Sedangkan pada ayat yang lain yang menjelaskan tentang hukuman mencuri, pencuri laki (As-Sariqu) lebih dahulu disebutkan ketimbang pencuri perempuan (As-sariqah), Mengapa demikian? Ulama tafsir berpendapat bahwa: Jika terjadi pelanggaran berkaitan dengan zina atau khalwat, maka kecenderungan perempuan lebih besar dibandingkan dengan laki-laki, sedangkan pelanggaran yang berupa pencurian kecenderungan laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Jelasnya, kecenderungan perempuan untuk berzina lebih besar dibadingkan dengan laki-laki, begitu pula sebaliknya, kecenderungan laki-laki untuk mencuri lebih besar dibandingkan dengan perempuan.
Jika dilihat dari unsur prnciptaan manusia, nafsu lebih banyak diberikan kepada perempuan ketimbang laki-laki dengan perbadingan satu untuk laki-laki dan sembilan untuk perempuan. Begitu pula dengan rasa malu, malu lebih banyak diberikan kepada perempuan ketimbang laki-laki dengan perbandingan yang sama pula. Jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, wanita lebih sukar mengungkapkan perasaannya ketimbang pria, namun jika perasaan tersebut diutarakan mereka (perempuan) tentu benar adanya.
Meskipun nafsu lebih banyak diberikan kepada perempuan, namun perempuan tidak sesumbar menggunakan nafsunya, ini disebabkan oleh benteng pertahanan yang kokok yaitu rasa malu. Laki-laki dalam kenyataan sering sesumbar dengan nanfsunya, ini karena rasa malu yang lemah pada kaum laki-laki. Andai malu sebagai benteng kokok hancur, maka perempuan akan sesumbar dengan kemampuan nafsu yang dimilikinya itu, bahkan mengalahkan laki-laki terutama dalam kecenderungan untuk melakukan khalwat atau perzinaan.
Dalam keadaan ini, tentu perempuan akan menjadi “objek yang disalahkan dan dikorbankan”. Sebab malu yang dimiliki perempuan telah hilang yang didahului oleh lunturnya nilai-nilai moral pada perempuan, jelasnya bahwa khalwat terjadi disebabkan karena kaum perempuan tidak lagi teguh beriman, ditambah lagi dengan lemahnya kontrol baik dalam keluarga dan masyarakat. Menjadi tugas dan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Aceh. Bagaimana mengupayakan pemecahan masalah ini.
Di sisi lain, isu gender yang kadang dipahami dan disalah mengertikan oleh sebahagian perempuan. Gender dijadikan stimulus untuk menarik perempuan keluar dari performa ideal sesuai dengan tuntunan syariat, performa ideal adalah menempatkan perempuan dengan feminisme yang dimilikinya menjadi makhluk yang juga harus mengabdi kepada Allah dengan kodrat yang dimilikinya. Ditambah dengan sejumlah ketentuan yang membatasi mereka untuk bebas dalam pengertian keluar dari ketentuan yang berlaku.
Pemahaman gender yang salah akan membawa dampak yang akan mendorong perempuan secara tidak langsung untuk berontak, serta menganggap perlakuan untuk perempuan yang selama ini dipraktekkan kurang adil dan selalu menindas perempuan, bahkan termasuk mengarahkan mereka untuk tidak menutup aurat yang salah satu bentuknya adalah berjilbab dengan aturan yang sebenarnya, apalagi dengan menjual isu bahwa wanita tempo dulu tidak berjilbab. Faktor terbukanya aurat perempuan merupakan faktor yang harus diperhatikan dengan benar, terutama untuk mencegah terjadinya korban di pihak perempuan dengan kasus-kasus yang tidak diinginkan.
Surat Al-Ahzab ayat 59, menjelaskan tentang keharusan perempuan untuk menutup aurat dengan mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka agar mereka mudah dikenali dan tidak diganggu. Dalam ayat ini azas mamfaat jelas terlihat bahwa menutup aurat akan menjadi pelindung bagi perempuan, dan mencegah terjadinya khalwat. Kenyataan hari ini, budaya menutup aurat di kalangan wanita Aceh telah mengalami krisis, bahkan sejumlah mode pakaian yang dikenakan mereka tidak bersyariat. Jelasnya, perempuan membuka aurat merupakan salah satu penyebab timbulnya birahi dari kaum yang akan mengarah pada pelanggaran, yaitu khalwat.
Solusi
Membangun sebuah masyarakat tentu harus dimulai dengan pembinaan pada level keluarga, dan individu. Pendidikan keluarga akan sangat menentukan bagi perkembangan seseorang, termasuk di dalamnya perempuan. Pendekatan pendidikan keluarga merupakan solusi utama dalam mencegah perempuan terlibat dengan khalwat. Penulis melihat bahwa kebanyakan orang tua sekarang tidak lagi peduli dengan fashion anak mereka, bahkan kadang mereka mendukung. Tidak ada ketegasan dari orang tua terhadap pemilihan mode pakaian yang harus dikenakan anak mereka,
Orang tua tidak pernah mengambil tindakan tegas terhadap anak jika sang anak membuka aurat atau mengenakan busana yang bertentangan dengan aturan syariat. Ironinya lagi, ibu yang seharusnya menjadi panutan bagi anak dalam hal berbusana malah tidak mampu memberikan contoh bagaimana model pakaian yang harus dikenakan oleh seorang perempuan. Tidak hanya orang tua, masyarakat pun kini mempraktekkan budaya individualisme yang mengakibatkan terabaikannya peran nasehat-menasehati sesama.
Masyarakat bagai dibentuk dengan asumsi “persetan dengan urusan orang”, sehingga tidak ada lagi saling menegur dan menyapa apalagi saling menasehati. Namun, jika ada kelompok yang mencoba terlibat/melibatkan diri mengontrol penerapan syariat Islam, termasuk penggunaan busana di dalamnya. Ini pun menuai berbagai pro dan kontra. Hasilnya, tidak ada lagi community control dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga yang benar dan yang salah di biarkan samar-samar. Rasanya belum terlambat melakukan revitalisasi peran fungsi masing-masing, baik orang tua ataupun masyarakat demi mengembalikan kondisi yang terbentuk dengan kontrol kuat dari masyarakat. Masyarakat hendaknya ikut proaktif dengan segenap kemampuan untuk mencegah terjadinya berbagai pelanggaran, diantaranya adalah mengantisapi terjadinya khalwat.
Revitalisasi peran pendidikan agama, khususnya bagi kalangan perempuan mutlak diperlukan kembali. Dulu Meunasah merupakan lembaga pendidikan yang selalu mendidik generasi muda terutama perempuan, seiring perubahan zaman tradisi beut di Meunasah mulai ditinggalkan bahkan hilang sama sekali. Para orang tua sekarang terkesan acuh dengan pendidikan agama anak mereka, seolah-olah agama hanyalah persoalan akhirat belaka. Idealnya, pendidikan agama bagi perempuan merupakan salah satu benteng yang akan menjaga mereka masuk ke lembah kenistaan yang akan mencoreng nama baik orang tua, masyarakat dan agama.
Penulis melihat akibat lemahnya pendidikan agama bagi kalangan remaja perempuan membuat mereka tidak bisa membentengi diri dari pengaruh kemajuan zaman, kemajuan zaman tidak seimbang dengan filter yang mereka miliki, akibatnya mereka selalu kandas dengan pergulatan kemajuan zaman. Diakui atau tidak bahwa remaja perempuan rentan terjadi perubahan, sebagai contoh dekat perkembangan kehidupan para Mahasiswi di kota Banda Aceh, jika mereka berangkat dengan pendidikan agama yang lemah, Kota Banda Aceh akan menjadi laboratorium yang akan mengubah pola hidup mereka, ditambah lagi lemahnya kontrol dari orang tua.
Lemahnya penegakan hukum juga menjadi faktor tersendiri terjadinya khalwat dengan dominasi keterlibatan perempuan. Apalagi penyelesaian khalwat harus diselesaikan dengan hukum adat yang lebih mengedepankan perdamaian. Sebenarnya penyelesaian hukum adat sah-sah saja, namun para pelaku khalwat hendaknya diganjar dengan hukuman yang membawa efek jera, sehingga nantinya tidak akan terulang lagi sekaligus menjadi cemeti panas bagi yang lain. Di samping itu, hendaknya legitimasi hukum perlu dikuatkan dalam rangka memberikan ganjaran bagi pelaku khalwat.
Kesadaran perlu diberikan kepada kaum perempuan bahwa mereka mahkluk unik ciptaan Allah swt, makhluk yang kadang menjadi incaran nafsu birahi kaum hawa, akibat ini maka pelanggaran khalwat gentayangan dimana-mana sekalipun di Negeri yang bersyariat. Kesadaran ini salah satunya dapat disuntikkan kepada mereka melalui Syariat Working Group (SWG), SWG yang intens memberikan pemahaman tentang ini. Penulis yakin perempuan akan lebih paham apa yang seharusnya mereka lakukan demi menyelamatkan diri dari pengaruh dan tindakan yang dapat mejerumuskan mereka ke jurang kenistaan.
Dalam tulisan singkat ini penulis mengajak kepada kita, terutama generasi muda untuk lebih menghayati bagaiman sebenarnya mengisi pelaksanaan syariat Islam, sehingga syariat Islam akan menjadi cermin terang dalam kehidupan serta membawa keberkahan dunia dan akhirat. Tidak hanya generasi muda, orang tua, pemerintah dan siapapun yang mengaku dirinya hamba Allah dan ummat Nabi Muhammad hendaknya memberikan segenap kemampuan yang dimiliki demi menjaga dan mengawal syariat Islam agar tidak angkat kaki dari tanah Serambi Mekkah ini. Jika syariat Islam hengkang maka malapetaka besar akan datang menghadang, salah satu diantaranya adalah krisis moral dan kepercayaan.