04 Juli 2009

Revitalisasi Ajaran Mahabbah Dalam Konteks Dunia Modern
(Kajian Ajaran Mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah)
Oleh : Zarkasyi Yusuf


Manusia sebagai makhluk yang sempurna, Allah telah menciptakan perasaan sebagai salah satu unsur yang dimiliki manusia, dengan perasaan tersebut manusia memiliki rasa cinta “mahabbah”. Mahabbah adalah tingkatan tinggi dalam dunia sufi. Rasa mahabbah yang dimiliki mendorong mereka rela meninggalkan kesenangan dan gemerlapnya kehidupan dunia, serta rela menderita demi menuju Zat yang telah menciptakan Mahabbah itu sendiri, Rabiah Al-Adawiyah telah mempopulerkan ajaran mahabbah, ajarannnya ini telah mengantarkannya mencapai makan yang tinggi dengan hanya memberikan cintanya kepada Allah swt sebagai tujuan hidupnya dan ia tidak mau membagi cintanya tersebut, sehingga ia rela tidak menikah rela, hidup susah dan bertahan dengan shalat sunnat setiap hari demi menggapai tujuannya itu, yaitu mencintai dan mengharap ridha Allah. Dengan Ajarannya ini Rabi’ah Al-Adawiyah terkenal luas dan dikenal sebagai seorang sufiah ternama.

Dalam perkembangan dunia modern, semua kegiatan diukur dengan nilai materi dan pamrih, ikhlas menjadi hal langka yang sulit didapatkan, tanggung jawab terabaikan, bahkan terkesan seakan-akan tidak ada hari yang akan meminta segala pertanggung jawaban terhadap pelaksanaan seluuruh kegiatan di dunia fana ini. Hal tersebut menyebabkan terjadi berbagai ketimpangan dan dekadensi moral yang mengarahkan hidup manusia bagai tak punya sandaran. Revitalisasi ajaran mahabbah dalam konteks kekinian mutlak diperlukan demi kembali mengkondisikan manusia yang hanya mencintai Allah swt, serta selalu mengharap ridha-Nya. Revitalisasi ini diharapkan dapat meraih keberhasilan seperti halnya Rabi’ah dan para sufi-sufi lainnya, mereka meraih bahagian dengan mahabbah pada mereka. Amin

Revitalisasi ajaran mahabbah dalam konteks modern dengan mengkaji ajaran Rabi’ah Al-Adawiyah, kajian ini merupakan tinjauan historis dari perjalanan hidup sang sufiah ini. Kajian seperti ini dapat dibahas melalui dua metode pembahasan, pertama, metode historis yang lebih menekankan pada peristiwa-peristiwa pelakon-pelakonnya, dalam kajian ini tentu sejarah kehidupan Rabi’ah Al-Adawiyah sendiri. Kedua, adalah metode tematik yang membicarakan masalah sebagai pokok pembahasan,[1] sedangkan pelakunya hanya soal kedua, dalam kajian ini tentu inti ajaran mahabbah itu sendiri.

Dalam mendekati persoalan tentu mustahil kedua metode ini dipisahkan, yang memungkinkan adalah memberikan penekanan pada salah satunya, sedangkan satunya lagi tidak begitu ditekankan. Dalam tulisan ini akan dibahas ajaran mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah serta dicoba untuk dicari korelasinya dengan konteks modern. Kendati demikian, sejarah kehidupan Rabi’ah Al-Adawiyah juga akan disinggung walaupun dalam pembahasan ada kurang lebih dalam tekanan pembahasannya.

Perlu diketahui bahwa mengenai ajarang mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah belum ditemuka literature-literatur yang membahas inti dari ajarannya tersebut, seluruh buku tasauf yang diterbitkan selalu menyinggung sejarah kehidupannya dan juga ajaran cintanya. Buku-buku tersebut banyak menampilkan kisah-kisah rohani dan perjalanan spiritual yang dialami Rabi’ah Al-Adawiyah dalam perjalanan hidupnya.[2] Salah satu hal yang membuat penulis tertarik mengkaji ini, karena berbagai ketimpangan dan ketidak beresan di dunia modern sekarang disebabkan oleh kehampaan cinta, gersangnya rasa mahabbah yang dimiliki oleh setiap manusia, baik itu intelektual dan juga kaum awam, kehampaan cinta merupakan kegagalan dalam menjalankan kehidupan.

Budaya modern cenderung dinamis dan cepat berubah, tetapi cenderung mengabaikan nilai-nilai agama yang cenderung tetap dan mapan, salah satu nilai agama adalah bagaimana mencintai sang pencipta yang telah memberikan anugerah dalam hidup ini, serta bagaimana mewujudkan cinta sesama manusia dan saling tolong menolong dalam kehidupan ini. Kesenjangan yang timbul dalam kehidupan baik antar perorangan, lermbaga dan bahkan negara pada gilirannya akan berdampak pada timbulnya kecemburuan sosial, kecemburuan sosial merupakan awal dari munculnya berbagai konflik, benturan-benturan, kekerasan serta ketidakstabilan masyarakat.

Dengan perlombaan dan kecemburuan sosial manusia tidak segan-segan menghalalkan segala cara dalam hidupnya demi impiannya terwujud, tidak lagi berpikir panjang dan budaya potong kompas akan bersliweran dimana-mana, akibat dari kondisi ini nantinya akan menghilangkan rasa takut kepada Allah swt dan harapan dari keridhaanNya, padahal kauf dan raja’ adalah salah satu element penting dalam ajaran Mahabbah Rabi’ah al-Adawiyah.

Manusia modern disibukkan oleh persaingan dan tuntutan duniawi yang tidak habis-habisnya, rasa kesepian muncul disebabkan karena hubungan antar individu kurang tulus dan selalu ada maksud tertentu, orang curiga dengan pujian jangan-jangan ada maksud tertentu. Perilaku menyimpang timbul akibat keringnya nilai-nilai masyarakat dan perubahan norma-norma sosial, di samping itu juga disebabkan dorongan kuat untuk memuaskan keinginan dengan jalan pintas.[3] Berbagai gangguan jiwa timbul sehingga mengakibatkan psikosomantik, yaitu penyakit jasmani yang diakibatkan oleh gangguan rohani seperti tidak bisa konsentrasi, badan lemah, pusing stress dan perilaku menyimpang.

Perjalanan hidup Rabi’ah Al-Adawiyah telah menanamkan kehati-hatian dalam hidupnya, bahkan sejak Rabi’ah masih kecil, beliau sangat menjaga agar tidak terjebak dalam gelamornya dunia yang akan sulit membedakan antara halal dan haram, kehati-hatiannya ini telah mengantarkan dirinya menjadi sufiah ulung. Peristiwa aneh dan tidak layak di usianya yang masih kanak-kanak, peristiwa ini merupakan peristiwa langka apalagi terjadi di usia anak-anak, terlebih di zaman modern. Pada suatu hari, seluruh anggota keluarga Rabi’ah berkumpul untuk makan bersama, ia tidak langsung duduk untuk menikmati makanan. Rabi’ah berdiri dan memandang ayahnya, seakan ia meminta penjelasan dari makanan yang akan dimakan, karena Ayah Rabi’ah tidak memberika penjelasan apa-apa, Rabi’ah berkata “Ayah! Aku tidak ingin Ayah menyediakan makanan yang tidak halal”. Keherananan Ayahnya menatap wajah putrinya yang masih belia itu, namun ia telah menunjukkan nilai iman yang kuat, ayahnya menjawab “bagaimana kalau seandainya tidak ada lagi yang bisa diperoleh selain dari yang haram?”. Rabi’ah menjawab “biar kita menahan lapar di dunia ini, ini lebih baik daripada kita menahannya kelak di akhirat dalam api neraka”.[4]

Ilustrasi cerita di atas menggambarkan sebuah kepekaan yang sangat luar biasa dan sebuah upaya preventif dalam membersihkan diri dan jiwa dari sesuatu yang haram, sebab seseoarang yang mencintai tentu akan memelihara dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan oleh yang dicintainya. Benteng pertahanan untuk menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan, ucapan dan makanan yang haram sangat sulit didapat dalam konteks modern, akibatnya korupsi dimana-mana, khalwat merajrela, dan pelanggaran lain terus saja ada.

Jika dikaji lebih jauh, konsep mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah adalah mahabbah terhadap Ilahi, bagaimana seorang hamba mampu menyerahkan dirinya kepada Ilahi sebagai Rabbnya, mampu menghambakan dirinya, siap menderita dan rela kepada ketentuan-Nya, serta hanya mengharap ridha daripada-Nya. Inilah sebenarnya hakikat cinta Rabi’ah Al-Adawiyah. Keridhaan adalah maqam paling tinggi dalam ajaran mahabbah yang dipelopori Rabi’ah Al-Adawiyah. Imam Ali Al-Jauzi berpendapat bahwa tingkatan cinta yang paling tinggi adalah tatayyun yang menunjukkan penghambaan diri seseorang kepada yang dicintainya, dengan ini maka hamba tersebut akan menanamkan sikap ridha kepada yang dicintainya.[5]

Banyak syair Rabi’ah Al-Adawiyah yang bertajuk keridhaan kepada Ilahi, diantara syair tersebut:
Tuhan, bila sijudku pada-Mu karena takut neraka
Bakar diriku dengan apinya
Bila sujudku pada-Mu karena memdambakan surga
Tutup untukku surga itu
Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata
Jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku
Aku rindu manatap keindahan-Mu.[6]

Melihat konteks sekarang, rasanya revitalisasi mahabbah terutama pada Ilahi layak dilakukan kembali, ini demi mengantisipasi berbagai penyalahgunaan dan penyelewengan yang merusak nilai manusia, sehingga ketika mengahdap sang pencipta cinta akan mendapat cinta sejati darinya.

Dalam tulisan singkat ini penulis mengucapkan selamat menempuh perjalananmencari cinta Ilahi, semoga kita akan sampai di Bandara cinta yaitu, radhiyallahu an’hu waradhu an’hu.

Penulis adalah Pengawai Honorer pada MTsN Kembang Tanjung Kabupaten Pidie





[1]Hasan Galunggung, Pendidikan Islam Abad 21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2003), cet ke-3, hal. 2
[2]Asfari MS dan Otto Sukatno, Mahabbah “cinta” Rabi’ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999) cet ke-5, hal. 4
[3] Ahmad Mubarok, Jiwa Dalam Al-Qur’an; Solusi Krisis Keharmonisan Manusia Modern, (Jakarta: Paramadina, 2000), hal. 3
[4] Muhammad Atiyah Khamis, Rabi’ah Al-Adawiyah, terj Alauddin Mahjuddin dari Rabi’ah Al-Adawiyah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), hal. 7
[5] Kahtur Suhardi, Taman Orang –Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, (Jakarta: Darul Falah, 2006), cet ke-13, hal. 13
[6] Asfari Ms dan Otto Sukatno, Mahabbah “Cinta” Rabi’ah Al-Adawiyah¸hal. 113