04 Juli 2009

MELACAK PEMIKIRAN ULAMA DAYAH

Resensi Buku
MELACAK PEMIKIRAN ULAMA DAYAH
(DARI KLASIK MENUJU PROGRESIF)
Oleh : Zarkasyi Yusuf

Judul Buku : Pemikiran Ulama Dayah Aceh
Penulis : Tgk. H. Daud Zamzami, dkk.
Penerbit : Prenada Media Group, Jakarta
Cetakan : 1, April 2007
Halaman : 219+xxi

Pemikiran adalah suatu hal yang selalu berkembang terus menerus, dan mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan masalah dalam zaman tersebut, perkembangan pemikiran memberikan kontribusi besar dalam menjawab segala permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, terutama pemikiran yang dilahirkan oleh orang-orang yang memiliki pengaruh dan kharismatik dalam masyarakat, sehingga pemikiran mereka dapat dijadikan solusi untuk menjawab permasalahan.
Sebagai sebuah institusi pendidikan, dayah telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan masyarakat, dan juga telah melahirkan tokoh-tokoh ulama yang menjadi agent of change dalam kehidupan masyarakat, dan mereka telah banyak memberikan sumbangan besar dalam bidang tauhid, fikih, tafsir, tasawuf, politik, ketatanegaraan, ekonomi dan lain-lain, dalam catatan sejarah kita mengenal beberapa nama ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Syekh Abdurrauf as-Singkily, Nuruddin ar-Raniry dan lain-lain, mereka sangat produktif dalam menghasilkan karya-karya monumental dan dijadikan pijakan dan rujukan oleh masyarakat.
Setelah generasi-generasi penghasil karya-karya besar tersebut berlalu, dayah sebagai lembaga kajian keislaman telah mengalami kemunduran dalam menghasilkan “karya karya baru”, ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktor tersebut adalah bahwa tradisi pewarisan ilmu pengetahuan di dayah masih menggunakan tradisi lisan, dan juga berkembang asumsi sebahagian pihak dayah bahwa untuk apa menghasilkan karya baru, sedangkan karya yang telah dihasilkan oleh ulama-ulama terdahulu belum habis dikaji, dan untuk mengkaji itu semua memerlukan energi dan waktu yang banyak, jadi menghasilkan karya baru merupakan pemborosan waktu belaka.
Buku Pemikiran ulama dayah yang ditulis oleh Tengku Haji Muhammad Daud Zamzami dan kawan-kawan yang juga pimpinan beberapa dayah besar di Aceh, telah membangkitkan kembali gairah penulisan dalam tradisi dayah yang telah lama terpendam, mereka semua mampu memberikan sumbangan pemikiran sehingga menghasilkan buku pemikiran ulama dayah walaupun tanpa didahului oleh metodelogi yang sistematis, seperti yang diajarkan dan menjadi tradisi dalam dunia akademik. Apresiasi harus kita berikan kepada mereka atas karya ini, dan ini juga telah menjawab sebuah asumsi-asumsi miring yang ditujukan kepada institusi dayah.
Buku ini memcoba membahas permasalahan-permasalahan kontemporer yang timbul sekarang dengan menggunakan kajian-kajian literatur klasik yaitu kitab kuning, ini merupakan salah satu upaya mentransformasikan pemikiran klasik kedalam pemikiran modern, dan juga memberikan sinyal bahwa pemikiran klasik juga dapat dijadikan pijakan untuk solusi dalam menjawab problematika kontemporer yang muncul sekarang.
Pemikiran Ulama dayah sebagai sebuah upaya transformasi klasik menuju modern, dengan menghargai perbedaan pendapat dan keberagaman yang timbul serta juga dengan memperkuat fundamen dasar dan memperhalus filter terhadap “stimulan”(perkembangan), terutama persoalan akidah, karena akidah menjadi asas bangunan dalam islam dan mewarnai perilaku setiap muslim. Sebenarnya perselisihan dan pertentangan adalah sesuatu yang lumrah dalam dunia ini, dimana kejahatan selalu berseteru melawan kebaikan, kebenaran akan selalu diperangi oleh kesesatan walau kesesatan pasti tidak akan pernah menang, dalam kondisi ini yang diperlukan oleh seorang muslim adalah kemampuan dan kejelian dalam menilai setiap aliran dan pemikian yang dihadapi, (hal 3).
Pemikiran yang ditulis oleh para ulama dayah Aceh juga menjadi benteng pertahanan dalam menjaga dekadensi moral dan nilai-nilai keagamaan, terutama bagi generasi muda. Pesatnya perkembangan media informsi ternyata ikut memberikan ancaman terhadap ketahanan akidah generasi muda islam. Dalam dekade terakhir sangat terasa kegamangan dalam generasi muda Aceh, bahkan dikalangan masyarakat terpelajar. Berbagai aliran pemikiran berseliweran disekitar kita, selalu siap dan sangat muda untuk diakses. Dari berbagai aliran yang muncul dalam islam, dalam buku ini hanya menitikberatkan perhatian pada dua kutub yang cukup ekstrem, dimana manusia biasanya muda tergelincir, kutub yang pertama adalah kecenderungan manusia untuk selalu mengedepankan rasio, kutub yang lain adalah kecenderungan fanatisme. Dengan memahami kedua kutub ini, maka akan terlihat posisi pertengahan yang ideal untuk dipedomani, (hal 67-100).
Perkembangan zaman juga berdampak pada munculnya berbagai persoalan kontemporer yang membutuhkan sebuah legalitas hukum terutama tinjauan hukum fikih, salah satu diantaranya adalah tentang menutup aurat, ini dimungkinkan karena munculnya berbagai macam model dan mode fashion, terutama sekali untuk para wanita, kajian tentang ini sangatlah penting apalagi dengan penerapan syariat Islam dibumi serambi Mekkah yang seyogyanya setiap perilaku hidup hendaknya sesuai dengan ajaran dan tuntunan syari’at islam. Kesadaran ini sebenarnya sangat penting karena islam mengajarkan bahwa semua aktivitas kita akan bernilai ibadah jika dilakukan atas kesadaran perintah agama, realitas sekarang menunjukkan bahwa tradisi yang dipraktekkan tidak lagi islami, terutama cara berpakaian sebahagian wanita, padahal islam telah mengatur pakaian wanita dengan prinsip tidak membahayakan bagi dirinya dan menimbulkan fitnah bagi orang lain serta berada dalam koridor akhlak yang mulia, (143-144).
Buku pemikiran ulama dayah Aceh juga membuka cakrawala pemikiran dan pengetahuan tentang keislaman dengan menyelami khazanah keilmuan yang sangat dalam, dan juga menghayati dan menghargai perbedaan pendapat dalam agama. Perbedaan adalah sunnatullah di alam ini, sehingga menolak perbedaan justru merusak tatana alam yang telah diciptakan Allah dalam keseimbangan. Islam menoleransi perbedaan selama tidak menyimpang dari sumber-sumber yang qath’i, bahkan lebih menggalakkan ukhuwah dan memerangi perpecahan. Al-Qur’an dan as-Sunnah mensyari’atkan sebahagian hukum secara qath’i, dan membiarkan sebahagian lainnya terbuka dan interpretatif. Lalu memerintahkan ummat islam untuk berpikir, menganalisis berbagai persoalan dengan roh keislaman. Jika ummat islam menyelami kandungan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka seorang muslim akan mendapati dirinya dituntun oleh semangat syar’i. Oleh karena itu seorang muslim tidak perlu bingung menghadapi keberagaman pendapat dalam hal furu’ syariat, selama semangat untuk menghayati ajaran islam kuat di hati. Dengan keberagaman dan perbedaan, menunjukkan bahwa betapa luas dan dalamnya kajian keislaman, sehingga kita dituntut untuk terus menghayati dan mendalami kajian-kajian tersebut, (103).