04 Juli 2009

Ramadhan; Bulan Penuh Cinta

Ramadhan; Bulan Penuh Cinta
Oleh : Zarkasyi Yusuf

Jika cinta telah mendominasi seseorang
Ia dapat menelikung hawa nafsunya
Ia pun tidak akan merasa nikmat
Selain dengan kekasihnya
(petuah Imam Al-Ghazali)

Alhamdulillah, ternyata Tuhan masih cinta, cinta kepada kita para hamba-Nya. Ramadhan di depan mata, bulan penuh cinta kini telah bersua menunggu ekspresi cinta dari para hamba Allah yang beriman. Sebagai sang Khaliq, kecintaan Allah kepada hamba dapat dirasakan dalam bulan Ramadhan, besarnya cinta Allah kepada hamba sangat besar dalam bulan Ramadhan, namun sebagai hamba terbuka peluang untuk menggapai cinta itu, bisakah kita menggapainya?
Bukti Cinta Allah
Pada saat Nabi Musa berkalam dengan Allah SWT, Allah menyampaikan sebuah berita kepada Nabi Musa tentang kelebihan ummat Muhammad, Allah berfirman kepada Musa “ Ya Musa, saya akan berita kepada Muhammad dua cahaya dan dua kegelapan”. Nabi Musa bertanya” Apa cahaya dan kegelapan itu ya Allah?”. Allah berfirman “Cahaya Al-Qur’an dan cahaya Ramadhan, sedangkan kegelapan adalah kegelapan kubur dan kiamat”. Cahaya Ramadhan merupakan sebuah bukti besar cinta Allah kepada hamba-Nya, betapa tidak! Ramadhan hanya diberikan Allah kepada hamba ummat Muhammad dan tidak pernah dianugerahkan kepada ummat sebelum Muhammad. Seperti dimaklumi, bahwa dalam Ramadhan Allah SWT melipat gandakan amalan kebajikan ditambah lagi dengan janji Allahu yudha’ifu li man yasa’.
Allah SWT menganugerahkan Ramadhan dengan gandaan pahala amalan kebajikan. Namun tidak hanya itu, dalam Ramadhan Allah menjadikan satu malam yang lebih dari seribu bulan atau sama dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan, malam tersebut dinamakan dengan nama lailatu al-qadar. Pada malam tersebut Allah memberikan ampunan kepada siapa saja yang beribadat di dalamnya, serta akan diberikan kelabihan lainnya yang tidak terduga.
Pada bulan Ramadhan Allah SWT membuka pintu surga dan menutup pintu neraka, ini berarti Allah memberikan akses yang luas kepada hamba untuk manggapai surga dengan mengisi Ramadhan dengan nilai-nilai ibadah. Tidak kalah pentingnya bahwa Ramadhan merupakan bulan yang maqbul doa’, Allah akan memperkenankan setiap permintaan hamba.
Begitu besar cinta Allah yang ditumpahkan dalam bulan suci Ramadhan, Allah memberikan cintanya kepada hamba agar dapat meraih fadhilah-fadhilah yang terkandung dalam Ramaadhan, serta memamfaatkan fadhilah tersebut sebagai bekal abadi ketika menghadapi yaumul hisab atau hari perhitungan amal. Sekarang, mampukah hamba meraih cinta Allah dalam Ramadhan?.
Meraih Cinta Allah
Perlu diingat bahwa kesempatan itu sulit didapat, dia hanya datang sekali dalam hidup. Demikian pula Ramadhan, Ramadhan hanya satu bulan dalam setahun, artinya Ramadhan hanya datang satu kali dalam setahun, singkatnya Ramadhan merupakan kesempatan emas. Rasulullah pernah menegaskan dalam sabdanya bahwa seandainya manusia (ummatnya) tahu betapa besar Ramadhan sungguh manusia akan menginginkan hendaknya seluruh bulan dalam setahun adalah bulan Ramadhan, demikian besarnya fadhilah yang terkandung dalam Ramadhan.
Masyarakat Aceh mengenal adagium mita sithon pajoh sibulen (berusaha setahun untuk kebutuhan satu bulan), adagium ini selalu didengungkan untuk memotivasi mengisi Ramadhan dengan amal ibadah. Adagium ini juga mengandung pesan hendaknya Ramadhan yang datang sekali dalam setahun dimamfaatkan dengan semaksimal mungkin. Jadikan setiap niat, perkataan dan perbuatan bernilai ibadah kepada Allah SWT, jadikan setiap waktu selalu terlewatkan dengan amalan kebajikan dimana pun dan kapan pun. Sebagai contoh di kantor misalnya, untuk mengisi kekosongan waktu, yang kadang terlewatkan dengan hanya menggosip, terlewatkan dengan nongkrong di kantin atau hal-hal lain yang biasa dilakukan yang tidak bermamfaat. Hendaknya kekosongan waktu tersebut diisi dengan memperbanyak tadarus Al-Qur’an, minimal satu juz, alhamdulillah kalau lebih.
Meraih lailatul al-Qadar, tidak semudah meraih kursi dewan yang diperebutkan dalam ajang pemilihan umum, meraih lailatul al-Qadar sulit. Untuk itu, marilah mengisi seluruh malam Ramadhan dengan ibadah, Insya Allah kelebihan yang telah dijanjikan Allah dalam satu malam diantara keseluruhan malam tersebut akan dapat diraih, sehingga fadhilah lailatul al-Qadar tidak hanya menjadi impian tetapi terwujud dalam kenyataan, Amin.
Meraih cinta Allah dalam Ramadhan dapat ditempuh dengan menambah kecintaan kepada hamba Allah lainnya, terutama mereka yang kurang mampu dan membutuhkan uluran tangan, kepekaan sosial akan menjadi satu media menggapai cinta Allah di bulan yang penuh cinta. Membantu fakir miskin, anak yatim dan kaum dhuafa merupakan salah satu cara, mari sisihkan sebahagian kemampuan yang dianugerahkan Allah untuk membantu mereka meringankan beban kehidupan, membantu mereka juga dapat berarti menuai cinta yang ditanam Allah dalam bulan suci Ramadhan.
Puasa Ramadhan adalah latihan mengekang hawa nafsu, latihan menetralisisr keinginan hawa nafsu untuk berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah. Semakin sedikit peran hawa nafsu dalam kehidupan manusia semakin besar minat manusia untuk meraih cinta yang dijanjikan Allah dalam bulan Ramadhan. Berpuasalah!
Dalam tulisan singkat ini, penulis mengajak marilah berusaha menghindari setiap tindakan yang dapat mengundang murka Allah, yang mengakibatkan pudarnya nilai cinta. Tinggalkan seluruh perbuatan maksiat, murkan dan keji, buang jauh-jauh sifat tercela, mari saling bermaafan guna menyosong Ramadhan dengan hati bersih.
Singkatnya, seluruh aspek kehidupan dalam Ramadhan dapat dijadikan media untuk menggapai cinta Allah di bulan Ramadhan; bulan yang penuh cinta ini. Selamat menempuh perjalanan tiga puluh hari mencari cinta, cinta Ilahi yang hakiki.

Penulis adalah Santri Dayah, tinggal di Kembang Tanjung, Pidie.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih