04 Juli 2009

Qurban, Bukti Cinta Keluarga Ibrahim
Oleh: Zarkasyi Yusuf

Imam Ali Al-Jauzi dalam Raudhatul Mihibbin telah membagi beberapa tingkatan cinta, menurut beliau tingkatan cinta ada sepuluh macam, tingkatan tertinggi diberi nama dengan Tatayyun. Cinta pada tingkatan ini akan mendorong seseorang untuk berkorban demi yang dicintai tanpa memperdulikan penderitaan sendiri. Bercermin pada konsep cinta Ali Al-Jauzi, tampaknya sesuai dinobatkan bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail menempati tingkatan cinta tatayyun. Betapa tidak, perjalanan hidup keduanya dilalui dengan penuh perjuangan dan pengorbanan.
Qurban, adalah peristiwa penting dan bersejarah dalam perjalanan hidup dua Insan kamil ini, perjalanan yang telah tercatat dan dibukukan menjadi sebuah aturan syara’ yang harus ditaati oleh ummat Muhammad. Di samping itu, Qurban juga perjalanan hidup dua orang hamba Allah yang tunduk dan patuh pada ketentuan sang khaliq. Dalam sirah hidup keduanya diceritakan bahwa suatu hari Nabi Ibrahim berdoa agar dikaruniakan anak yang saleh, permohonan Nabi Ibrahim diterima dan dikaruniai Ismail.
Kelahiran Nabi Ismail diliputi peristiwa bersejarah, peristiwa keberanian dan kebesaran cinta seorang Ibu terhadap anak yang dicintainya. Hajar sang Ibunda, harus berjuang bolak-balik shafa dan Marwah demi mencari air, ia tidak kenal lelah hingga sanggup bolak-balik selama 7 kali, peristiwa ini sekarang terekam menjadi salah satu pekerjaan wajib haji yang dinamakan dengan Sa’i. Allah kembali menguji kecintaan Ibrahim dan Ismail, Allah mengingatkan Ibrahim dengan janji yang pernah diucapkannya suatu hari, janji mempersembahkan apa saja yang dimilikinya demi mendekatkan diri kepada Allah, termasuk juga mempersembahkan anaknya, yang saat janji itu diucapkan Ibrahim masih belum dikaruniai Ismail.
Ismail tumbuh menjadi seorang anak yang ceria, membuat kedua orang tuanya bahagia, kini tibalah perintah Allah agar Ibrahim menunaikan nazarnya itu, nazar agar Ismail disembelih sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan apa yang pernah diucapkannya. Proses pelaksanaan Qurban pun dilalui keduanya dengan penuh tantangan dan cobaan dari Iblis, Iblis menggoda Nabi Ibrahim agar mengurungkan niatnya menyembeli anak tercinta Ismail, belum sempat iblis menambah kualitas godaannya, Nabi Ibrahim melemparinya dengan batu, sekarang peristiwa ini terekam menjadi perintah melontar jumrah bagi mereka yang menunaikan ibadah haji sebagai simbol permusuhan abadi antara Iblis dan anak Adam. Keteguhan iman keluarga Ibrahim menjadi benteng tangguh godaan Iblis, ketangguhan iman mereka mengantarkan mereka melaksanakan perintah besar dan luar biasa; yaitu menyembelih Ismail sebagai Qurban.
Ketika tiba di tempat penyembelihan (Mina), Ibrahim meminta pendapat anaknya tercinta mengenai perintah Allah yang kini dipundakkan kepadanya, azas musyawarah diproklamirkan Ibrahim menjadi pendidikan dasar dalam keluarga. Ini tidak berarti mengoyahkan keimanan Ibrahim untuk membuktikan cintanya kepada Allah, tidak berarti mengoyahkan benteng tangguh keinginannya untuk menyembelih Ismail. Jawaban luar biasa keluar dari mulut manis Ismail, Ismail mempersilahkan sang Ayah untuk melaksanakan perintah Allah yang kini diembannya.
Dari jawaban Ismail, telah cukup memberi bukti bahwa Ismail adalah anak yang saleh, anak yang telah memiliki modal cinta kepada Allah, padahal kala itu Ismail mempertaruhkan nyawa. Namun, cinta kepada Ilahi telah mengantarkan Ismail siap menerima segala resiko (Dialog yang menegangkan ini dikisahkan kembali oleh Allah dalam surat As-Shaffat ayat 99 – 105). Ibrahim dan Ismail siap menerima segala resiko demi mempertaruhkan cintanya kepada Allah, Ibrahim siap kehilangan anak tersayang, Ismail pun siap hilang nyawa disembelih Ayah tercinta. Kesiapan keluarga Ibrahim menerima resiko cinta merupakan manivestasi keimanan tangguh yang dimiliki mereka.

Memetik Hikmah Qurban
Sekarang Qurban tidak lagi menyembelih manusia (walaupun Ismail ditebus dengan seokor kibas), tetapi menyembelih binatang yang layak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam hukum fiqh. Penulis melihat bahwa tradisi Quban masih utuh berlaku dan dilaksanakan oleh masyarakat Aceh, baik di gampong ataupun di kota-kota. Setiap tiba hari Nahar (hari berqurban), mereka yang memiliki kemudahan rizki masih antusias melaksanakan Qurban, bahkan permintaan binatang Qurban menjelang hari nahar meningkat drastis.
Namun, apakah sekarang Qurban merupakan sebuah manisvestasi cinta kepada Ilahi seperti halnya Nabi Ibrahim dan Ismail? Pertanyaan ini sulit untuk dijawab, dan hanya pribadi masing-masing yang mampu memberikan jawaban dari pertanyaan ini, harus diakui bahwa kecintaan kepada Ilahi yang kita tunjukkan sekarang masih dalam tanda tanya besar. kadang berqurban hanya menjadi sebuah eforia tersendiri, atau untuk mempertahankan status yang disandang yaitu orang kaya. Pernyataan ini bukan berarti menggugat mereka yang melaksanakan qurban, atau mempertanyakan keikhlasan mereka untuk Qurban.
Perlu mendapat perhatian kita bersama bahwa bukti cinta kita kepada Ilahi tidak hanya dalam hal melaksanakan Qurban semata, tetapi lebih dari itu bagaimana kesadaran yang perlu ditumbuhkan untuk taat melaksanakan segala perintah Allah, tidak hanya Qurban tetapi juga hal-hal lain, seperti memperhatikan fakir miskin dan anak yatim. Qurban memang diberikan kepada mereka yang kurang mampun, namun mereka tidak hanya hidup di bulan Dzulhijjah saja, tetapi mereka juga hidup layaknya manusia biasa, mereka hidup dua belas bulan dalam setahun.
Handaknya Qurban sekarang tidak hanya menyembelih binatang, tetapi dengan pelajaran dari peristiwa Qurban kita juga rela berkorban menyelamatkan mereka yang menjadi korban, rela berkorban untuk membantu saudara kita mereka jadi korban. Jangan moment Qurban dijadikan sebagai prestise untuk mencari kemegahan, tetapi mari mamfaatkan moment Qurban untuk membuktikan cinta kepada Ilahi sebagaimana yang telah dibuktikan oleh keluarga Ibrahim, Qurban adalah bukti cinta Ibrahim dan Ismail untuk melaksanakan hukum Allah.
Begitu pula kiranya, Qurban hendaknya menjadi wadah membuktikan kemauaan kita melaksanakan hukum Ilahi yang sekarang mengaung di bumi Serambi Mekkah yang disebut dengan penerapan syariat Islam. Mari wujudkan pengorbanan untuk hidup melaksanakan syariat, atau rela berkorban demi syariat Islam. Buktikan cinta kita kepada Ilahi untuk hidup melaksanakan segala ketentuan-Nya, beranikah kita berkorban demi cinta kepada Allah? Atau mampukah kita melahirkan keluarga-keluarga semisal keluarga Ibrahim, yang siap memperatruhkan apa saja demi menjalankan perintah Allah? Do it or Never ! Hasbunallah wanikmal wakil, wanikmal maula wanikman nashir.
Penulis adalah santri Dayah Tinggal di Kembang Tanjong, Sigli