04 Juli 2009

Menggapai Puasa Sejati

Menggapai Puasa Sejati
Oleh : Zarkasyi Yusuf

Wahai Orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertakwa
(Q.S. Al-Baqarah: 183)

Ramadhan adalah saidussyuhur (penghulu segala bulan), bulan yang di dalamnya terdapat titipan Allah kepada orang yang beriman, yaitu puasa. Puasa adalah perintah Allah yang diwajibkan kepada manusia dan menjadi salah satu sendi Islam (rukun Islam). Puasa tidak hanya diwajibkan Allah kepada ummat Muhammad saja tetapi juga ummat-ummat sebelumnya, namun model dan tatacara pelaksanaanya berbeda. Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang dapat membatalakan puasa itu sendiri, serta hal-hal yang dapat membantalkan pahalanya juga.
Puasa adalah Ibadah sirriah (rahasia), ibadah yang hanya diketahui oleh yang melaksanakan dan Allah swt. Oleh karena itu puasa hanya akan sanggup dilaksanakan dengan sempurna oleh orang-orang yang mantap imannya, ditambah lagi konsekuensi dari puasa adalah lapar dan haus. Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk menjaga nilai dari puasa itu sendiri, kalau tidak maka puasa tidak akan membuahkan hasil apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Puasa memiliki tingkatan dan kelas, jika ingin puasa menjadi ampuh memerangi hawa nafsu dan membawa dampak dalam kehidupan tentu dibutuhkan upaya untuk meraih kelas yang terbaik dari beberapa tingkatan dan kelas dari puasa. Puasa dibagi dalam tiga kelas.
Pertama, puasa awam namanya (shaumul awam), yaitu puasa yang hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja, pada tingkatan puasa ini hanya lapar dan dahaga yang menjadi prioritas saja sedangkan hal-hal lain yang dapat membantalkan puasa terabaikan. Bahkan puasa pada tingkatan ini cenderung menuruti keinginan hawa nafsunya, berdusta, mengupat, bahkan melakukan perbuatan lagha (sia-sia) tidak dihindari pada puasa model ini. Sekarang, salah satu hal yang ditakutkan membatalkan pahala puasa adalah budaya asmara subuh dan JJS (jalan-jalan sore) dikalangan remaja muda mudi. Tradisi ini sudah semakin menggejala dalam kehidupan, jika ditanya mengapa ini mereka lakukan tentu jawabannya adalah peulale puasa (menghibur diri karena puasa), ditambah lagi dengan percampuran muda mudi yang bukan muhrim.
Kedua, puasa khawas namanya (puasa orang-orang saleh). Puasa pada tingkatan ini disamping menahan lapar dan dahaga juga menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalakan puasa. Menjaga pandangan dari yang diharamkan syara’, menjaga lidah dari ghibah (mengupat), berdusta dan berkata keji, menjaga telinga dari mendengarkan sesuatu yang keji, menjaga anggota dari melakukan perbuatan keji, menjaga perut dari makanan yang syubhat ketika berbuka, dan tidak memperbanyak makan ketika berbuka puasa yang dapat mengakibatkan hilangnya gairah ibadah, hal hal ini juga dijaga oleh orang-orang yang berpuasa pada tingkatan khawas. Singkatnya, puasa tingkat ini adalah puasa dari segala yang dapat mebatalkan puasa dan membatalakan pahala puasa.
Ketiga, puasa Khawas al-Khawas (puasa para Nabi dan siddiqien), puasa tingkat ini adalah puasa seluruhnya, termasuk juga hati dan pikiran. Berpuasa dari memikirkan dunia, salah satu yang penyebab batalnya puasa pada tingkatan ini adalah memikirkan sesuatu selain Allah. Jelasnya, puasa tingkat ini adalah berpuasa dari mengingat, menyebut selain Allah.
Sekarang, disuguhkan pilihan kepada kita untuk meraih puasa sejati, puasa yang akan mendapatkan nilai dari Allah swt, setidaknya puasa pada tingkat khawas. Mengabaikan hal-hal yang membatalkan puasa berarti berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, ini disinggung Rasulullah dalam sebuah hadist bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi yang didapat dari puasanya hanya lapar dan dahaga. Jika lapar dan dahaga yang didapatkan, tentu hanya mendapatkan luar dari puasa itu sendiri sedangkan isi yang paling esensial tidak didapatkan. Logikanya, seorang kiper yang menangkap bola dalam gawang, kendati bola ditangkap namun tetap dihitung kebobolan atau kemasukan.
Berpuasa juga berarti membuktikan eksistensi kita sebagai manusia yang beriman, sebab seruan puasa hanya kepada mereka-mereka yang beriman, mereka yang mengakui kebesaran Allah swt. Tidak hanya itu, sebanarnya ada target lain yang menjadi sasaran yaitu mencapai derajat orang-orang yang bertaqwa. PR besar bagi kita untuk dapat menggapai puasa sejati, puasa hakiki yang akan mendapat nilai dari Ilahi, jadikan moment puasa ini menjadi wadah mendapatkan gelar muttaqien seperti yang dijanjikan Allah swt. Ya Rabb jadikan shalat, puasa dan amal ibadah kami mendapat ridha-Mu ya Allah!
Andai seluruh masyarakat Aceh yang sudah berkewajiban melaksanakan puasa, sukses dengan puasa pada bulan Ramadhan ini dengan menyandang gelar muttaqien dan muttaqinat, tentu Aceh akan kembali jaya, jaya dengan mereka-mereka yang bertqwa, tidak ada lagi kekerasan, penindasan dan pemerkosaan, korupsi yang sudah menjadi irama dan ironi tentu akan hilang sendiri. Mari berpuasa semoga menjadi orang-orang yang bertaqwa. Amin
Penulis adalah Santri Dayah, tinggal di Kembang Tanjung, Pidie