04 Juli 2009

Egoisme

Egoisme Modal Kehancuran
Oleh Zarkasyi Yusuf

Hidup tidak segampang membalikkan telapak tangan, demikian salah satu pesan pepatah bijak, pepatah tersebut memberikan suatu early warning (peringatan dini) bahwa hidup penuh tantangan dan cobaan, salah satu tantangan yang dihadapi manusia dalam hidup adalah godaan Iblis. Iblis adalah makhluk Allah yang dulunya bernama Azazil, Azazil menjadi pengatur Ibadah malaikat bahkan derajatnya pun lebih dari para malaiakat, jelasnya bahwa Azazil adalah makhluk Allah yang taat.
Untuk memakmurkan bumi, Allah Swt menciptakan Adam menjadi Khalifah di permukaan bumi dengan mengemban misi menebarkan kebaikan dan ketaatan dalam bumi, walaupun para malaikat sempat memberikan tanggapan mengenai penciptaan seorang khalifah di permukaan bumi (Q. S. Al-Baqarah, 30). Setelah Allah menciptakan Adam, diperintahkan kepada malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam. Semua malaikat bersujud kepada Adam sesuai dengan perintah Allah Swt, namun Iblis enggan untuk sujud kepada Adam (Q. S. Al-Baqarah, 34). Iblis menolak bersujud kepada Adam kerena Iblis menganggap bahwa unsur tanah sebagai sumber penciptaan Adam tidak lebih baik dari unsur api, anggapan bodoh ini dikarenakan Iblis memiliki sifat sombong dan angkuh untuk tidak tunduk kepada Allah Swt dengan bersujud kepada Adam.
Karena tindakannya ini, Allah memberikan sanksi luar biasa kepada Iblis yaitu diusir dari surga serta digelar dengan Ar-Rajim (yang terkutuk), kendati dulunya Iblis adalah pengatur Ibadah malaikat dan memliki derajat yang lebih tinggi dari malaikat, namun karena kesombongan dan keangkuhan Allah murka kepadanya. Sekali melanggar perintah Allah langsung diganjar dengan ganjaran yang setimpal, Iblis tidak menaruh hormat kepada Allah swt yang menyebabkan ia enggan sujud kepada Adam. Iblis dicap sebagai Ar-Rajim karena egoisme yang dimilikinya, sifat egonya telah menyeretnya menjadi makhluk yang dicap putus dari rahmat Allah swt, Nau’zubillah.
Lalu bagaimana dengan egoisme manusia? Manusia adalah makhluk Allah yang sempurna, hidup di dunia menggunakan fasilitas yang disediakan Allah swt, Allah tidak menuntut ganti rugi dari fasilitas yang dimamfaatkan manusia, hanya pengabdian dan penghambaan diri yang dituntut Oleh Allah swt kepada manusia sebagai perwujudan rasa syukur atas segala nikmat yang dinikmati oleh manusia. Enggan beribadah, tidak mau tunduk dan patuh dengan ketentuaan Allah sama halnya dengan menyombongkan diri kepada Allah, pernahkah kita menghitung berapa banyak perintah Allah yang sudah dilanggar? Iblis hanya sekali melanggar perintrah Alllah diganjar dengan sanksi yang sangat luar biasa, lalu bagaimana pula dengan kita yang terus-menerus melanggar perintah Allah?
Egoisme merupakan satu sikap Iblis yang ditularkan kepada ummat manusia dengan tujuan menghancurkan manusia, egoisme merupakan modal kebinasaan dalam kehidupan ummat manusia. Hadih maja telah memberikan pesan yang sangat tajam tentang bahaya dari sifat ego, ujub sum’ah riya teukaboe, sinan yang leu ureung binasa (ujub dan sum’ah, riya dan takabur, faktor inilah yang membinasakan manusia). Egoisme merupakan sikap batin yang tidak mau mengakui kebenaran dan eksistensi pihak lain, baik itu dengan terhadap sang khaliq ataupun sesama makhluk.
Sejarah telah mencatat bahwa orang-orang yang sombong, angkuh dan congkak pasti akan berakhir dengan kehancuran, Fir’aun misalnya, keran egois ia mendakwakan dirinya sebagai tuhan dan meminta rakyatnya untuk menyembahnya, namun walhasil ia tenggelam di laut merah sebagai makhluk yang hina. Qarun, dia terkenal sebagai seorang jutawan ternama, sanggup menghafal Taurat bahkan masih memiliki peratalian saudara dengan Nabi Musa, namun karena kesombongan dirinya karena ia ditelan oleh bumi sekaligus dengan kekayaan yang ia banggakan itu, dalam sejarah Aceh, diceritakan bahwa dulunya ada seorang Raja yang bernama Raja Siujud dengan julukan kebai sihee (kebal dengan Ilmu sihir), menurut sahibul hikayah bahwa ia melawan perintah Allah dengan hendak mengawinkan putrinya sendiri, ia sombong dengan melawan ketentuan nash yang sharih, akhir perjalanan hidupnya tewas dengan timah panas.
Allah akan membinasakan mereka-mereka yang sombong dan angkuh, ending kehidupan mereka selalu berakhir dengan kehancuran. Sekarang, apakah kita akan bernasib sama seperti mereka, tentu tidak tertutup kemungkinan sama jika sifat kita sama seperti mereka-mereka tersebut, hal serupa akan turut kita alami jika kita masih bangga dengan kesombongan dan keangkuhan, masih tertutup mata dan hati untuk menerima kebenaran dan kabaikan, masih senang dengan kesenangan melanggar perintah Allah swt. Belajar dari sejarah orang-orang ini tentu akan lebih bijak, serta berupaya melepaskan diri segala bentuk kesombingan dan keangkuhan yang dapat mengundang bala dan malapetaka.
Jika ditinjau lebih jauh mangapa MoU RI dan GAM bisa tercapai, mungkin salah satu jawabannya bahwa kedua belah pihak yang bertikai tidak lagi mempertahankan ego mereka masing-masing, kedua belah pihak mau mengalah dan mundur demi untuk menatap masa depan yang lebih baik, kedua belah pihak tidak lagi bangga dengan kesombongan masing-masing, dengan faktor inilah kedua belah pihak rela menghentikan pertikaian dan duduk bersama untuk hidup berdamai. Dalam konteks menjaga perdamaian yang telah dicapai, kesombongan dan keangkuhan merupakan sebuah faktor penghancur perdamaian yang telah susah payah dicapai.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tuliskan tanggapan anda,,dan saya ucapkan Terimakasih