08 Juli 2019

Mencari Nama


Apalah arti sebuah nama, demikian kita sering mendengarnya dalam kehidupan, sering pula orang menyebut bahwa nama adalah do’a. Bahkan, jika anak baru lahir orang tuanya kalang kabut mencari nama cantik yang akan disematkan kepada anaknya. Nama merupakan identitas yang dimiliki seseorang, semua kita pasti memiliki nama. Di samping itu, sering pula kita mendengar orang mengatakan “jangan mencari nama”. Mencari nama sama artinya ingin terkenal atau dikenal, tetapi mencari nama nilai rasa dalam penyebutannya masih tergolong halus dibandingkan dengan istilah “mencari muka”, padahal keduanya sama-sama bermakna ingi terkenal. Satu sisi, mencari nama atau ingin dikenal merupakan salah satu kebutuhan manusia yaitu kebutuhan akan eksistensi diri. Kebutuhan ini tentu akan diusahakan oleh setiap manusia dengan menggunakan berbagai macam cara. Lalu, bagaimana kita belajar mencari nama.

Berkenaan dengan “mencari nama” alias ingin terkenal Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Nyanyian sunyi seorang bisu memberikan pelajaran bagi kita. Nyanyian sunyi seorang bisu awalnya merupakan catatan harian Pram ketika menjalani masa hukuman penjara tanpa pengadilan di Pulau Buru. “Nama adalah bangunan atas hasil karya, orang tak perlu mencari-carinya” itulah pesan Pram dalam bukunya itu, pesan ini muncul sebagai jawaban atas pernyataan anaknya dalam surat yang dikirim kepadanya di Pulau Buru, “Titiek sangat bangga mempunyai ayah seperti Ayahanda, Ayahanda adalah seorang yang ternama Titiek ingin mencari nama seperti Ayahanda”, ujar anaknya dalam surat tersebut.

Dalam surat balasannya yang tidak pernah tersampaikan kepada anaknya karena kondisi Pulau Buru, Pram menegaskan “Nama bukan dicari, dia hanya imbalan. Kalau kau memberikan hasil kerjamu pada seseorang dan orang itu suka, engkau pun akan mendapat nama dari dia. Nama adalah produk sosial, juga dibutuhkan ausdauer (daya tahan) untuk mempertahankannya”. Mencermati surat balasan Pram, nama merupakan kontruksi yang dibangun masyarakat atas apa yang telah dilakukan, baik itu buruk maupun baik.

Nama sebagai imbalan yang diberikan masyarakat tidak dapat diperjual belikan, ia akan sangat tergantung dari apa yang telah dilakukan, baik itu perbuatan baik maupun jahat. Sebagai contoh misalnya, nama Ulama yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang yang alim tentu tidak dapat dibeli, pemberian nama Ulama telah melewati beberapa tahap yang tidak pernah tertulis dalam masyarakat, tetapi seseorang yang telah diberi nama dengan ulama telah melewati tahap itu.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah berpesan bahwa Allah tidak melihat bentuk/postur, ketampanan dan kecantikan tetapi Allah melihat amal kita. Artinya, tidak perlulah kita mencari nama dengan mengumbar sensasi, cukup berkarya memberikan yang terbaik, sebab disanalah kita akan mendapat imbalan, baik di mata manusia maupun dalam pandangan Allah. Pepatah arab mengatakan “al-khaalif yu’raf”, ingin terkenal lakukan hal-hal yang sensasional, hal sensasional itu hendaknya kita maknai dengan karya nyata yang kita lakukan.

Ada karya sejarah akan mencatatnya, sebut saja Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali yang selalu disebut-sebut orang hingga sekarang, beliau telah meninggalkan karya besar yaitu kitab ihya al-ulum ad-din, Tengku Chik Pante Kulu yang selalu namanya disebut-sebut oleh kawan dan ditakuti lawan karena mahakarya hikayat prang sabi yang mampu menggugah semangat jihad, masih banyak contoh-contoh orang terkenal lainnya karena karya mereka. Untuk itu, jangan terlalu banyak bicara, banyak cerita, mencari nama bukan dengan banyak bicara, mencari nama dengan berkarya, berkarya untuk kebaikan ummat. Selamat berkarya. 

Pesan Arafah



Saudara kita yang berkesempatan melaksanakan Ibadah Haji akan melaksanakan puncak Ibadah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu pelaksanaan wukuf di ‘Arafah. Wukuf di Arafah merupakan puncak dari Ibadah Haji, bahkan Rasulullah menyatakan bahwa haji itulah wukuf di Arafah “Alhajju ‘Arafah”. “Haji adalah  (wukuf) di Arafah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga Saudara kita yang melaksanakan Ibadah Haji tahun ini menjadi Haji Mabrur. Wukuf di Arafah sebagai miniatur padang mahsyar memberikan pesan penting bagi kita dalam menjalankan kehidupan di dunia fana ini.


Dalam kajian fiqih, wukuf didenisikan berhenti di Arafah (nama tempat yang letaknya kurang lebih 20 km dari kota Mekkah) pada tanggal 9 Dzulhijah mulai tergelincir matahari hingga terbit fajar pada tanggal  10 Dzulhijah. Saat itu, lautan manusia berkumpul bermunajat kepada Allah mengharapkan keampunan dengan membaca amalan-amalan yang disunnatkan sesuai dengan petunjuk syariat. Lautan manusia saat wukuf merupakan miniatur Padang Mahsyar saat manusia menunggu mahkamah rabbul jalil mempertanggungjawabkan amalan mereka di dunia. Wukuf ‘Arafah menjadi cerminan lenyapnya egoisme manusia dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, manusia sama-sama menghadapkan diri pada pencipta Alam semestas yang menguasai jagad raya ini.

Salah satu penyebab rusaknya tatanan kehidupan dalam masyarakat adalah egoisme yang lahir dari berbagai dimensi dengan kelebihan yang dimiliki serta perbedaan yang selalu ditonjolkan, akibatnya ukhuwah (persaudaraan) menjadi renggang. Berkaitan dengan pentingnya persaudaraan Allah sebutkan dalam surat Al-Hujurat ayat 11 “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara mereka itu, dan takutlah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. Oleh karena itu, pelaksanaan wukuf Arafah hendaknya dapat memotivasi kita semua untuk saling menjaga persaudaraan sesama Muslim, bahwa tidak ada perbedaan pejabat dengan rakyat, kaya dan jelata, Arab atau ‘Ajam, yang menjadi perbedaan adalah kualitas ketaqwaan, demikian disebutkan Allah dan surat Al-Hujurat ayat 13. Berkenaan dengan itu pula, Rasulullah berpesan bahwa “”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati kalian” (HR. Muslim).

Dalam kenyataannya, berdasarkan berita dari berbagai media lokal baik cetak ataupun online tentang huru hara (konflik) yang terjadi di bumi Serambi Mekkah, konflik yang menelan korban manusia, bahkan sampai menghilangkan nyawa. Konflik yang terjadi kadang hanya karena persoalan sepele, tidak heran pula kadang yang terlibat adalah bersaudara. Ini menunjukkan bahwa nilai persaudaraan yang terbina dalam masyarakat kian pudar, nilai ukhuwah sebagai pondasi persatuan dan kesatuan telah ditinggalkan. ibarat pepatah ”gaseh ka u blang sayang ka u glee” (kasih-sayang telah hilang). Kita semua berharap bahwa konfilk yang terjadi dengan berbagai latarbelakang penyebabnya dapat segera berakhir, serta jalinan ukhuwah sebagai modal persatuan akan dapat terwujud dalam upaya menciptakan masyarakat Aceh yang tamadun.

Ketika Haji Wada’, Rasulullah menyampaikan khutbah fenomenal yang tercatat dalam sejarah sebagai khutbah ‘Arafah, Rasulullah berpesan “Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi”. Khutbah Rasulullah ini menjadi isyarah untuk menjaga persatuan dengan mengedapkan persaudaraan serta meninggalkan tradisi jahiliyah, yaitu saling dendam. Sebab dendam yang tersemat dalam hati manusia merupakan salah satu usaha syaitan dalam menghacurkan kehidupan manusia. Tidak hanya menjaga persatuan, Rasulullah juga berpesan tentang larangan membunuh jiwa dan mengambil harta orang lain, kewajiban meninggalkan tradisi Jahiliyah, mewaspadai gangguan syaitan dan kewajiban menjaga Agama, larangan mengharamkan yang dihalalkan begitu sebaliknya, kewajiban memuliakan wanita (Isteri), kewajiban berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, dan menjaga persaudaraan.

Berkenaan dengan amal kebaikan, ketika tiba tanggal 9 Dzulhijjah bagi kita yang tidak berhaji dianjurkan untuk melakukan puasa yang disebut dengan puasa ‘Arafah, demikian diwasiatkan Rasulullah dalam sabdanya “Puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa ‘Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Selain berpuasa, umat Islam digalakkan memperbanyakkan amalan salih seperti solat sunat tahajud, bersedekah, membaca al-Quran dan menyeru kepada makruf dan mencegah kemungkaran. Perlu diinsafi bahawa setiap amalan yang dilakukan pada hari-hari berkenaan akan digandakan ganjaran pahalanya oleh Allah SWT.

Ibnu Abbas pernah menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, ”Tiada suatu hari pun amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Sahabat bertanya, “Adakah itu termasuk juga berjihad pada jalan Allah?” Jawab Baginda, “Tidak termasuk berjihad pada jalan Allah melainkan orang yang keluar dengan seluruh jiwa raganya dan tidak membawa pulang apa-apa pun”. (HR Bukhari) Dalam hadis lain, Rasulullah s.a.w. juga bersabda, “Tiada suatu hari pun dalam setahun yang amalan kebaikan padanya mempunyai kelebihan melainkan pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Oleh itu, hendaklah kamu memperbanyakkan zikir, tahlil, takbir dan tahmid”. (HR Ahmad), bahkan dalam tradisi Dayah Aceh dilaksanakan suluk untuk jangka waktu sepuluh hari terhitung mulai tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. 

Sebagai miniatur kiamat, hendaknya wukuf di ‘Arafah dapat memberikan spirit bagi kita semua bahwa pemegang kekuasaan mutlak adalah Allah SWT, jangan pernah melawan sang khaliqul ‘Alam dengan segala kelebihan yang ada pada kita, baik itu berupa intelektual yang cerdas, harta yang melimpah dan jabatan tinggi yang kita sandang. Tetapi bagaimana mengelola kelebihan itu semua untuk menjadi amal kebaikan yang akan mengantarkan kita menjadi manusia kamil sebagai modal meraih tempat layak di sisi-Nya.

29 Juli 2015

Ramadhan dan Kinerja Birokrasi

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan pendidikan dan media metamarfosis manusia menjadi insan baik dengan jalan taqwa, banyak hikmah yang dapat dipetik dengan momentum ramadhan, baik untuk pribadi masyarakat dan organisasi. Akhir Ramadhan, semuanya diharapkan menjadi lebih baik dan kebaikan tersebut hendaknya menyeluruh dalam segala sendi kehidupan dan langgeng meskipun Ramadhan telah berlalu. Jika direnungi dengan seksama, kehidupan kita dapat diperbaiki dengan mengambil hikmah dari puasa Ramadhan dengan benar-benar menjadikan puasa sebagai bulan evaluasi dalam menata ulang kehidupan menjadi lebih baik. Tulisan singkat ini mencoba mencari relevansi puasa Ramadhan dan kesalehan birokrasi. Dengan kata lain, puasa Ramadhan dengan sejuta hikmah di dalamnya dapat dijadikan motivasi menuju kesalehan birokrasi.
Birokrasi yang dalam bahasa Inggris disebut bureaucracy berasal dari kata bureau (berarti: meja) dan cratein (berarti: kekuasaan), maksudnya adalah kekuasaan berada pada orang-orang yang berada di belakang meja. Menurut Bintoro Tjokroamidjojo (1984) ´Birokrasi dimaksudkan untuk mengorganisir secara teratur suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh banyak orang. Menurutnya, tujuan dari adanya birokrasi adalah agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat dan terorganisir. Bagaimana suatu pekerjaan yang banyak jumlahnya harus diselesaikan oleh banyak orang sehingga tidak terjadi tumpang tindih di dalam penyelesaiannya, itulah yang sebenarnya menjadi tugas dari birokrasi. Lalu, apa pula makna dari kesalehan birokrasi? Dalam kamus bahasa Indonesia, kesalehan diartikan sebagai ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah dan kesungguhan menunaikan ajaran agama yang tercermin pada sikap hidupnya, kesalehan birokrasi dapat dipahami sebagai sikap ketaatan penyelenggara birokrasi dalam melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkan, tidak melakukan penyelewengan dan berkomitmen melayani. 
Puasa merupakan media untuk mendidik manusia menjadi hamba-hamba yang bertaqwa (Q. S Al-Baqarah; 183), ini adalah harapan tertinggi yang selalu didambakan dalam menjalankan ibadah puasa. Jika aparat birokrasi berhasil melaksanakan puasa dengan sempurna serta menjadi orang-orang yang bertaqwa, maka kesan birokrasi yang selama ini belum maksimal berperan akan berubah sesuai dengan yang diharapkan, serta amaran Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik akan dapat dilaksanakan dengan maksimal. Singkatnya, kesalehan birokrasi merupakan sebuah keniscayaan dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, kesalehan birokrasi tidak akan terwujud jika para birokratnya bukan orang-orang taqwa. Sejarah telah mencatat bahwa orang-orang taqwa-lah yang mampu menciptakan kesalehan birokrasi.

Rasulullah SAW pernah mengirim Abdullah bin Rawahah ke Khaibar (daerah Yahudi yang tunduk kepada kekuasaan Islam) untuk memungut kharaj dari hasil tanaman kurma mereka. Rasulullah SAW telah memutuskan hasil bumi Khaibar dibagi dua; separuh untuk kaum Yahudi sendiri yang mengolahnya dan separuh lagi diserahkan kepada kaum Muslim. Ketika Abdullah bin Rawahah sedang menjalankan tugasnya, orang-orang Yahudi datang kepadanya, mereka mengumpulkan perhiasan isteri-isteri mereka untuk menyuap Abdullah bin Rawahah. Mereka berkata,”Ini untukmu dan ringankanlah pungutan yang menjadi beban kami, bagilah kami lebih dari separuh”. Abdullah bin Rawahah menjawab, ”Hai orang-orang Yahudi, dengarkanlah! Bagiku, kalian adalah makhluk yang paling dimurkai Allah. Aku tidak akan membawa perhiasan itu dengan harapan aku akan meringankan pungutan yang menjadi kewajiban kalian, suap yang akan kalian berikan ini sesungguhnya merupakan harta haram, sungguh kami tidak akan memakannnya. ”Mereka kemudian berkomentar, ”karena sikap seperti inilah langit dan bumi ini akan tetap tegak”.

Sejarah juga mencatat bahwa khalifah Umar bin Khattab membuat keputusan yang mengharuskan para pejabat negara untuk diketahui dulu jumlah harta kekayannya tatkala memulai menjabat, kemudian pada akhir masa jabatan harta kekayaan dihitung kembali. Jika terdapat selisih setelah dikurangi dengan gaji atau tunjangan selama kurun waktu jabatannya, maka Umar bin Khattab merampas paksa kelebihannya dan diserahkan ke Baitul Mal. Khalifah Umar bin Khattab melarang seluruh pejabat negara untuk berbisnis dan sejenisnya, serta memerintahkan mereka mencurahkan seluruh kemampuan melayani masyarakat. Khalifah Umar bin Khattab pernah merampas separuh keuntungan dari penjualan kambing gembalaan anaknya yang bernama Abdullah, kemudian beliau menyerahkannya kepada Baitul Mal. Beliau berpendapat bahwa anaknya telah mengembalakan kambingnya di padang gembalaan milik negara yang subur, sehingga kambingnya menjadi gemuk. Dua kisah ini cukup memberikan pelajaran bahwa hanya orang-orang taqwa yang mampu menjalankan birokrasi sesuai dengan ketentuan dan tidak bertentangan dengan aturan Agama, iklim kesalehan birokrasi akan tercipta jika semua perangkat birokrasi diisi oleh orang-orang yang bertaqwa.

Puasa merupakan ibadah sirriah (rahasia), ibadah yang hanya diketahui oleh Allah dan hamba yang melaksanakan puasa, puasa hanya mampu dilaksanakan dengan sempurna oleh orang-orang yang beriman, orang yang menumbuhkan sikap ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat Allah, jika tidak mampu melihat Allah, yakinlah bahwa Allah melihatnya. Puasa diserukan kepada orang-orang beriman yang berkomitmen melaksanakan segala perintah Allah, menjauhi setiap larangan baik dalam berbagai kondisi dan situasi (sirran wa ‘alaniyah). Orang yang mampu menjalankan ibadah sirriah dengan sempurna merupakan orang yang telah mampu mengendalikan diri dan terbebas dari keterkaitan pengawasan luar. Dalam birokrasi pernah digagas sebuah sistem pengawasan internal yang dinamakan dengan Pengawasan dengan Pendekatan Agama (PPA), PPA dimaksudkan menjadi sarana kontrol diri (self control) dan menjadi prilaku yang melekat, membudaya serta menjadi kebutuhan dalam kehidupan bangsa. PPA merupakan pengawasan internal yang mengedepan pendekatan Agama, mengedepankan pendekatan imani dan ketaqwaan, sebab orang yang beriman dan bertaqwa memiliki prinsip bahwa kemanapun dan dimanapun berada akan tetap dalam pengawasan Allah yang Maha melihat dan Maha mengetahui.

Diharapkan spirit ibadah puasa sebagai ibadah rahasia akan menumbuhkan semangat birokrasi dalam mengendalikan diri, tidak berbuat curang dan tetap dalam aturan dan ketentuan yang berlaku. Di samping itu, puasa juga diharapkan mampu memotivasi setiap awak birokrasi menjadi manusia yang mampu berprilaku hemat dan efisien dalam membelanjakan setiap uang Negara (money follow fuction) serta peduli dalam melayani masyarakat.  Amrizal J. Prang pernah menyinggung tentang perilaku masyarakat Aceh pasca Mou Helsinki, terutama perilakui pejabatnya sebagai bahagian dari birokrasi dalam tulisan “Homo Arbaicus Aceh” (serambi 30/7/2013). Semoga spirit ramadhan akan mengubah wajah birokrasi Aceh menjadi lebih baik, bukan wajah “homo arbaicus” yang memiliki kepribadian ganda tetapi hidup dalam satu jiwa, begitu boros dan tidak peduli (jika mempergunakan fasilitas Negara) satu wajah lagi begitu hemat dan memiliki kepedulian sangat tinggi, bersemangat dan tidak bemalas-malasan (hanya untuk urusan pribadi dan keluarga).

Hal penting lain dari nilai puasa yang dapat dijadikan spirit menuju kesalehan birokrasi adalah disiplin, ibadah puasa melatih kita untuk berdisiplin, baik saat waktu imsak tiba, berbuka dan menjaga puasa dari hal-hal yang dapat membatalkannya, baik batal puasa maupun batal pahalanya. Sebab kedisiplinan merupakan syarat mutlak birokrasi dalam mengoptimalkan pelayana prima kepada masyarakat, disiplin tidak hanya dipahami dalam hal datang tepat waktu serta pulang tepat waktu, tetapi juga harus diterjemahkan dalam memberikan pelayanan dan melaksanakan tugas-tugas Negara. Jangan pernah mempergunakan jam kantor untuk kepentingan keluarga, sebab kita tidak pernah bersedia waktu keluarga dipergunakan untuk kegiatan kantor.


Indikator kesalehan birokrasi dapat dilihat dari beberapa sikap yang ditunjukkan oleh pelaku birokrasi baik pada tataran pejabat maupun bawahan, diantaranya adalah tanpa pamrih dan tulus dalam melayani. Sebelum reformasi birokrasi digulirkan kesan terhadap lembaga pemerintah dan orang-orang yang bekerja didalamnya adalah “selalu mempersulit”, bahkan ada anekdot yang mengatakan “jika ingin ber-urusan lama, maka ber-urusanlah dengan Instansi Pemerintah”. Semoga Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Desain Reformasi Birokrasi 2010 – 2015 dapat dilaksanakan dengan memetik beberapa hikmah dan pelajaran yang terkandung dalam ibadah puasa, semoga good governance dan clean governance akan segera dapat terwujud, amin. 

Menggagas Dayah Bahari

Selamat hari Nelayan, semoga Nelayan kita hidupnya lebih sejahtera, dikaruniakan rizki oleh Allah tidak hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga diberikan kelebihan sehingga dapat membiayai pendidikan anak-anak mereka, baik di dayah maupun di sekolah. Tulisan ini sebagai apresiasi peringatan hari nelayan yang diperingati setiap tanggal 6 April, dengan satu harapan bahwa para Nelayan di negeri ini lebih sejahtera dengan anugerah hasil laut yang melimpah, serta dukungan regulasi yang kuat dalam menjembatani terwujudnya kesejahteraan. Tulisan ini fokus bagaimana menggagas lahirnya Dayah Bahari, dayah yang lahir dengan potensi alam pesisir sebagai ladang/media mencari rizki para nelayan. Mengapa perlu digagas dayah bahari? Franky Sahilatua menjawab dalam lagunya perahu retak,di atas tanahku, dari dalam airku tumbuh kebahagiaan, di sawah kampungku, di jalan kotaku terbit kesejahteraan”. Ini bermakna bahwa negeri ini adalah negeri yang kaya, apalagi memiliki kawasan pesisir sangat luas dengan garis pantai mencapai sepanjang 81.000 km.

Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan, Rokhmin Dahuri sangat mendukung lahirnya Pesantren (baca; dayah) Bahari “Indonesia sebaiknya mengembangkan pesantren bahari. Sebab, sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, kekayaan laut Indonesia hingga kini belum dioptimalkan'' (Republika, (29/12/2013). Kementerian Agama RI mencoba menggagas lahirnya Pesantren Bahari, "Potensi lokal pesantren di wilayah perikanan dan kelautan ini perlu dikembangkan dan dibantu," Demikian harapan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren kementerian Agama, Ace Saepudin (Republika, 26/12/2013). Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren yang baru, Mohsen Al-Idrus mengatakan bahwa Kementerian Agama telah bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko-PMK) untuk mengembangkan pondok pesantren maritim. Objek dari kerja sama ini adalah pesantren yang berada di wilayah pesisir (www.kemenag.go.id).
Dayah bahari merupakan dayah yang letak geografisnya berada tidak jauh dari laut atau yang memiliki kegiatan produksi di bidang kelautan dan perikanan serta melaksanakan pelatihan kelautan dan perikanan, baik formal maupun non formal. Pengembangan pesantren bahari dikarenakan dari komunitas pesantren pesisir inilah masyarakat Muslim tradisional menjaga potensi Perikanan dan kelautan, tidak hanya mengembangkan pemahaman agama tapi juga pengetahuan potensi ekonomi perikanan dan kelautan di masyarakat pesisir.
Kaitannya dengan Aceh, garis pantai pesisir Aceh mencapai 1.660 km, memiliki potensi dan kekayaan sumber daya perikanan, luas sektor perikanan mencapai 56.329 Ha (Dinas perikanan dan kelautan, 2012) yang terdiri dari lahan tambak, kolam, jaring apung dan keramba. Kekayaan alam pesisir yang begitu melimpah menjadi modal penting dalam pengembangan sektor pendidikan, terutama pendidikan dayah. Potensi alam tersebut jika dikelola dengan maksimal akan dapat menopang keberlangsungan dayah wilayah pesisir, sehingga akan membantu menciptakan kemandirian dayah dengan sokongan potensi wilayah sekitarnya. Berdasarkan data EMIS Pondok Pesantren pada Kanwil Kementerian Agama provinsi Aceh tahun 2012, jumlah dayah di Aceh mencapai 1.132, sebahagian dari dayah tersebut terletak di kawasan pesisir. Melihat potensi yang begitu besar dengan tujuan mulia mewujudkan kemandirian dan keberlangsungan dayah, maka sudah sepatutnya pemerintah Aceh berpikir serius mengembangkan program “Dayah Bahari”.

Dayah Bahari adalah upaya melepaskan ketergantungan dayah kepada bantuan pemerintah dengan memafaatkan potensi alam sekitar (kawasan pesisir), guna pemberdayaan ekonomi menuju dayah yang mandiri. Ini tidak akan terwujud apabila PA (Pemerintah Aceh) tidak benar-benar serius mendorong dayah menuju kemandiriannya, ketika kita membaca kembali RPJM Aceh 2012 – 2017 tentang pendidikan dayah, tidak ditemukan upaya serius pemerintah dalam memberdayakan dayah, pemerintah hanya fokus pada peningkatan daya tampung dayah yang terakreditasi sebanyak satu ruangan untuk masing-masing dayah, peningkatan jumlah dayah yang terakreditasi, peningkatan kualitas guru/teungku, dan pendistribusian guru secara merata (RPJM Aceh, 100). Sejatinya upaya menciptakan kemandirian dan pemberdayaan ekonomi pada dayah juga menjadi target utama pembangunan bidang pendidikan dayah. Saya rasa belum terlambat jika Pemerintah Aceh berupaya kembali menemukan strategi membangun dayah mandiri, salah satunya adalah memamfaatkan potensi maritim untuk mengembangkan dayah bahari.

Instansi terkait semisal Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh (BPPD), Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota benar-benar memberikan perhatian serius dalam menghadirkan dayah bahari di Aceh, apalagi ini merupakan program Nasional yang digagas Kementerian Agama dengan Kemenko – PMK. Sudah sepatunta program ini disambut dengan aksi cepat dalam mewujudkan dayah yang mandiri dan lepas dari intervensi (politik) pemerintah, apalagi dengan iklim sekarang yang seakan-akan lembaga pendidikan Agama hanya menjadi “warga kelas dua”. Setiap kabupaten/kota segera melakukan pemetaan potensi pesisir untuk pengembangan dayah bahari, disamping itu partisipasi aktif lembaga dayah dan masyarakat akan menjadi kunci utama dalam menyukseskan gagasan ini. Untuk pilot project, setiap kabupaten/kota yang memiliki potensi daerah pesisir menentukan satu lokasi pengembangan dayah bahari, mereka difasilitasi mulai tahap pertama hingga pemasaran hasil. Di samping itu, peran penyuluh perikanan dan kelautan akan dapat dioptimalkan pada program ini. Jika program ini berjalan, maka banyak instansi pemerintah yang dapat dilibatkan di dalamnya, diantaranya adalah Balai Latihan Kerja (BLK), Badan Pemberdayaan Masyarakat (BMP), serta perusahan perusahan dengan dukungan dana CSR (corporate social responsibility). 

Bertahap dan kontinu, itulah yang harus diterapkan dalam menggagas lahirnya dayah bahari, pelan tapi pasti potensi ekonomi daerah pesisir akan bangkit, nelayan akan dapat tersenyum dengan kesejahteraan yang lebih meningkat serta anak-anak mereka tetap bertahan dalam pendidikan, terutama pendidikan dayah. Selama ini, faktor ekonomi selalu menjadi persoalan mengapa kadang pendidikan anak-anak diabaikan, termasuk juga kadang menenggelamkan marwah Teungku dayah karena kondisi yang telah dikondisikan, program dayah bahari salah satu upaya menghilangkan anggapan bahwa lembaga dayah tidak mandiri, dan selalu bergantung pada pemerintah. Apalagi ada upaya-upaya tertentu yang mencoba menyeret Teungku dayah dalam “lingkaran merah” birokrasi pemerintah yang menenggelamkan marwah mereka.


Sudah saatnya kita berpikir kritis, mengevaluasi setiap program pengembangan dayah Aceh, sehingga kita dapat menemukan program yang tepat dalam upaya menciptakan lembaga pendidikan Agama (dayah) yang mandiri serta sunyi dari intervensi politik kepentingan yang sifatnya berwaktu, politik yang kadang hanya memamfaatkan kharismatik para Ulama dayah, jika kepentingan telah terwujud maka dayah pun terabaikan. Dayah adalah benteng pertahanan dari serangan aliran sesat dan misionaris, jika dayah telah mandiri maka kiprahnya akan lebih pasti, dayah tidak hanya lembaga pendidikan sebagai benteng akidah tetapi juga diharapkan menjadi agen pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Do it or never! 

Komitmen Hidup; Belajar dari Takbiratul Ihram

Takbiratul ihram merupakan salah satu rukun shalat, awal permulaan memasuki shalat sebagaimana definisi dari shalat itu sendiri, yaitu perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam lengkap dengan syarat dan rukunnya. Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibary dalam Fathul Mu’in menyebutkan bahwa Takbiratul ihram harus dilakukan bersamaan dengan niat (shalat), karena takbir adalah rukun shalat yang awal, maka wajib bersamaan dengan niat. Imam Nawawi dalam Kitab Raudhatut Thalibin menyebutkan bahwa diwajibkan memulai niat dengan hati bersamaan dengan takbir dengan lisan, Al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mahamiliy dalam kitab Al-Lubab fi al-Fiqh asy-Syafi'I menyebutkan bahwa niat bersamaan dengan takbir.

Niat shalat yang dilakukan bersamaan dengan Takbiratul ihram wajib memebuhi unsur – unsur qasad (menyengaja mengerjakan shalat), ta’radh (menyebutkan lafadh fardhu) dan ta’yin (menentukan waktu shalat). Ulama fiqih menjelaskan secara mendalam tentang kaifiyah (tatacara) pelaksanaan takbiratul Ihram, mereka membaginya dalam tiga kategori, pertama muqaranah kamaliyah yaitu saat melakukan Takbiratul ihram membayangkan pelaksanaan keseluruhan rukun-rukun shalat. Kedua, muqaranah bashtiyah dan ketiga muqaranah ‘Urufiyah. Setidaknya unsur qasad, ta’radh dan ta’yin masuk saat takbiratul Ihram.

Takbiratul ihram adalah takbir yang mengharamkan perbuatan selain perbuatan shalat, setelah takbiratul ihram dilaksanakan maka yang boleh dilakukan adalah perbuatan shalat, selain dari itu maka batal shalatnya. Takbiratul ihram memberikan pelajaran penting bagaimana menerapkan komitmen dalam hidup ini, komitmen yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar melakukan sesuatu sesuai dengan aturan yang telah diiqrarkan.

Dua kalimah syahadat telah kita iqrarkan, maka pantang melakukan hal-hal yang merusak komitmen kita sebagai muslim. Sebagai muslim sejati, pantang meninggalkan dunia kecuali mati sebagai muslim sejati, sebab komitmen muslim sejati adalah hidup mulia atau mati syahid. Komitmen hidup merupakan salah satu manivestasi keteguhan hati (istiqamah) dalam menjalani kehidupan, baik itu berbentuk kesenangan atau pun kemalangan. Keteguhan hati tidak akan pernah terwujud kecuali lahir dari pribadi-pribadi yang taqwa, pribadi yang selalu menjalankan perintah Allah serta meninggalkan larangan-Nya baik terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi.  

Setelah takbiratul ihram disunnatkan membaca do’a iftitah. Bacaan iftitah pernyataan komitmen seorang hamba kepada sang Khaliq, yaitu komitmen menghadapkan muka (sebagai salah satu anggota mulia) kepada Allah pencipta tujuh petala langit dan bumi. Jika muka sudah tunduk kepada Allah maka anggota lainnya pun akan tunduk, sebab muka adalah anggota mulia. Mengukur kecantikan dan kegantengan seseorang tentu dilihat pada wajahnya, ekspresi baik dan jahat hati seseorang akan tercermin dari wajahnya. Komitmen dalam menjalankan kehidupan ini perlu dipertahankan hingga ajal datang menjemput.


Kita telah menyatakan komitmen untuk hidup berumah tangga lewat aqad nikah, maka jangan pernah sekalipun mencorengnya dengan melakukan tindakan yang merusak komitmen itu seperti talaq atau dhihar (menyamakan anggota tubuh istri dengan mahram suami). Komitmen itu akan terlihat dari prilaku yang berupaya mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, selalu mencari keridhaan Allah dalam hidup berumah tangga, memposisikan diri sesuai dengan tanggungjawab dan kewajiban baik sebagai istri maupun suami. Salah satu penyebab rusaknya rumah tangga adalah karena masing-masing pihak (suami-istri) tidak mengetahui tugas dan kewajibannya (meubalek chap meutuka cok). Rumah tangga yang telah diamanahkan titipan Allah berupa anak, maka jagalah titipan itu dengan menuntunnya pada tempat yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Kita yang menempati posisi sebagai pimpinan masyarakat, maka komitmen untuk menjadi pengayom masyarakat sejatinya perlu dijaga dan dipertahankan. Menjadi pemimpin sejatinya menjadi pelayan bagi yang dipimpin, mendahulukan kepentingan mereka daripada kepentingan pribadi, berusaha mencari sesuatu yang mampu mendorong tumbuhnya kesejahteraan hidup mereka baik untuk menggapai kesuksesan dunia maupun akhirat. Jangan pernah merusak komitmen sebagai pemimpin dengan mengedepankan egoisme dan keangkuhan pribadi dan golongan pendukung, sebab pemimpin sejati selalu memahami dan mengerti bagaimana mencari solusi agar yang dipimpin selalu dalam lindungan Allah SWT. Sebenarnya, semua kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di mahkamah rabbul jalil tentang komitmen kepemimpinan kita itu. Kita memiliki harta, maka akan ditanya darimana harta itu diperoleh serta kemana dibelanjakannya, kita yang memiliki ilmu pengetahuan dan tenaga pasti akan ditanya kemana pergunakannya. Oleh sebab itu, berhati hati dalam menjalankan kehidupan dengan tetap teguh memegang komitmen adalah sebuah keniscayaan sebab manusia tidak memiliki apapun yang dapat dibanggakan di hadapan pencipta alam.

Dalam Al-Qur’an tepatnya dalam surat Al-Baqarah ayat 28 Allah menyindir manusia dengan firmannya “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudia kepada Allah kamu dikembalikan”. Sindiran Allah agar manusia tidak  kufur dalam menjalankan kehidupan ini, sebab manusia tidak memiliki kekuatan apapun. Oleh sebab itu, komitmen hidup untuk menjadi hamba Allah yang selalu taat akan aturan-aturan yang telah digariskan perlu dipertahankan dan dijaga dengan baik.

Komitmen hidup hanya mencari keridhaan Allah dengan menjalankan aturan-aturan syariat dimulai dari paradigma berpikir yang berorientasi akhirat. Jika paradigma berpikir masih bergantung pada selain Allah, baik berupa harta, tahta dan prestise maka akan menenggelamkan semangat untuk berjuang mencari keridhaan Allah. Dalam hidup ini, cobaan pasti tetap ada, apalagi memperjuangkan kebenaran di jalan Allah, Rasulullah telah menegaskan bahwa cobaan hidup yang paling berat dirasakan oleh para Rasul – Rasul, selanjutnya adalah mereka yang berjuang mengikuti jejak – jejak Rasul.

Sebagai manusia yang mendambakan kebahagiaan dunia-akhirat, komitmen pokok sebagai hamba Allah adalah menghambakan diri (ibadah) kepada sang pencipta, jangan mencoreng penghambaan diri kepada sang pencipta dengan fatamorgana dunia yang kadang berbentuk jabatan/kedudukan, harta kekayaan, dan popularitas. Komitmen sebagai hamba Allah perlu dipertahankan sebagaimana kita mempertahankan pelaksanaan shalat setelah dimulai dengan takbiratul ihram. 

Nafsu Mat Tampok

Memilih dan dipilih adalah hak setiap warga Negara yang dijamin dalam Undang-Undang, siapa pun yang ingin mencalonkan diri untuk dipilih asal memenuhi segala ketentuan yang berlaku dipersilahkan dan tidak ada yang melarang. Tulisan ini bukan untuk melarang siapa pun yang akan mencalonkan diri untuk maju pada pemilihan umum Kepala Daerah Tahun 2017, sebab itu adalah hak. Berkaitan dengan hak, sejatinya kita juga tidak melupakan kewajiban, terutama kewajiban jika nanti terpilih, dalam istilah sehari-hari masyarakat Aceh “asai hek na hak”. Semoga tulisan ini menjadi haba peuingat bagi siapa saja yang berniat mencalonkan diri. Terkhusus, tulisan ini juga menjadi haba peuingat bagi pasangan “ZIKIR” yang saat ini masih menjadi orang nomor wahid di Aceh, semoga hadih maja yang sering kita dengar akan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, hadih maja tersebut adalah “meunyoe na ingat seulamat” (jika berhati-hati akan selamat, Insya Allah).   
Syahdan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh bahwa jumlah penduduk miskin di Aceh pada Maret 2014 adalah 18.05 % (881.260 jiwa), sedangkan pada tahun 2013 sebesar 17.60 % (842.420 jiwa), tentunya ada kenaikan meskipun hanya sedikit. Pertanyaan besar akan muncul “mengapa kemiskinan terus meningkat padahal APBA Aceh lebih dari 13 Trilyun?”. Dalam bidang pendidikan, belum tanpa pula hasil yang menggembirakan yang mampu mengangkat derajat Aceh pada level Nasional, baik kualitas para siswa maupun tenaga pendidiknya.  Hal yang paling memilukan sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia bahwa 82 % Mahasiswa baru tidak bisa membaca Al-Qur’an, demikian disampaikan Rektor UNSYIAH (Selasa, 28/7/2015).
Beberapa fakta di atas menunjukkan ada sesuatu yang masih belum optimal diperankan oleh pemimpin kita, belum berperannya mereka dalam mengupayakan kemakmuran dan kesejahteraan serta peningkatan kualitas hidup bagi rakyat dipimpinnya, tentu akan banyak alasan yang dapat diberikan mengapa peran mereka belum optimal. Namun, kita tinggalkan saja alasan-alasan tersebut. Sebab, jika terus saja kita memburu mencari alasan akan banyak “kambing hitam” yang menjadi korban. Janganlah kita menjadi orang-orang yang disinggung dalam hadih maja “kameng glee pajoh jagong, kameng gampong keunong geulawa” (kambing gunung (liar) makan jagung, kambing kampung (jinak) yang terkena hukumannya). Semoga kita semua tidak saling menyalahkan satu sama lain, semua kita tentu memiliki “saham salah” dalam setiap tindakan yang mengakibatkan kemorosotan di Aceh.
Saya masih ingat bahwa ada 21 janji politik yang disampaikan Tim Kampanye "Zikir" dalam 55 kali kampanye pada 22 Maret 5 April 2012 di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Aceh. 21 janji tersebut adalah mewujudkan pemerintah Aceh yang bermartabat dan amanah, mengimplimentasikan dan menyelesaikan turunan UUPA, komit menjaga perdamain aceh sejalan dengan MoU Helsinki, Menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan isalm di semua sektor kehidupan masyarakat, meyantuni anak yatim dan kaum duafa, mengupayakan penambahan jumlah kuota haji Aceh, pemberangkatan jamaah haji dengan kapal pesiar, naik haji gratis bagi anak Aceh yang sudah akil balig, menginventarisir kekayan dan sumber daya alam Aceh, menata kembali sektor pertambangan di Aceh, menjadikan aceh layaknya Brunei Daeussalam dan Singapura, mewudkan layanan kesehatan garatis yang lebih bagus, mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri, pendidikan gratis dari sd hingga perguruan tinggi, memberikan Rp 1 juta/kk/bulan dari hasil dana migas, menggangkat honorer PNS, meningkatkan kesejateraan rakyat Aceh, membuka lapangan kerja baru, memberantas kemiskinan dan menurunkan angka pengangguran, mengajak kandidat lain untuk bersama-sama membagun Aceh. 
Saya yakin bahwa diantara 21 janji ini ada yang sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh, meskipun tidak sedikit pula yang belum terealisasikan. Mengapa 21 program tersebut harus direalisasikan? Jawabannya tentu karena program ini semua telah masuk dalam “janji”, Islam tidak main-main dengan perkara “janji”, Rasulullah mengingatkan bahwa seseorang akan berbalik namanya dari Muslim menjadi Munafik akibat mengabaikan janjinya (lihat sahih bukhari, hadis ke-33). Janji merupakan salah satu upaya untuk menambat hati, sehingga mengabaikan janji akan berakibat pada retaknya ukhuwah dan hilangnya kepercayaan.
Rasanya belumlah terlambat untuk berusaha merealisasikan janji janji yang telah disampaikan, masih ada waktu kurang lebih sekitar dua tahun lagi. Sisa dua tahun ini disamping menyiapkan perbekalan untuk memenuhi nafsu mat tampok juga diprioritaskan untuk mewujudkan semua program yang telah dijanjikan, setidaknya rakyat akan melihat bahwa “ZIKIR” memang berkomitmen untuk menunaikan janji-janjinya itu. Jika penilaian rakyat telah masuk dalam katagori “percaya” maka saya yakin kesempatan kedua akan terbuka di depan mata, begitu pula sebaliknya jika penilaian rakyat masuk dalam katagori “ingkar” maka kesempatan kedua hanya sebuah ilusi belaka.
Berkaitan dengan mengambil simpati rakyat, petuah hadih maja mengajarkan “meunyoe hate kateupeh bu leubeh han dipeutaba” (jika hati telah tersakiti maka makanan basi pun ogah diberikan). Jika hati rakyat telah tersakiti akibat janji yang tak kunjung ditepati maka apapun akan sulit rasanya menggalang ukhuwah untuk membangun kebersamaan dalam mewujudkan masyarakat yang tamaddun, apalagi pendidikan politik rakyat telah masuk dalam katagori “cerdas” sehingga mereka akan mampu menilai siapa yang layak dan berhak.
Saat saya mengaji alif ba tempo dulu guru ngaji saya berpesan bahwa mengaji itu jangan seperti panglima garot (maju ukeu tuwoe dilikot). Begitu pula hendaknya dengan “ZIKIR”, jangan hanya fokus mempersiapkan pesta 2017 dan melupakan kenyataan hari ini, kenyataan bahwa “ZIKIR” adalah orang nomor wahid yang diberikan tugas untuk menakhodai Aceh menuju dermaga bahagia di pulau impian yang katanya hendak disetarakan dengan Brunai Darussalam yang mampu memberangkat haji semua anak Negeri, konon lagi berangkatnya menggunakan kapal Pesiar.
Tulisan ini adalah goresan kesedihan hati melihat pemimpin Negeri yang kehilangan kendali, kendali dalam mengendalikan diri bahwa mereka diserahkan amanah untuk memakmurkan Negeri ini, bukan memperkaya diri atau memperkaya kelompok sendiri. Tulisan ini pula sebagai wujud kegundahan hati melihat pemimpin Negeri sebagai orang yang dipercayai (rakyat) telah mengabaikan janji, melupakan janji yang telah diutarakan sama artinya menjerumuskan diri dalam kemaksiatan (menjadi orang-orang munafik), dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tempat bagi orang-orang ini adalah di dasar neraka (Q.S An Nisa ayat 145).

Khatimah, kaidah ushul fiqh lisan al hal afsah min lisan al maqal (lisan hal lebih afsah dari lisan maqal), kaidah ini bermakna bahwa memberi bukti dengan kenyataan di lapangan akan lebih konkrit dibandingkan dengan hanya menebar janji. Untuk itu, jika pasangan “ZIKIR” ingin kembali menjadi orang nomor satu di Aceh tahun 2017 maka dari sekaranglah saatnya membuktikan bahwa layak kepemimpinan Aceh dilanjutkan satu periode lagi. Perlu diingat, untuk apa berjuang jika hanya untuk menyakiti rakyat, untuk apa berperang jika tanpa tujuan. Sekali lagi, haba peu ingat ini sejatinya menjadi renungan untuk mengoptimalkan diri dalam rangka menebar kemakmuran di bumi Serambi Mekkah yang kita cintai ini.

                                                                                                                        Banda Aceh, 27 Juli 2015 

15 Januari 2015

Partai Allah atau Partai Syaitan



Menjelang penyelenggaraan pesta demokrasi di negeri ini, kata partai makin sering terdengar, bahkan menjadi topik hangat yang selalu diperbincangkan oleh semua kalangan, apalagi dengan pernak-pernik di dalamnya. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata partai diartikan sebagai perkumpulan (segolongan orang) yg seasas, sehaluan, dan setujuan. Dalam Al-Qur’an partai disebut dengan Hizb, oleh Al-Isfahani dalam tafsir Mizan diartikan “Suatu jama’ah yang sangat kuat dan tegas”.





Kita tinggalkan membahas partai yang menjadi peserta dalam pesta demokrasi, fokus kita pada partai yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surat Al-Mujadilah ayat 19 – 22. Dalam ayat tersebut, Allah membagi manusia ini menjadi dua partai atau golongan (hizb), satu partai dinamakan dengan hizbussyaitan (partai Setan) dan satu lagi dinamakan hizbullah (partai Allah). Dua partai ini tentu memiliki identitas yang menjadi ciri utama bagi siapa saja anggotanya dan setiap anggotan wajib memiliki ciri-ciri tersebut. Pertanyaanya sekarang, kita berada pada partai mana, hizbussyaitan atau hizbullah?   

Hizbussyaitan (partai Setan)
Berkenaan dengan partai ini Allah jelaskan pada ayat 19 yaitu “Setan telah menguasai merekalalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi”. Dalam ayat ini dijelaskan tentang ciri dari mereka yang berada dalam partai setan, yaitu dikuasai oleh Setan dan mereka lupa mengingat Allah. Setan adalah makhluk terkutuk (ar-rajim), dia berjanji kepada Allah akan memperdaya anak cucu Adam dari berbagai sudut, dengan harapan bahwa manusia ini akan menjadi pengikutnya.

Sebagai hamba Allah, kita diajarkan untuk setiap saat memohon perlindungan dari godaan Setan yang terkutuk, jika berhasil diperdaya olehnya, petaka besar akan menimpa. Kita tidak lagi mampu membedakan mana yang haq dan bathil, mana yang haram ataupun halal, bahkan kita dibuai untuk selalu mengikuti setiap ajakan dan rayuannya itu, bahkan lebih jauh lagi mengingkari seruan Allah yang diperintahkan, mengkhianati amanah serta melakukan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya. Tak heran jika banyak diantara kita yang berani meninggalkan shalat, berani membunuh, tidak takut mencuri, arogan dengan segala kelebihan yang dimiliki dan mengabaikan setiap amanah-amanah yang dititipkan, baik harta, jabatan dan kekayaan. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk tidak mengikuti jejak-jejak Setan, diantaranya QS. Al-Baqarah  ayat 168 dan 208, Al-'An`am ayat 142, Al-'A`raf ayat 22, Yusuf ayat 5, Al-Kahf ayat 50, Taha ayat 117, Al-Qasas ayat 15, Fatir ayat 6, Yaa-Sin ayat 60, dan QS. Az-Zukhruf ayat 62.   

Lalai dibuai Setan berakibat kepada lupa mengingat Allah (dzikrullah), padahal mengingat Allah merupakan perisai untuk menyelamatkan manusia dunia-akhirat. Bahkan dalam surat Az-Zukhruf; 36 Allah menegaskan “Barang siapa berpaling dari dzikirkepada Ar-Rahman, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang akan selalu menyertainya”. Tentu kesesatan yang nyata dirasakan oleh siapa yang meninggalkan mengingat Allah. Mengingat Allah dalam Al-Qur’an disebut dengan dzikir, secara tajam Dr. H. M. Ruslan, MA menyebutkan dalam bukunya Menyikapi Rahasia Spritualitas Ibnu ‘Arabi bahwa definisi dzikir dalam Al-Qur’an adalah “pikiran, perasaan, yang tajam dan kokoh serta perhatian yang sungguh-sungguh dan terkonsentrasi penuh kepada Allah yang diwujudkan dalam ungkapan, sikap dan prilaku. 

Dua kriteria yang telah dijelaskan merupakan identitas dari partai setan, mereka yang memilih parta ini tentu memiliki kriteria ini, dan Allah pastikan bahwa partai setan adalah partai yang rugi. Program program yang lahir dari partai ini adalah program yang selalu menentang Allah, baik itu melalui perkataan, sikap dan tingkah laku. Dalam ayat 20, Allah pastikan bahwa partai setan dengan program menentang Allah tidak akan pernah menang dan akan menjadi partai hina “Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina”.

Hizbullah (partai Allah)
Berkenaan dengan partai ini Allah jelaskan dalam ayat 22 yaitu “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, mereka saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu Bapaknya, Anaknya, Saudaranya atau Keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung”. 
Ayat ini menerangkan bahwa identitas partai Allah adalah beriman kepada Allah dan Rasul, tidak pernah saling kasih-sayang dengan orang yang menentang Allah dan dalam hati telah kokoh dengan nilai-nilai keimanan. Komitmen yang harus dimiliki adalah tidak akan pernah berkasih-sayang dengan pentang-penentang Allah walaupun mereka itu adalah Bapak, Anak, Saudara, dan keluarga. Komitmen ini merupakan sesuatu yang sulit diterapkan, dan ini merupakan salah satu tantangan dakwah yaitu menyampaikan kebenaran kepada orang-orang terdekat, apalagi orang-orang terdekat itu selalu menjadi bahagian penentang-penentang Allah, inilah yang dialami Nabi Ibrahim ketika berhadapan dengan Azar sang Ayah dan Nabi Nuh ketika berhadapandengan Isteri dan anaknya.

Komitmen ini akan tumbuh dan menjadi bukti keimanan kepada Allah dan Rasul, Allah memerintahkan kepada kita jangan mencampur-adukkan kebenaran dan kebathilan (Q.S Al-Baqarah; 42), dan jangan hanya menyuruh kebaikan kepada orang lain sementara kita mengabaikannya (Q.S Al-Baqarah; 44), Rasulullah menyuruh kita menyampaikan kebenaran walaupun pahit. Komitmen ini menjadi penting sebab akan menjadi identitas utama para anggota partai Allah, tidak mengenal kompromi dengan siapa pun yang menentang Allah. Komitmen ini juga menjadi bukti bahwa Allah telah kokohkan keimanan dalam hati, serta dikuatkan mereka dengan berbagai bentuk pertolongan Allah. 

Identitas yang dimiliki mereka adalah wujud iman yang kokoh dalam hati, Allah akan kuatkan mereka dengan pertolongan-Nya, Allah akan tempatkan mereka dalam syurga, dan yang paling penting adalah Allah telah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah pastikan bahwa partai Allah yang akan menjadi partai pemenang, dengan segala dukungan rahmat dan nikmat dari-Nya.

Untuk itu, pilihan diberikan kepada kita untuk memilih salah satu dari dua partai ini. Sebagai manausia yang masih waras kita akan memilih partai pemenang yaitu partai Allah, memilih partai Allah tentu harus siap menjalankan komitmen-komitmen partai, memiliki nilai identitas yang menjadi ciri utama dari partai. Oleh karena itu, katakan bahwa yang benar tetaplah kebenaran, jangan melakukan pembenaran untuk menutupi kesalahan. Jangan tergoda oleh bujuk rayu setan yang menyebabkan kita tidak lagi berpikir sehat, untuk memilih dan memilah kebenaran dan kebathilan. Selamat berjuang menjadi bahagian dari Hizbullah, Amin.


07 Juni 2014

Persaudaraan



Mengikuti berita dari berbagai media lokal baik cetak ataupun online tentang huru hara (konflik) yang terjadi di bumi Serambi Mekkah, konflik yang menelan korban manusia, bahkan sampai menghilangkan nyawa. Konflik yang terjadi kadang hanya karena persoalan sepele, tidak heran pula kadang yang terlibat adalah bersaudara. Ini menunjukkan bahwa nilai persaudaraan yang terbina dalam masyarakat kian pudar, nilai ukhuwah sebagai pondasi persatuan dan kesatuan telah ditinggalkan, ibarat pepatah ”gaseh ka u blang sayang ka u glee” (kasih-sayang telah hilang). Kita semua berharap bahwa konfilk yang terjadi dengan berbagai latarbelakang penyebabnya dapat segera berakhir, serta jalinan ukhuwah sebagai modal persatuan akan dapat terwujud dalam upaya menciptakan masyarakat Aceh yang tamadun.



Makna Persaudaraan

Bahasa Arab yang bermakna persaudaraan adalah ukhuwwah yang berasal dari kata dasar akhun (saudara kandung), bentuk jamaknya adalah ikhwat dengan makna saudara kandung dan ikhwan dengan makna kawan, demikian tersebut dalam kamus al-munjid fi al-lughah wa al-alam. Ukhuwwah yang biasa diartikan sebagai persaudaraan memberikan kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian dari semua yang bersaudara yang muncul dari adanya persama antara pihak-pihak yang bersaudara. Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ukhuwwah adalah ikatan kejiwaan yang melahirkan perasaan yang mendalam dengan kelembutan, cinta dan sikap hormat kepada setiap orang yang sama-sama diikat dengan akidah Islam, iman dan taqwa, demikian dijelaskan beliau dalam kitab Tarbiyatul Aulad fi al-Islam. Dalam Al-Qur’an kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali, kata ini dapat berarti saudara keturunan, saudara dengan ikatan keluarga, saudara dalam arti sebangsa, saudara semasyarakat walau berselisih paham, dan saudara seagama. Demikian dijelaskan Quraish Shihab dalam buku wawasan Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10 Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara mereka itu, dan takutlah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. Pondasi keimanan merupakan landasan persaudaraan yang kuat, sehingga jika ada pertentangan antara orang-orang mukmin maka tugas orang mukmin lainnya adalah mendamaikan keduanya, memperbaiki kembali hubungan persaudaraan keduanya. Ini menunjukkan bahwa sungguh besar arti persaudaraan sesama mukmin, dan menjadi tugas besar pula mendamaikan orang-orang mukmin yang bertikai dengan saudara-saudaranya. Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda “seorang mukmin terhadap sesama mukmin bagaikan satu bangunan yang setengahnya menguatkan setengahnya, lalu Nabi SAW mengeramkan jari-jarinya” (H.R Bukhari dan Muslim, Lu’lu’ wal marjan no. 1670). Berdasarkan hadist tersebut, jelaslah bahwa persatuan dan kesatuan akan tumbuh dan berkembang jika sesama mukmin saling menguatkan satu sama lain, bagaikan sebuah bangunan yang berdiri tegak dengan ditopang oleh bahagian-bahagian lainnya.

Disisi lain, menjaga persaudaraan merupakan sebuah keniscayaan dengan meninggalkan perkara-perkara yang mampu menenggelamkan semangat ukhuwah dan menyuburkan sifat-sifat kebencian, Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 11 dan 12 mengingatkan tentang beberapa hal yang akan menjadi penyebab rusaknya persaudaraan melalui firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jajdi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, boleh jadi wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar (panggilan) yang buruk, seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang dhalim”. Selanjutnya dalam ayat 12 Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Berdasarkan ayat tersebut, Allah menyebutkan perkara yang mampu menghancurkan persaudaraan, dan sikap ini diperintahkan untuk kita tinggalkan. Diantaranya adalah meninggalkan sikap saling olok-mengolok, mencela orang lain yang akan berakibat pada mencela diri sendiri, memberi gelar (panggilan) kepada orang lain dengan panggilan yang buruk, menjauhi prasangka, mencari-cari kesalahan orang lain serta menggunjing antar sesama. Sikap-sikap ini merupakan perbuatan dosa dan menjijikkan, ibarat memakan daging saudara kita yang sudah mati, tentulah sangat menjijikkan. Jika beberapa hal ini terjadi sebaliknya serta tumbuh subur dalam masyarakat, maka upaya menggalang persatuan dan kesatuan dengan memperkokoh persaudaraan hanya akan meninggalkan kenangan saja, tidak akan pernah dapat diwujudkan.

Disamping itu, kita dianjurkan untuk terbiasa melakukan hal-hal yang dapat mempererat dan memperkokoh ukhuwah, sehingga persaudaraan tetap terjaga dan langgeng. Salah satu diantaranya dalah saling berkasih sayang, berkasih sayang sesama mukmin merupakan identitas yang harus kita miliki jika kita mengklaim diri sebagai ummat Muhammad, ini sesuai dengan firman Allah dan surat Al-Fath ayat 29. Tidak hanya itu, Menjaga silaturrahmi menjadi prioritas dalam kehidupan, ini sesuai dengan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh muttafaqun ‘alaih Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya) hendaknya ia menyambung silaturrahmi”. Demikian pentingnya menjaga silaturrahmi sebab begitu vitalnya fungsi memperkokoh persaudaraan sesama mukmin, bahkan Rasulullah tidak akan mengakui ummatnya siapa yang tidak peduli dengan saudara-saudaranya demikian diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Huzhaifah bin Yaman “Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan termasuk golongan mereka”.

Setelah mengetahui dan memahami urgensi dari menjaga persaudaraan dalam islam, marilah mulai saat ini  kita menjadi pribadi-pribadi yang berkomitmen menjaga dan merawat persaudaraan yang telah terbina selama ini, banyak hal dapat kita lakukan untuk memperkuat persaudaraan sesama mukmin, serta mewariskan kepada anak cucu bahwa ukhuwah islamiyah adalah modal meraih persatuan dalam rangka memperoleh kemenangan. Jangan biarkan persaudaraan kita hancur karena berbeda pandangan politik, jangan biarkan persaudaraan kita pudar karena perbedaan status sosial.

Ketahuilah bahwa dinamikan kehidupan ini merupakan ujian bagi kita untuk menguji bagaimana kita mampu membangun ukhuwah dengan mengenyampingkan perbedaan dan mengedepankan persamaan, terutama persamaan seiman dan sekeyakinan. Ingat pesan orang tua terdahulu bahwa “asai cabok nibak kudee, asai pakee nibak meuseunda” (Borok dan bisul bermula dari gatal, pertengkaran dan perkelahian bermula dari senda gurau”, untuk itu marilah sama-sama kita menjaga diri baik dalam kapasitas sebagai pribadi maupun kelompok untuk saling memahami dan mengerti bahwa persaudaraan lebih berharga dari kedudukan dan jabatan, dan Ukhuwah lebih bernilai dari intan permata. Demi Persaudaraan, selamat berjuang mempertahankannya.